Akhlaqdefault

ADAB BERBICARA

Berbicara adalah cara mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran seseorang kepada orang lain dan menggambarkan apa yang ada dalam pikiran seseorang.

Beberapa adab berbicara dapat dirincikan sebagai berikut:

  1. Berbicara Baik atau Dian

 

 

Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka jangan-lah menyakiti tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah yang baik atau diamlah (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Dari Abi Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan kata-katanya itu. Dan seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa ber-pikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka Jahan-nam dengan kata-katanya itu”.(HR Bukhari, Ahmad dan Malik).

  1. Berbicara dengan Senyum

Dari Ummi Darda’: Adalah Abu Darda’ tidak membicarakan suatu pembicaraan kecuali sambil tersenyum. Aku berkata kepadanya: “Aku khawatir orang-orang akan menganggap kamu orang pandir.” Abu Darda` berkata: “Ketahuilah bahwa tidaklah Rasulullah SAW membicarakan sesuatu, kecuali Beliau tersenyum” (HR Ahmad).

  1. Berbicara dengan Kalimat Thayyibah

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِيعًاۚ إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِينَ يَمۡكُرُونَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ وَمَكۡرُ أُوْلَٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ

Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya naik al-kalimu at-thayyibu dan amal shaleh yang dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur” (Qs. Faathir: 10)

Diantara kalimat thayyibah ada empat (4) kalimat thayyibah yang menurut Rasulullah SAW paling utama.

  1. Subhanallah adalah kalimat tasbih yang artinya Maha SuciAllah.Tasbih dilakukan oleh guntur dan para malaikat, burung-burung,gunung-gunung, apa-apa yang ada di langitdan bumi, tujuh langit dan bumi dan siapa-siapa yang berada di dalamnya. Manusia yang beriman, mencintai Allah dan Rasul-Nya suka bertasbih (Qs. ar-Ra’d: 13, an-Nur: 41, Shad: 18, al-Hadid:1, al-Isra’: 44).
  2. Alhamdulillah adalah kalimat pujian kepada Allah sebagai tanda mensyukuri nikmat karunia-Nya. Allah memerintahkan kita mengucapkan alhamdulillah di waktu pagi dan petang, sebelum matahari terbit, sebelum tenggelam (maghrib), di malam hari dan selesai sujud, pada waktu bangun berdiri, pada saat selamat dari orang zalim, mendapatkan kelebihan dibandingkan orang lain, dihilangkan dari duka cita (Q al-Mu’min: 55, Qaaf:39, ath-Thur: 48, al-Mu’minun: 28, an-Naml: 15, Faathir: 34).
  3. Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat tauhid yang merupakan dzikir terbaik, bermakna: “Tidak ada ilah kecuali Allah”. Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah kecuali Dia, juga para Malaikat dan orang-orang yangberilmu (Qs.Ali Imran: 18). Merupakan kalimat yang menjadi cabang iman yang paling utama.
  4. Allahu Akbar Takbir adalah kalimat pengagungan terhadapAllah,Tuhan yang tidak mempunyai anak, tanpa sekutu dalam kerajaan-Nya dan tanpa penolong memerintahkan kita mengagungkan-Nya dengan bertakbir, atas petunjukyang Dia diberikan (Q. al-Israa’: 111, al-Hajj ayat 37).
  1. Bicara Seperlunya

Nabi melarang kita banyak bicara yang tidak terkait dengan dzikir kepada Allah. Kemampuan untuk meninggalkan apa saja yang tidak berguna baginya menjadi salah satu tanda bagusnya keislamannya dan Allah menjadikannya sebagai ciri orang mukmin yang beruntung.

Dari Ibnu Umar berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.”

 

  1. Mendahulukan Orang Tua, Berlahan-lahan, Merenahkan Suara

Rasulullah SAW mengajarkan kita menghormati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda, bahkan siapapun yang tidak melakukannya tidak digolongkan sebagai ummat beliau(HRAhmad, dari Ubadah bin ash-Shamit). Salah satu bentuk penghormatan kepada yang lebih tua adalah mendahulukan mereka dalam berbicara.

Dari Aisyah RA dia berkata, Rasulullah SAW tidak pernah berbicara dengan terburu-buru seperti pembicaraan kalian ini, akan tetapi beliau berbicara dengan penjelasan yang terperinci dan dapat dihafal oleh orang yang duduk bersamanya.” (Hadits no. 3575 Kitab Turmudzi).

Allah Swt memerintahkan kita untuk merendahkan suara (Qs. Luqman/31 ayat 19): Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. Allah melarang orang-orang yang beriman meninggikan suara melebihi suara Nabi Muhammad SAW (Qs. al-Hujurat/49: 2). Suara yang lunak memberi kesan kasih sayang.

  1. Dilarang Berbohong

Dari Abu Wail dari Abdullah ia berkata, Rasulullah SAW bersab-da: Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebo-hongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pem-bohong. Dan hendaklah kalian jujur, sebab jujur menggiring kepada kebaikan, dan kebaikan akan menggiring kepada surga. Dan sungguh, jika seseorang berlaku jujur dan terbiasa dalam kejujuran hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai orang yang jujur. (Kitab Abu Daud Hadits No 4337).

  1. Dilarang Ghibah (Menggunjing)

Wahai orangorang yang beriman! Jauhilah kebanyakan pra-sangka karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan-lah kamu berghibah (menggunjing) satu sama lain. Adakah sese-orang diantara kamu yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Terjemah Qs. al-Hujurat/49 ayat 12).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bertanya: Tahu-kah kamu, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab; Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesu-atu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, ba-gaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘Beliau berkata: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah mem-buat-buat kebohongan terhadapnya.’(HR Bukhari, Muslim,Tirmidzi, Abu Daud, Darimi)

  1. Dilarang Mencela, Melaknat, Bicara Kotor

Dari Abdullah bin Masud ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, melaknat, berbuat dan berkata keji dan kotor.” (Kitab Ahmad, HN 3646).

Orang yang suka mencela biasanya sekaligus suka mencaci, mengutuk dan berkata kotor. Semuanya merupakan hasil dari sikap dan cara berpikir yang negatif. Bila seseorang memikirkan aspek negatif orang lain, otaknya menangkap sinyal informasi dan merespon dengan membuka file yang menyimpan pikiran negatif tersebut di memori. Ia menganalisa dan membandingkandenganpikiran lain yang serupadalam memorinya. Lalu ia mencari data yang mendukung dan memperkuat pikiran tersebut serta melemahkan informasi lain yang tidak sesuai.

  1. Dilarang Berdebat Kusir

Dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: Eng-kau akan mendapatkan dosa selama engkau suka berdebat.” (HR Tirmidzi).

Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: Ti-dak akan tersesat suatu kaum setelah petunjuk selama mereka masih tetap di atasnya, kecuali orang-orang yang senang berde-bat.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “tetapi mereka itu adalah kaum yang senang berdebat.” (HR Ibnu Majah).

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba tidak dikatakan beriman dengan sepenuhnya hingga ia meninggalkan berbohong ketika sedang bergurau, dan meninggalkan berdebat meski ia benar.” (HR Aahmad).

[Selengkapnya baca Adab dalam Tuntunan ISLAM]:

  1. edisi-1 DOWDLOAD
  2. edisi-2 DOWDLOAD
  3. edisi-3 DOWDLOAD
  4. edisi-4 DOWDLOAD
  5. edisi-5 DOWDLOAD
  6. edisi-6 DOWDLOAD
  7. edisi-7 DOWDLOAD
  8. edisi-8 DOWDLOAD
  9. edisi-9 DOWDLOAD

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker