AqidahBeritadefaultPemikiran Islam

Agama Islam yang dianut oleh Muhammadiyah berbeda dengan Agama Islam yang dianut oleh Ummat Islam Umum?

KESADARAN BERAGAMA DALAM MUHAMMADIYAH

1. Apakah Agama Islam yang dianut oleh Muhammadiyah berbeda dengan Agama Islam yang dianut oleh Ummat Islam umum?

TIDAK, tidak berbeda. Seperti yang pernah diterangkan, bahwa Agama Islam yang dianut oleh Muhammadiyah itu juga ber-Tuhan kepada Allah, bernabi kepada Nabi Muhammad saw, berkitab Qur’an, berkiblat satu ialah Baitullah di Makkah almukarromah, berukun Islam lima dan berukun iman enam. Sembahyang orang Muhammadiyah juga lima waktu, Lohor, “Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Muhammadiyah bukan Agama. Muhammadiyah adalah organisasi yang menegakkan Islam.

2. Betulkah Muhammadiyah tiada mengakui kepada Imam Syafi’ie yang pada umumnya diakui oleh umumnya Ummat Islam Indonesia?

Itu adalah fitnah. Itu tidaklah benar demikian. Muhammadiyah berpendirian bahwa hal-hal yang benar, hal-hal yang haq itu wajib diikuti. Meskipun dari siapapun, anak-anakkah, orang tuakah, orang desakah, apabila yang di katakan itu benar atau haq wajiblah orang Muhammadiyah mengikutinya. Apalagi dari Imam Syafi’ie tentu saja diikuti. Dan yang menjadi sumber ke benaran dan haq dalam soal-soal agama Islam itu hanyalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jadi apabila cocok dengan kedua sumber pokok itu, Muhammadiyah wajib mengikutinya.

3. Bagaimana anggapan Muhammadiyah terhadap Imam Maliki, Imam Hanafi dan Imam Hambali?

SAMA SAJA. Bila pendapat-pendapat Imam-imam itu benar dan cocok de ngan Qur’ban dan Hadits juga wajib diturut. Soalnya bukan siapa yang mengatakan, tetapi apa yang dikatakan. Meskipun nampaknya orang alim, tetapi kalau perintahnya tidak sesuai lagi, apalagi bertentangan dengan Qur’an dan Hadits tentu tidak wajib diikuti. Muhammadiyah tak dapat mengikuti pemecah persaudaraan, tukang fitnah, penjusta, tukang sumpah palsu, walaupun omongannya dibalut dan disadur dengan kata-kata Ulama dan dengan bahasa Arab sekalipun,

4. Apakah Muhammadiyah mempunyai gambaran, mungkinkah Imam-imam itu menyalahi dengan Qur’an dan Hadits?

SESUNGGUHNYA Muhammadiyah tidak hendak berburuk-sangka kepada para Imam itu. Bahkan Muhammadiyah yakin bahwa para Imam itu berkehendak secara sungguh-sungguh untuk mengikuti Alqur’an dan Sunnah Rasulullah s.a.w.

5. Kalau demikian, mengapa nampaknya ada kesan bahwa seolah-olah Mu hammadiyah tidak 100% mempercayai kepada para Imam, dan selalu menyata-nyatakan bahwa Muhammadiyah akan kembali kepada Qur’an dan Sunnah Rasulullah s.a.w. sendiri?

SESUNGGUHNYA justru karena Muhammadiyah menta’ati para Imam itulah maka akan kembali kepada Qur’an dan Sunnah. Karena para Imam itulah yang memerintahkan agar Ummat Islam kembali kepada Qur’an dan Sunnah.

Cobalah perhatikan sabda para Imam seperti di bawah ini:

IMAM SYAFI’IE

a. apabila hadits itu hadits shohih, maka itulah madzhabku. b. Apabila ada hadits shohih, sedangkan saya terlanjur berkata (yang ti dak cocok dengan hadits shohih itu), maka saya menarik perkataan itu dan saya tetap berkata seperti hadits shohih itu.

c. Tiap-tiap saya sudah berkata, padahal apa yang dari Nabi s.a.w. ber beda dengan apa yang kukatakan, maka hadits Nabi s.a.w. itulah yang lebih berhak untuk diturut dan jangan kamu mengikuti perkataan (yang bertentangan dengan hadits itu).

IMAM MALIK

a. Tidak ada seseorangpun yang wajib diturut segala perkataannya kecuali Rasulullah s.a.w. b. Lihatlah di dalamnya (soal-soal agama), karena itu adalah agama. Dan tidaklah seseorang, kecuali dapat dipergunakan dari kata-katanya dan dapat juga ditolak, kecuali yang mempunyai roudloh ini (yaitu Rasulullah s.a.w.).

IMAM AHMAD IBNU HAMBAL

Lihatlah oleh kamu sekalian akan urusan agamamu, karena taqlid kepada selain orang yang ma’sum (Rasulullah) itu adalah tercela dan di situ merupakan kebutaan dalam hati.

IMAM ABU HANIFAH

Haram bagi siapa yang tidak mengetahui akan dalilku ia memberikan fatwa dengan kata-kataku.

Demikianlah fatwa-fatwa dari para Imam yang sampai sekarang mempu nyai madzhab yang masyhur dalam masyarakat Islam. Dengan demikian nyata bahwa cara-cara yang dijalankan oleh Muham madiyah tidak bertentangan dengan anjuran para Imam-iman tersebut, bahkan justru untuk mengikuti nasihat para Imam tersebut.

6. Kalau demikian apakah Muhammadiyah membolehkan ataukah malah 6. menganjurkan kepada para anggotanya untuk masing-masing membahas soal Agama, meskipun mereka itu tiada dapat memahami Qur’an dan Hadits, dan tiada faham ilmu-ilmu usul faqih, mustolahul hadits, nahwu, sorof. balaghoh, ma’ani, bayan, ilmu tafsir yang semuanya itu merupakan ilmu-ilmu alat untuk membahas agama?

Muhammadiyah tidak mewajibkan atau menganjurkan kepada para angg0tanya untuk berijtihad sendiri-sendiri, apabila mereka tiada memiliki ilmu-ilmu yang cukup. Bahkan ‘ulama Muhammadiyah sendiripun sampai se karang belum ada yang mengakukan dirinya sebagai seorang mujtahid. Teta pi sekali lagi Muhammadiyah berkehendak membimbing keluarga Muham madiyah khususnya dan kaum Muslimin Indonesia yang pada umumnya untuk benar-benar mengetahui bahwa amal-amal ibadatnya itu berasal dari Al lah dan Rasulnya.

7. Bagaimana anggapan Muhammadiyah terhadap orang-orang Islam yang menjalankan agamanya dengan taqlid buta kepada para alim ulama?

Untuk tiada memperuncingkan suasana Ummat Islam, Muhammadiyah tiada ingin menetapkan anggapannya terhadap mereka itu. Buat Muhammadiyah yang dirasa penting mengajak dan membimbing mereka, seperti yang dicita-citakan Muhammadiyah, Muhammadiyah berkeyakinan, apabila me reka dengan tidak mengetahui dalil-dalilnya saja sudah sedemikian patuhnya beribadat kepada Allah tentu mereka akan lebih gembira dan akan lebih mantap apabila mengetahui akan dalil-dalil yang dari Qur’an dan dari Sun nah Rasulullah s.a.w. itu. Keyakinan Muhammadiyah yang demikian tetap dilaksanakan, walaupun dengan lambat-lambat asal selamat. Alhamdulillah, usaha Muhammadiyah ini dengan tidak mengabaikan usaha-usaha Organisa si-organisasi Islam yang sefaham dan sejalan, kini faham yang dimaksud oleh Muhammadiyah sudah banyak merata di kalangan Ummat Islam, terutamadi kalangan angkatan Muda.

Sumber : Buku MENUJU MUHAMMADIYAH Cetakan I 1984

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker