Akhlaqdefault

BERBICARA BAIK ATAU DIAM “Part I”

AKHLAK DALAM AJARAN ISLAM

BERBICARA BAIK ATAU DIAM “Part I”

AKHLAK DALAM AJARAN ISLAM

Arti bicara antara lain pertimbangan pikiran atau pendapat. Padanan kata berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa. Bicara dilakukan dengan menggunakan bahasa. Bahasa meru-pakan salah satu dasar hakiki intelegensia manusia dan merupakan bagian penting dari kebudayaan manusia. Berbicara merupakan cara mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran seseorang kepada orang lain dan menggambarkan apa yang ada dalam pikiran seseorang.

Pusat bicara terletak di area broca, sebuah area yang terletak diotak bagian depan (lobusfrontalis). Areabrocaini mengolah informasi yang datang dari area wernicke (suatu area di otak yang berperan dalam pemahaman informasi penglihatan dan pendengaran) menjadi pola yang terinci dan terkoordinasi untuk vokalisasi, lalu memproyeksikan pola tersebut melalui area pengucapan kata ke korteks motorik (suatu area yang juga terletak diotak) yang mencetuskan gerakan bibir, lidah, kerongkongan yang tepat untuk menghasilkan suara.

Kualitas bicara seseorang sangat ber-gantung kepada: (1) memori (ingatan), (2) bagaimana ia belajar, dan (3) apa yang dipelajari. Belajar merupakan proses mendapatkan informasi yang memungkin kan suatu hal terjadi. Mengingat adalah mempertahankan dan menyimpan informasitersebut.

Orang yang memiliki kebiasaan-kebiasaan baik, ia akan menjadi orang baik. Kebiasaan belajar, membuat orang pintar. Kebiasaan memberi menjadikannya dermawan. Kebiasaan selalu bicara baik, menjadikannya orang yang terpercaya.

Dari segi fisiologi, memori dibagi menjadi bentuk tersurat dan tersirat. Memori tersurat berhubungan dengan kesadaran sehingga sering disebut sebagai otak sadar. Memori ini terdiri atas: (1) ingatan akan peristiwa (episodic memory), dan (2) ingatan akan kata-kata, peraturan-peraturan, bahasa, dan lain-lain (semantic memory). Memori tersirat tidak berhubungan dengan kesadaran,disebut juga memori reflektif atau otak bawah sadar. Termasuk disini adalah kemahiran melakukan sesuatu dan kebiasaan.

Kemahiran melakukan sesuatu dan kebiasaan seseorang pada awalnya berada dalam memori tersurat. Kegiatan mengendarai sepeda motor misalnya, pada awal belajar dilakukan oleh memori tersurat, dan akan menjadi memori tersirat bila telah cukup mahir. Kegiatan seseorang melakukan shalat tahajud secara tidak rutin, dilakukan oleh memori tersurat (otak sadar), dan menjadi memori tersirat bila telah menjadi kebiasaan setia pmalam. Kemahiran dan kebiasaan biasanya sekali didapat akan menjadi tidak sadar dan otomatis. Proses pemindahan dari memori tersurat (otaksadar) kedalam memori tersirat untuk amalan-amalan yang baik memerlukan perjuangan berat dalam waktu cukup panjang. Ada ahli yang menyatakan, amalan tersebut harus dilakukan pengulangan sekurang-kurangnya 90 hari berturut-turut. Mem-bangun kebiasaan baik ibarat orang mendorong mobil ditempat datar. Berat pada awalnya, tetapi bila telah mencapai kecepatan tertentu yang diharapkan, lebih sulit menghentikannya dibandingkan menjaga kecepatannya. Begitulah karak-terkebiasaan, lebih mudah memperta-hankan dibandingkan menghentikannya.

Orang yang memiliki kebiasaan-kebiasaan baikia akanmenjadi orang baik. Kebiasaan belajar membuat orang pintar. Kebiasaan memberi menjadi-kannya dermawan. Kebiasaan selalu bicara baik, menjadikannya orang terpercaya. Sebaliknya, kebiasaan-kebiasaan tidak baik, akan menjadikan seseorang menjadi tidak baik. Kebiasaan malas belajar, menjadikannya tetap bodoh. Kebiasaan sulit memberi, menjadikannya orang pelit. Kebiasaan berbohong, menjadikannya pendusta dan tidak disukai orang. Pendeknya, kitaakan menjadi “apa” bergantung dari kebiasaan-kebiasaan yang kita bangun.

Sebaliknya, kebiasaan-kebiasaan tidak baik akan menjadikan seseorang menjadi tidak baik. Kebiasaan malas belajar, menjadikannya tetap bodoh. Kebiasaan sulit memberi, menjadikannya orang pelit. Kebiasaan berbohong menjadikannya pendusta dan tidak disukai orang.

Pada awalnya kitalah yang membangun kebiasaan, tetapi selanjutnya kebiasa-anlah yang akan membentuk kita.

Rasulullahs.a.w.bersabda: “Laksanakanlah oleh kalian amalan semampu kalian, sesungguhnya sebaik-baik amalan adalah yang dikerjakan terus menerus (menjadi kebiasaan) meskipun sedikit” (HR. IbnuMajah)

Secara tersirat, hadits di atas memotivasi kita untuk membangun kebiasaan sedikit demi sedikit. Dalam hal berbicara, Allah memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada orang-orang yang mampu berbicara baik tanpa dipikir panjang lagi, sebagaimana tersebut dalam hadits:

Dari Abi Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alihiwasallambersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan meng-angkatnya beberapa derajat dengan kata-katanya itu.Dan seoranghamba yang berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan menjerumus-kannya ke neraka Jahannam dengan kata-katanya itu”.(HR Bukhari, AhmaddanMalik).

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker