Beritadefault

Budaya Silaturahmi pada Idul Fitri yang Merekatkan Masyarakat Jawa

TABLIGH.ID,YOGYAKARTA–Budaya silaturahim merupakan budaya yang sudah ada seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi sesamanya. Maka dari itu, istilah silaturahim, dalam kebudayaan Islam di Indonesia menjadi perpaduan antara budaya lokal dan Islam.

Jika berbicara silaturahim, sebagai muslim, kita tidak bisa lepas dari membicarakannya dalam konteks lebaran atau Idul Fitri. Bahkan, Idul Fitri atau lebaran, biasa dijadikan sebagai seremoni besar dimana dilaksanakan pertemuan keluarga dan sara untuk saling bermaafan.

Silaturahim dalam bentuk pertemuan dengan keluarga dan kerabat menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Saking melekatnya, bahkan walaupun dihadang dengan PPKM, kemarin, masyarakat Indonesia tetap saja ada yang melakukan mudik.

“Mudik berasal dari kata udik yang berarti kembali ke kampung. Kemudian mudik menjadi pelepas kerinduan kepada keluarga yang ada di kampung. Dan bila keluarga telah meninggal, dilakukan dengan ziarah ke makam.” Ujar Nu Aini Setiawati, Dosen FIB UGM.

“Lebaran berasal dari kata lebar dan luber, leburan, dan labur sehingga diharapkan dalam suasana lebaran hati manusia dalam kondisi lapang dan melimpah rejekinya, serta meleburnya dosa-dosa karena sudah bermaaf-maafan dan hatinya labur (putih) seputih kapur.” Ujar Nur Aini pada Podcast Dialog Dakwah Budaya, Senin (22/11).

Kebiasaan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa dalam menyambut lebaran memang akhirnya diikuti dengan berbagai kegiatan. Diantaranya mengunjungi para sesepuh untuk meminta maaf dan meminta nasihat. Kemudian ada juga tradisi memberi uang saku kepada anak-anak dan mengajarkan mereka mengenal keluarga dan kerabat.

Kemudian dilanjutkan dengan berziarah ke makam orang tua yang sudah meninggal dan membersihkannya. Hal ini tentu tidak tidak wajib dilakukan, tetapi tidak pula dilarang. “Tradisi Semacam ini tidak ada dasarnya jika dicari pada tradisi Islam masa Rasulullah, tapi, tradisi yang sudah hidup ini, tidak bisa dikatakan keliru, karena dasarnya adalah boleh.” Ujar Nur Aini. [Fhm]

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker