Oleh: Masyhud SM.

Hari Jum’at 19 Agustus 2011 saya menjadi nara sumber pengajian di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) Jl. Elfanauweg 51 CH-3006 Bern Swiss. Acara dibuka oleh Ust. Desial Anwar (Aal), pembina kerohanian KBRI. Peserta pengajian menanyakan tentang rekaman beberapa orang seperti ustadz dan ustadzah menyanyi-menari, lalu seorang dari mereka membawa dua buku – Al Qur’an dan Alkitab. Al Qur’an diangkat sambil mengatakan, “Inilah buku yang menyesatkan berjuta-juta manusia masuk neraka.” Setelah itu dia mengangkat Alkitab sambil mengatakan, “Kita junjung tinggi firman Tuhan ini.”

Aku pun memberikan penjelasan bahwa video yang diakses dari You Tube itu merupakan rekaman penghujatan puluhan pendeta berpakaian muslim dan muslimah yang tergabung dalam Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) terhadap Al Qur’an pada bulan Desember 2006. Mereka masing-masing sudah dijatuhi hukuman penjara 5 tahun pada bulan Agustus 2007.

Karena waktu maghrib tiba dan jamaah pengajian harus berbuka puasa, pengajian ditutup dan dilanjutkan hari Sabtu di Wisma KBRI Bern. Saya berjanji pada mereka, besok saja membahas tentang apakah Alkitab (Bible) itu firman Tuhan ataukah bukan.

Sabtu siang, 20 Agustus 2011 KBRI Bern bekerjasama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Swiss menyelenggarakan pameran dan bedah buku bertajuk “Books are Good Friends” dengan menghadirkan tiga pembicara yaitu Reto Meili (Auf dem Landweg nach Asien), Pastor Franz Dahler (Indozeller) dan Sigit Susanto (Menyusuri Lorong Dunia).

Buku berjudul “Indozeller, ein Leben in Zwei Welten” menceritakan pengalaman Franz Dahler hidup di Indonesia sebagai seorang misionaris Katolik dan pengajar. Dengan bangganya ia bahkan menyatakan bahwa ia adalah seorang Jawa, “Ich bin ein Javaner”. Kemahirannya dalam berbahasa Jawa lebih dulu dibandingkan rekan seprofesinya, Franz Magnis Suseno.

Selain Indozeller, Dahler juga menulis lima buku lainnya di antaranya mengenai teori evolusi dan seksualitas dalam agama; Asal dan Tujuan Manusia; Pijar Peradaban Manusia, denyut harapan evolusi; Evolusi Cosmos dan Manusia; dan Membela Kebebasan Beragama.

Meskipun di kalangan Katolik seorang pastor dilarang menikah, ternyata Franz Dahler dengan bangga di depan peserta bedah buku menyatakan bahwa dia sudah menikah. Setelah acara usai saya mendekatinya dan mengatakan, “Pastor Franz Dahler dulu tidak menikah, sekarang sudah menikah. Sekarang belum sunat (khitan), nanti pak Dahler bersunat?”

Pastor yang bertugas di Indonesia sejak tahun 70-an itu menegaskan tanpa ragu, “Sunat itu higienis (menyehatkan).”

Aku bertanya, “Bisa jadi pak Dahler nanti sunat?”

“Ya, betul,” jawabnya.

Aku melanjutkan, “Kalau pak Franz Dahler sunat, menurut Kristen, tidak bisa masuk surga. Sebab Paulus mengatakan, “Barang siapa yang menyunatkan dirinya, Kristus sama sekali tidak berguna baginya. (Galatia 5:2)”

Pastor itu mengatakan, “Apa itu Paulus!”

Saya kaget, baru kali ini aku mendengar seorang tokoh gereja berani meremehkan Paulus. Padahal dalam pandangan umat Kristen, Paulus adalah seorang rasul utusan Yesus, yang surat-suratnya menjadi ayat-ayat kitab suci yang mengisi sebagian besar halaman kitab Perjanjian Baru.

Seorang ibu yang berdiri di samping Franz Dahler mengatakan, “Daripada menurut Kristen sunat gak masuk surga, lebih baik masuk Islam masuk surga.”

Franz Dahler tersenyum, kemudian bersiap-siap berangkat ke Wisma KBRI Jl. Huhnliwaldweg 9, 3073 Gumligen. Sore itu masyarakat Indonesia di Swiss menyelenggarakan pengajian dan buka puasa bersama di wisma tersebut.

Saya mengucapkan Alhamdulillah! Karena seorang pastor senior yang lama bertugas di Indonesia datang menyaksikan pengajian. Aku menghampirinya dan memintanya untuk duduk di tengah jamaah pengajian. Lalu aku menyalakan slide tentang bukti kepalsuan dan kesalahan kitab suci Kristen. Franz Dahler serius mengamati apa yang saya tampilkan di layar.

Ada tiga poin yang saya sampaikan pada jamaah. Pertama,  Injil yang diimani oleh umat Islam, bukanlah kitab Matius, Markus, Lukas dan Yohanes yang disebut Injil oleh umat Kristen. Sebab keempat kitab itu bukanlah firman Allah, melainkan catatan tentang sabda dan perbuatan Yesus yang ditulis berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat (Lukas 1:1). Tetapi menurut 76 pakar Alkitab yang tergabung dalam lembaga penelitian  Jesus Seminar, 82% ayat-ayat ke empat kitab yang katanya adalah sabda Yesus, ternyata bukan sabda Yesus.

Kedua, kesalahan Silsilah Yesus yang tertulis dalam Matius 1:1-17 dan Lukas 3:23-38. Matius 1:17 menegaskan, “Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.”

Tetapi menurut Lukas, Silsilah Yesus dari Abraham sampai Daud terdapat 15 keturunan, dari Daud sampai pembuangan Yahudi di Babilonia 20 keturunan, dari pembuangan sampai Kristus ada 24 keturunan.

Menurut Matius, Yesus keturunan Daud melalui Salomo (Nabi Sulaiman). Tetapi menurut Lukas melalui Nathan, saudara Salomo.

Kalau urusan sederhana saja sudah salah seperti kesalahan silsilah Yesus ini, apalagi membahas masalah ketuhanan, pasti Alkitab mengalami kesalahan dalam membahas masalah ketuhanan.

Ketiga, Ramalan Yesus tentang hari kebangkitannya pada hari ketiga setelah dikubur. Menurut Matius 12:39-40 Yesus mengatakan, “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia (Yesus) akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” Tetapi Matius 27:57-58 mengisahkan, pada hari Jum’at menjelang masuk maghrib (masuk hari Sabat – Sabtu) mayat Yesus masih di tiang salib. Hari Ahad menjelang fajar, mayat Yesus sudah tidak ada di kuburnya (Matius 28:1-7; Markus 16:1).

“Pak Dahler, kalau menjelang Maghrib atau menjelang hari masuk hari sabat dikubur, kemudian di hari Ahad pagi mayat Yesus sudah bangkit, berapa hari dan berapa malam Yesus berada di perut bumi atau di kubur?” tanyaku pada sang Pastor.

“Dua hari dua malam,” jawab pastor Franz Dahler.

“Bukan tiga hari tiga malam sebagaimana yang dinyatakan oleh Matius 12:39-40?” tanyaku kepadanya.

“Yang benar dua hari dua malam, bukan tiga hari tiga malam!” Pastor itu menegaskan pendapatnya.

Lembaga Biblika Indonesia memiliki otoritas menerbitkan Alkitab versi Katolik. Lembaga ini mengomentari Markus 16:1 bahwa Yesus berada di kubur hanya selama satu setengah hari, “…Kurang masuk akal bahwa orang mau meminyaki mayat yang sudah satu setengah hari di kubur…”

“Matius 12:39-40 dan Lukas 24:46 meramalkan Yesus akan di perut bumi atau di kubur selama tiga hari tiga malam. Pak Franz Dahler menyatakan, dua hari dua malam. Lembaga Biblika Indonesia menuturkan, satu setengah hari. Manakah yang benar?” tanyaku pada pastor.

Pastor senior ini dengan gusar menjawab, “Saya tidak berkomentar.”

Saat maghrib tiba, pengajian diakhiri dan semua jamaah berbuka puasa, pastor Franz Dahler dan pemeluk Kristen lainnya ikut menikmati hidangan. Saya berkata kepadanya, semoga kita berdua bisa bertemu lagi mendialogkan tentang Alkitab dan iman kita, sebelum saya pulang ke Indonesia. Pastor senior itu setuju dan pulang diantar Krisna Dhianta.