BeritadefaultKemuhammadiyahan

Falsafah Ajaran K.H Ahmad Dahlan (II)

Pelajaran pertama

Fatwa Kyai Ahmad Dahlan rahimahullah Ta’ala:

“kita manusia ini hidup didunia hanya sekali untuk bertaruh. sesudah mati, akan mendapat kebahagiaan kah atau kesengsaraan kah ?”

Kerap kali beliau mengutarakan perkataan ulama:

“Manusia itu semuanya mati mati perasaannya kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu dan ulama-ulama itu dalam kebingungan Kecuali mereka yang beramal dan mereka meramal pun semuanya dalam kekhawatiran Kecuali mereka yang ikhlas atau bersih”.

keterangan: Coba buktikanlah, fikirkanlah dan lihatlah nyata bahwa : tiap-tiap manusia masing-masing tertarik dan merasakan hal-hal yang sedang meliputi dirinya. dan disitulah mereka mempunyai kepentingan sendiri-sendiri hingga mereka lupa tidak ingat akan nasibnya di kemudian hari.
Kebanyakan manusia tidak memikirkan nasib nya sesudah mati karena tergila-gila merasakan kesenangan atau tenggelam merasakan kesusahan hingga mati perasaannya tidak dapat memikirkan dan merasakan bagaimana nasibnya di kemudian hari, bahagia kah atau sengsara kah?

Ada orang yang membuat perumpamaan demikian :

Hidup manusia adalah seperti orang yang berdiri di atas pagar sumur. tanah di bawahnya telah rebah lagipula di dalam sumur itu ada seekor ular yang sangat besar orang yang berdiri di atas pagar sumur itu tidak mengetahui bahwa dia dalam keadaan yang demikian itu dia berpegang pada tali rimba di atas umur yang hampir putus karena dimakan tikus. jika akhirnya tali itu putus pasti dia jatuh ke dalam sumur menjadi mangsa ular yang sangat besar tadi. tapi orang tadi mukanya menentang ke atas lidah nya menjilat madu dia hanya tertarik merasakan manisnya madu lengah bawah tali itu pasti akan putus, lupa bahwa dia di atas umur yang didalamnya terdapat seekor ular yang sangat besar.

Begitulah gambaran manusia hidup di dunia, yaitu manusia yang hanya tertarik merasakan manis dan lezatnya madu yang baru meliputinya, lupa kepada tali yang dipegang bahwa tali itu pasti putus. Artinya : manusia lupa bahwa bertambah hari makin berkurang umurnya, dan makin dekat ke pada saat matinya. keadaan sumur itu menjadi gambaran : di dalam sumur ada ularnya yang sangat besar, artinya : ada bahaya yang sangat besar
saya ulangi perkataan: hidup didunia hanya sekali buat tebakan hidup sekali buat pertaruhan itu jelasnya demikian:
a. Golongan orang-orang yang belum mendapat ajaran agama, atau menolak ajaran agama tergesa-gesa mengambil keputusan bahwa manusia itu sesudah mati hanya akan menjadi tanah, tidak akan menemui kejadian apapun, tidak ada pengusutan dan tidak ada pembalasan pahala atau hukuman.
b. Menurut ajaran para nabi, atau Rasul dan terutama ajaran Nabi Besar Muhammad SAW. berganti-ganti terus-menerus hingga sekarang ini, mereka umat Islam mengambil keputusan bahwa manusia itu ada asal-usulnya, sesudah mati akan menerima akibat tingkah lakunya akan diusut kelakuannya, akan ada pembalasan pahala atau hukuman. terhadap orang-orang yang berbuat salah, buruk tingkah lakunya akan mendapat hukuman siksa yang sangat sedih. kalau hidupnya yang sekali itu sampai sesat,keliru,sampai salah kepercayaannya dan tingkah lakunya, pasti akan salah tarka akan rugi celaka dan sengsara selama-lamanya.

Bertalian dengan pelajaran pertama ini di dekat meja tulis Kyai Ahmad Dahlan terpampang papan tulis. pada papan itu tertulis suatu peringatan yang khusus untuk beliau yang selalu diperhatikan siang dan malam. peringatan khusus itu berbunyi demikian:

يا دحلان، إن الهول أعظم و الأمور المفظعات أمامك ولا بد لك من مشاهدة ذلك إما بالنجاة وإما بالعطب.
يا دحلان، قدّر نفسك مع الله وحدك و بين يديك الموت والعرض والحساب والجنة والنار وأتأمَّل فيها يدنيك ممَّا بين يديك ودعْ عنك ما سواه.

Artinya : hai Dahlan!  Sungguh bahaya yang menyusahkan itu terlalu besar demikian pula perkara-perkara yang mengejutkan di depanmu dan pasti kau akan menemui kenyataan demikian itu, mungkin kau selama tetapi juga mungkin tewas menemui bahaya.

Hai Dahlan, Coba bayangkan lah seolah-olah badanmu sendiri hanya berhadapan dengan Allah saja , dan di hadapan mu ada bahaya maut, peradilan, hisab atau peperiksaan, surga dan neraka.(hitungan yang akhir itulah yang menentukan nasibmu ).Dan fikirkanlah, renungkanlah apa-apa yang mendekati kau daripada sesuatu yang di mukamu (bahaya maut) dan Tinggalkanlah selainnya itu.

Selanjutnya ada lagi tulisan demikian mereka sangat tertarik kepada dunia karena mendapatkan ijazah tanpa sekolah tetapi mereka yang bersekolah karena senang kepada akhirat selalu tidak naik kelas padahal sungguh-sungguh belajarnya ini menggambarkan orang yang celaka sengsara di dunia dan akhirat karena tidak mau mengekang hawa nafsunya.

افرايت من اتّخذ إلهه هواه 》الجاثية ٢٢《
Mengertikah kau, akan orang yang men-Tuhankan Hawa nafsunya?

Sering setiap teman-teman Kyai Ahmad Dahlan sedang berkumpul, beliau memberikan peringatan demikian: lengah, kalau sampai terlanjur terus-menerus lengah, tentu akan sengsara di dunia dan akhirat. maka dari itu jangan sampai lengah, kita harus berhati-hati sedangkan orang yang mencari kemuliaan di dunia saja, kalau hanya seenaknya tidak bersungguh-sungguh tidak akan berhasil apalagi mencari keselamatan dan kemuliaan di akhirat. kalau hanya seenaknya sungguh tidak akan berhasil.”

Pada suatu hari Kyai Ahmad Dahlan memberikan fatwa demikian:

Bermacam macam corak-ragamnya mereka mengajukan pertanyaan tentang soal-soal agama. tetapi tidak ada satu pun yang mengajukan pertanyaan demikian: harus Bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka ?harus mengerjakan perintah apa ? beramal apa ? menjauhi dan meninggalkan apa?”

Pernyataan Kiai Ahmad Dahlan:

Orang yang sedang tersangkut perkara kriminal dia takut akan dijatuhi hukuman penjara. menunggu-nunggu putusan hakim pengadilan negeri, karena takut hukuman penjara siang dan malam selalu termenung, sampai makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, selalu gelisah, dan kesana kemari mencari adpokat atau pokrol.
Tentu saja orang mukmin yang takut akan bahaya maut, takut akan diusut perbuatannya, takut akan diputus perkaranya takut akan adanya pembalasan berupa siksa atau hukuman, selalu harus bingung mencari usaha Bagaimana caranya mendapat keselamatan, harus kemana-mana bertanya, Bagaimana supaya dapat selamat. tidak cukup hanya di kira-kira dan diputusin sendiri. Ingatlah: hanya sekali hidup di dunia untuk bertaruh.

Sumber : Buku Falsafah Ajaran K.H Ahmad Dahlan Cetakan Kedua

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker