Pemikiran Islam

Hubungan Gestapu PKI dan Konspirasi Politik

Achmad Firdaus
Pengurus International Student Society National University of Singapore

“Darah itu merah, Jenderal!” Ucapan tersebut merupakan salah satu dialog populer yang muncul dalam adegan Film G30S/PKI. Mereka yang hidup di zaman Orde Baru (1967-1998) pasti ingat dengan Film ‘fenomenal’ karya Arifin C. Noer yang diproduksi tahun 1984 itu. Film tersebut menggambarkan secara detil peristiwa sadis pada tanggal  30 September 1965 yang kemudian dikenal dengan istilah Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (Gestapu PKI). Peristiwa penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan para perwira Angkatan Darat yang dikisahkan dalam film itu  menyisakan luka yang sangat mendalam bagi bangsa ini. Tapi kini, film yang menjadi tontonan wajib bagi masyarakat Indonesia kala itu sudah tidak ditayangkan lagi pasca Presiden Soeharto terjungkal dari kursi kekuasaanya, karena banyak pihak yang mempertanyakan keakuratan cerita dan kejanggalan sejarah dalam film itu.

Lebih dari setengah abad berlalu, namun peristiwa berdarah tersebut masih minyisakan beragam misteri dan menyimpan sejuta tanya yang belum terungkap hingga kini. Perdebatan panjang dan silang pendapat tentang berbagai persoalan yang berkaitan dengan peristiwa sadis tersebut masih terus berlangsung hingga kini. Perdebatan-perdebatan itu selalu bertumpu pada pertanyaan tentang penyebab peristiwa tersebut hingga menjurus pada pertanyaan siapa ‘aktor intelektual’ di balik pembatataian itu.

Beragam teori spekulatif pun kian bermunculan, mulai dari pakar sejarah, ahli hukum, hingga pengamat politik tak ketinggalan untuk menyingkap tabir rahasia dibalik peristiwa berdarah tersebut. Ada yang berpendapat bahwa Gestapu PKI 1965 merupakan episode kedua dari pemberontakan Madiun pada September 1948 yang telah menyisakan catatan pahit bagi para tokoh komunis yang tumbang di antara reruntuhan Partai Komunis Indonesia kala itu. Peristiwa Madiun yang juga dipenuhi oleh ceceran darah para ulama dan ummat Islam tersebut memang diikiat oleh konflik politik yang rumit dan berakhir pada runtuhnya PKI, namun di antara reruntuhan tersebut, darah muda kaum komunis seperti Aidit dkk, bangkit kembali dan menyatukan serpihan-serpihan yang berserakan dan berhasil menjadikan PKI sebagai kekuatan politik di Indonesia.

Selain itu, ada juga teori yang memunculkan nama mantan Presiden Soeharto sebagai instigator dalam peristiwa menyedihkan tersebut, ada pula yang menyebut adanya persekongkolan politik dalam pemberontakan itu dan berbagai teori lain yang terkadang bernuansa konspiratif. Namun belakangan ini muncul teori yang cukup mencengangkan, apakah benar China dan Amerika terlibat dalam peristiwa berdarah itu?

Campur Tangan China

Adalah Zhou Taomo, seorang pakar sejarah asal Tiongkok yang mencoba menyingkap fakta dibalik peristiwa yang penuh misteri tersebut. Dalam tulisannya yang berjudul “China and 30th September Movement”, perempuan bergelar Doktor dari Cornell University itu membeberkan rahasia dibalik Gestapu, mulai dari bantuan militer Tiongkok dalam pembentukan Angkatan Kelima, transfer teknologi nuklir Tiongkok kepada Indonesia, hingga adanya pertalian antara Partai Komunis China (PKC) dan PKI.

Dalam penelitiannya yang didukung oleh sumber-sumber resmi tersebut, menunjukkan bahwa sejak tahun 1963, Perdana Menteri China Zhou Enlai, merasa tidak tenang melihat perkembangan politik di Indonesia. Ia berpendapat bahwa para ‘Jenderal Kanan’ akan merebut kekuasaan dengan bantuan Amerika dan Taiwan, sehingga sangat memungkinkan adanya arus balik yang bakal menyapu PKI. Oleh karena itu, sekitar sebulan sebelum terjadi pemberontakan, para petinggi PKI berkunjung ke Beijing dan berkonsultasi dengan Ketua Partai Komunis China, Mao Zedong. Mereka bertemu juga dengan para pemimpin utama China, termasuk Perdana Menteri China dan Menteri Luar Negeri (Chen Yi).

Perdana Menteri China yang dikenal cerdas mengamati situasi politik, merasa ragu atas kemapuan PKI, sehingga ditengah sengitnya perang dingin, China merasa berkepentingan untuk membantu PKI dan terlibat langsung dalam membentuk pemerintahan di Indonesia yang beraliran komunis pro-China. Apalagi beban yang dipikul China saat itu cukup berat, karena harus menghadapi ‘Imperialisme Amerika’ dan bersaing dengan ‘kaun revisionis’ Uni Sovyet dalam gerakan global komunisme. Sehingga China sangat mendukung misi PKI untuk mengeliminasi para ‘Jenderal Kanan’ dari struktur kekuasaan di Indonesia.

Pengaruh besar China dalam Gestapu PKI, baik dalam perencanaan maupun operasionalisasi adalah sebuah fakta sejarah. Keterlibatan China dalam pemberontakan 30 September yang selama ini tertutup rapat dalam dokumen rahasia Kementerian Luar Negeri China, akhirnya terungkap dari hasil research Zhou Taomo tersebut.

Skenario Amerika

Selain campur tangan China, keterlibatan Amerika Serikat (CIA) dalam memainkan peran ganda pada peristiwa Gestapu juga sangat berpengaruh, mulai dari rencana pemberontakan hingga tahapan penumpasan komunis. Hal tersebut diungkap oleh researcher asal Amerika, Peter Dale Scott dalam papernya yang berjudul “The United States and the Overthrow of Soekarno, 1965-1967” menjelaskan secara gamblang bahwa peristiwa Gestapu merupakan konspirasi terselubung CIA yang dibantu oleh intelijen Inggris, Jepang, dan Jerman untuk menguncang perpolitikan di Indonesia dibawah kekuasaan Presiden Soekarno dengan cara kotor dan berdarah. Alasan CIA yang paling mendasar untuk merongrong pemerintahan, karena Soekarno bersahabat dekat dengan Blok China dan Sovyet. Bahkan sejak 1953 Amerika berkepentingan untuk mencetuskan krisis di Indonesia, terbukti dengan adanya dukungan personil CIA berupa bantuan senjata untuk melancarkan rencana pemberontakan tersebut.

Pada tahun 1958 Amerika memberikan bantuan militer ke Indonesia yang mencapai 20 juta Dollar per tahun, hal tersebut dimaksudkan agar Amerika bisa mengendalikan Angktan Darat (AD), karena Amerika menganggap bahwa hanya AD yang mampu mengimbangi PKI. Jenderal Suwarto yang pernah dididik di Amerika pun bisa memainkan peran penting dengan mengubah AD dari fungsi revolusioner menjadi kontra revolusi. Fakta yang lebih jelas adalah sebagian besar pemimpin Gestapu adalah lulusan pendidikan di Amerika Serikat, seperti Suherman (pemimpin Gestapu Jawa Tengah) yang baru saja pulang dari latihan Front Leaveworth Amerika Serikat lalu bertemu dengan Letkol Untung pada Agustus 1965.

Dalam tulisannya, Professor asal University of California Berkeley tersebut melalui penelusuran dokumen Coen Holtazappel “The 30th September Movement”menyimpulkan bahwa Gestapu PKI 1965 merupakan bentuk provokasi dan kekerasan untuk melakukan kudeta ‘fiktif’ yang diperankan oleh militer Indonesia (beraliran kiri) yang bekolaborasi dengan militer Amerika, buktinya presiden Soekarno tidak digulingkan oleh PKI waktu itu, karena sesungguhnya target utama kudeta 30 September adalah menghabisi terlebih dahulu para jenderal besar Angkatan Darat (Kelompok Ahmad Yani) yang dinilai paling loyal terhadap Soekarno. Tewasnya sejumlah petinggi Angkatan Darat tersebut menjadi jalan ‘legal’ bagi perebutan kekuasaan dan Presiden Soekarno pun digulingkan pasca Gestapu dalam beberapa rangkaian episode konspirasi Amerika.

Perlu diingat kembali bahwa pasukan yang terlibat dalam pemberontakan Gestapu adalah pasukan yang telah dipersiapakan oleh CIA. Kemudian pasukan elit ‘settingan’ Amerika juga yang melakukan penumpasan Gestapu dalam waktu singkat. Sehingga peristiwa Gestapu yang diberitakan begitu dahsyat dapat dikendalikan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam atas bantuan militer Amerika. Dari fakta ini dapat diketahui adanya keterlibatan Amerika dalam merencanakan Gestapu sekaligus berlagak ‘pahlawan’ dalam pemumpasan PKI. Konspirasi Amerika dalam menyusun skenario peristiwa berdarah tersebut memang didasari oleh kepentingan politik, salah satunya agar dapat menyebar isu kejahatan ideologi komunis keseluruh penjuru dunia, apalagi saat itu Amerika dan Uni Soviet sedang perang ideologi (Liberalisme vs Komunisme).

Memang harus diakui bahwa selama ini sangat sulit untuk menyimpulkan motif dibalik Gestapu PKI, seluruh catatan sejarah dalam periode yang panjang sulit dimengerti karena berada diluar jangkauan analisis para pengamat dan ahli sejarah. Kompleksitas dan ambiguitas sejarah pembantaian berdarah itu semakin diperparah dengan banyaknya versi yang beredar, ditambah lagi dengan pengaburan sejarah (versi orde baru) yang telah mencekoki masyarakat selama puluhan tahun. Namun dengan terungkapnya fakta yang bersumber dari dokumen-dokumen rahasia, baik dari CIA maupun dokumen rahasia Kementerian Luar Negeri China menjadi bukti tak terbantahkan bahwa bahwa peristiwa dahsyat Gestapu PKI tak bisa dipisahkan dari kepentingan politik ‘asing’. Wallahu a’lam bisshawaab. []

Sumber: Majalah Tabligh edisi Septermber 2016

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker