AkhlaqMuamalahPemikiran IslamTadabur

Ibrahim AS adalah Pemimpin Ideal

“ Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai pentunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman ( QS. Yusuf : 111).

         Mengawali kegiatan kita di pagi yang mulia ini tiada kata yang pantas kita ucapkan dan sanjungkan kecuali memanjadkan puji syukur sembah sujud taat setia kepada Zat yang Maha dari segala maha, Maha pengasih tak pilih kasih Maha Penyayang terhadap hambanya yang taat tunduk patuh kepada-Nya. Yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada pagi yang mulia ini kita  dapat merayakan Idul Adha yang agung ini.

         Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw, seorang pemimpin yang rela berqurban jiwa, raga, harta dan dirinya untuk mengangkat harkat dan martabat umatnya dari lumpur kejahilan, keterbelkangan menuju masyarakat yang bermartabat yaitu masyarakat Islam yang sebenar-benanya adil makmur dan di ridhai Allah Swt.

         Merayakan ‘Idul Adha, mengingatkan kita akan peristiwa dan kisah penting yang syarat makna dalam kehidupan umat manusia. Yakni peristiwa perjalanan hidup  Nabi Ibrahim As, Siti Hajar, bersama putrannya  Isma’il As.

         Dari tahun ketahun silih berganti, sejarah ‘Idul Adha , pengorbanan, dan haji disegarkan kembali agar semangat berkurban senantiasa berkobar dalam dada kita semua.

         Hampir-hampir tidak ada seorang pun dari kita yang tidak mengetahui sejarah ‘Idul Adha. Maka pada kesempatan yang mulia ini saya mengajak diri dan saudara sekalian untuk merenungkan kembali perjalanan hidup Nabi Ibrahim As. dan keluarganya, bukan sebagai cerita-cerita belaka, melainkan sebagai sumber inspirasi dalam rangka meluruskan niat dan motivasi serta memperbesar tekat untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan serta kemaslahatan bersama. Lebih- lebih ditengah -tengah era global serta perdagangan bebas yang mana kehidupan bangsa Indonesia hingga kini masih dihantui dengan berbagai persoalan yang terasa sangat sulit untuk menghadapi dan mengatasinya, baik dibidang politik, ekonomi, social, budaya, aqidah, moral, hukum, pertahanan dan keamanan. Yang semua itu terjadi karena adanya kesenjangan yang begitu besar antara pengakuan kita sebagai Muslim dengan realitas kehidupan yang kita jalani.

            Melalui sejarah Adha kita dibawa untuk melihat kekuatan iman ketika ia harus menjawab realitas kehidupan, menjawab kenyataan hidup yang harus dihadapi.

         Sebagai seorang pejuang, Nabi Ibrahim merasa sedih, resah dan gelisah, karena pada usianya yang telah senja belum dikaruniai seorang anak yang akan mewarisi dan melanjudkan cita-cita dan perjuanganya. Meskipun demikian Nabi Ibrahim tidak kenal putus asa. Bahkan Beliau selalu berdo,a :

Ya Tuhanku karuniakan kepadaku seorang anak yang shaleh” (QS.As-Shaffat : 10 ).

         Yang diminta Nabi Ibrahim bukan anak sembarang anak. Tetapi anak yang sesuai dengan cita-cita dan perjuangannya, yakni anak yang shaleh, anak yang mempunnyai kepribadian sebagai manusia berakhlaq, beriman dan bertaqwa pada Allah Swt.

         Sejarah mengungkapkan misteri yang luar biasa. Nabi Ibrahim yang telah berusia senja akhirnya dikabulkan doanya oleh Allah Swt. melalui Siti Hajar istri keduanya, Nabi Ibrahim As. dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ismail. Namun  belum lagi Ismail tumbuh dewasa, keimanan Nabi Ibrahim kembali diuji Allah Swt, melalui mimpi Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Terlintas dalam pikirannya, Ismail yang dibayangkan sebagai penerus perjuangannya, harus berakhir diujung pedangnya sendiri. Orang tua manakah yang sanggup membayangkan tugas semacam itu?

         Disinilah iman dan ketulusan dihadapkan dengan realitas pilihan antara hati dan akal, antara cinta pada Allah dengan cinta pada anak. Nabi Ibrahim sempat mengalami kebimbangan antara cinta dan kebenaran. Dan akhirnya Nabi Ibrahim memenamgkan kebenaran serta cinta pada Allah dari pada kecintaannya kepada anak satu-satunya yang dimiliki. Nabi Ibrahim meyakini dan menyadari bahwa semua miliknya pada hahekatnya adalah milik Allah dan pemberian Allah. Bila dikehendaki, Allah berhak meminta kembali seluruh milik-Nya baik itu di langit dan di bumi. Namun demikian, Nabi Ibrahim menempuh dengan cara – cara yang arif dan bijaksana, Ismail putra kesayangannya dipanggil untuk diperkenalkan pada hakekat hidup, cinta dan kebenaran. Dan Ismail mampu menangkap kegalauan hati ayahnya. Kepada ayahnya, Ismail memilih kata yang tepat dalam menyatakan pendapat :

Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan(Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaaffat : 102 ).

         Ketika kedua insan itu dengan ikhlas menjalankan perintah Allah dan pisau pun nyaris menggores leher Ismail, tiba-tiba terdengar suara dari lembah memanggil Nabi Ibrahim : “wahai Ibrahim…

sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”  ( QS. As-Shaaffat : 105 – 107 0).

         Demikian Nabi Ibrahim dan Ismail As, membuktikan keimanan dan kecintaan serta ketaatan pada Allah, sehingga Allah menggantinya dengan kenikmatan yang tiada tara yaitu seekor sembelihan domba yang besar. Dan peristiwa inilah yang melatarbelakangi di syari’atkannya ibadah qurban yang senantiasa kita laksanakan setiap tanggal 10-11-12-13 Dzuhijah.

         Dari kisah yang disampaikan tadi, dapat kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang hanif  yang berserah diri secara total  pada Allah Swt, Sebagaimana Firman  Allah Swt dalam Quran Surat Al-Imran 67 :

Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani dia adalah seorang yang lurus dan muslim yang sejati dan ia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.” .

Secara lughawi, hanif berarti lurus, murni dan kokoh, seorang yang hanif adalah mereka yang lurus imannya, tidak tercampur dengan kemusyrikan dan kebatilan, imannya kokoh serta tertanam dalam hati sanubari dan setiap gerak langkah hidupnya. Seorang yang hanif adalah mereka yang tidak membantah, menawar apalagi mengingkari perintah Allah Swt, sekalipun perintah itu sangat berat untuk dilaksanakan.

         Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat Yusuf ayat 111 yang khatib bacakan dimuqadimah, bahwa kisah dan cerita dalam Alquran bukanlah dongeng belaka, akan tetapi mengandung pelajaran yang berharga serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman serta menggunakan akal pikirannya.

          Seperti kisah Nabi Ibrahim, ibadah haji dan qurban. Hal tersebut bukanlah semata-mata rangkaian ritual yang berdimensi spiritual belaka, akan tetapi merupakan ibadah yang menempa diri seorang muslim sehingga menjadi seorang yang beraqidah benar dan  berakhlaq mulia.  

         Kesempurnaan ibadah dapat diraih apabila formal syariahnya terpenuhi dan tumbuhnya akhlaq sebagai wujud dari ibadah tersebut. Seperti ibadah haji, dan qurban disamping nilai-nilai spiritual, ibadah haji dan qurban juga memiliki nilai-nilai social,kemanusiaan yang sangat luhur. Di antaranya adalah :

         Pertama : Qurban mengajarkan kita untuk bersikap dermawan, tidak tamak, rakus dan serakah. Qurban mendidik kita untuk peduli dan mengasah sikap social. Seseorang tidak pantas keyang sendirian dan bertaburan harta, sementara banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan, terlebih keadaan seperti sekarang ini, apalagi dengan banyaknya musibah dan bencana, mulai dari bencana alam, bencana ekonomi, politik, moral, budaya, hukum, aqidah dan lain-lain, sehingga kemiskinan muncul dimana-mana, baik miskin harta, miskin ilmu maupun miskin iman. Dan ingat hal tersebut juga dijadikan lahan subur gerakan pemurtadan untuk mencuri aqidah umat. Oleh karena itu disyari’atkanya persyaratan hewan qurban yang begitu ketat, sesungguhnya merupakan tuntunan bagaimana agar kita bisa memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi sesama, sebagaimana firman Allah Swt dalam Quran Surat 3 Ali- Imran ayat 92 : 

Kamu tidak akan mampu mencapai keimanan yang sempurna, sebelum kamu menginfakan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakan sungguh Allah Maha Mengetahui.”

Bahkan Rasulullah Saw juga menegaskan dalam Hadis Riwayat Bazzaar :

ماامن بي من بات شبعانا وجا ره جا ئع وهو يعلم

Tidaklah beriman kepadaku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui.”

         Yang kedua, pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim As adalah tentang qurban yang kemudian dilembagakan sebagai ibadah mahdhah setiap tahun bagi umat Islam. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam Quran Surat ashaffaat ayat 106-107, bahwa Allah Swt mengganti Ismail dengan seekor kibasy yang besar adalah sebagai balasan bagi kepatuhan, ketabahan dan kikhlasan Nabi Ibrahim dan puteranya dalam menjalankan perintah Allah  Swt. Hal tersebut mendidik kita untuk rela mengurbankan apa saja demi untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, karena seorang mukmin yang mencintai Allah Swt, ia akan berusaha mendekati Allah dengan apa saja yang di inginkan oleh Allah “kekasihnya”, sekalipun harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya.

         Secara formal ritual, qurban hanya menyembelih seekor hewan sekali setahun pada setiap tanggal 10 hingga 13 dzulhijah, akan tetapi secara spiritual kita dapat menangkap maksud yang lebih luas yaitu bagaimana agar kita dapat terlatih berkurban demi mendekatkan diri pada Allah Swt. Apakah itu kurban waktu, tenaga, pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa sekalipun untuk memperjuangkan apa-apa yang dipesankan Allah Swt lewat agama yang diturunkannya yaitu Islam. Hikmah spiritual seperti itu akan semakin jelas, kalau kita kembali merenungkan peristiwa qurban yang dijalankan Ibrahim As dan Ismail As.

         Yang ketiga, seecara simbolis qurban mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan. Dan di antara sifat kebinatangan yang harus kita kubur dalam-dalam adalah sikap mau menang sendiri, merasa benar sendiri dan berbuat sesuatu dengan bimbingan hawa nafsu.

         Manusia adalah makhluk yang sempurna dan utama. Akan tetapi jika sikap dan tingkah lakunya dikuasai oleh nafsu, maka pendengaran, penglihatan, dan hati nuraninya tidak akan berfungsi. Jika sudah demikian maka manusia akan jatuh derajatnya, bahkan mungkin lebih rendah dari binatang, sebagaimana Allah terangkan dalam Al-Quran Surat 7Al-A’raaf ayat 179.

Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunkannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya mendengar (ayat-ayat Allah), mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lengah.”

         Yang keempat, Qurban mengingatkan pada kita agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai harkat dan martabat kemanusiaan. Digantinya Ismail dengan seekor domba menyadarkan kita, bahwa mengorbankan manusia di atas altar adalah perbuatan yang dilarang Allah Swt. ibadah yang kita lakukan harus menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak manusia. Bahkan hewan qurban yang akan kita sembelih pun harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena itulah, maka perbuatan semena-mena, keji, kejam, mungkar, dzalim dan lain sebagainya adalah perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Islam. Dalam pandangan Islam membunuh manusia tanpa dasar yang dibenarkan syari’at, sama kejinya dengan membunuh seluruh umat manusia, demikian yang dijelaskan Allah dalam quran surat 5 Al-Maaidah 32.

         “Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, Kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”

         Saat ini kita hidup dalam situasi social yang sangat memprihatinkan, banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan, mereka menderita karena berbagai musibah dan bencana, baik itu bencana alam, politik, ekonomi, hukum, aqidah, moral dan lain sebagainya. Dan yang paling menyedihkan adalah terkuburnya nilai-nilai kemanusiaan, sudah tidak terhingga perbuatan anarkis dan tindak kekerasan meluluh lantahkan bangunan dan tempat-tempat berharga. Terlalu banyak tragedy kemanusian dan darah tertumpah karena angkara murka. Dengan mudah sebagian masyarakat kita menghabisi nyawa sesama. Ibu membunuh anaknya, anak membunuh bapaknya, rakyat menghujat pemimpinnya, pemimpin menindas rakyatnya, penegak hukum melanggar hukum dan lain sebagainya.

         Qurban adalah usaha kita untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, mematuhi dengan segala daya dan upaya semua yang diperintahkan dan dengan sekuat tenaga menjauhi laranganNya. Begitu juga dengan ibadah haji, yang merupakan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim As beserta keluarganya. Sebagaimana ibadah-ibadah lain, ibadah haji bukanlah ibadah formal yang hanya di ukur dari pelaksanaannya semata, disamping nilai ubadiyah dan spiritualnya, ibadah haji juga merupakan sarana membentuk pribadi yang taat, tunduk, patuh dan rela diatur udang-undang Allah Swt, berakhlaq mulia dan berkepribadian luhur.

         Ukuran ketaqwaan seseorang tidak hanya dilihat dari kwalitas ibadahnya semata, tetapi yang sangat penting adalah aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidaklah berlebihan jika Rasulullah Saw. Menyatakan :

الحج المبرو ر ليس له جزاء الا الجنة

Dan tidak ada pahala lain bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

         Kalau kita renungkan ibadah haji merupakan ibadah yang syarat makna, mengajarkan persamaan, kehormatan dan lain-lain. Seperti rangkaian ibadah haji yang dimulai dari miqod, yaitu niat melaksanakan haji, pada saat itu pakaian yang sebelumnya terdiri dari berbagai model dan warna, harus ditanggalkan dan diganti dengan pakaian ihram, yaitu dua lembar kain berwarna putih tidak berjahit. Hal itu melambangkan nilai-nilai kemanusiaan. Dihadapan manusia kita boleh berbeda dalam hal harta, pangkat, jabatan, status social dan lain sebagainya, tetapi dihadapan Allah Swt kita semua sama, yang membedakan hanyalah kwalitas iman dan taqwanya. Hal tersebut memberikan pelajaran pada kita, agar manusia tidak membangakan kekayaan, pangkat, jabatan, status social dan lain-lain. Karena semua itu akan hilang dan sirna, semua akan kembali pada Allah hanya dengan mengenakan dua lembar kain berwarnaa putih, atau kain kafan.

         Yang kedua thawaf, yakni mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dimulai dari sudut hajar aswat dan berakhir disitu juga. Hal itu memberikan pelajaran bahwa kita ummat manusia dalam sepekan hendaknya selalu bergerak dan beraktifitas, membangun kebersamaan, kedamaian, kesejahteraan, untuk menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adil makmur dan diridhai Allah Swt. berdasarkan apa yang telah digariskan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya serta hanya dengan tujuan mencari ridha Nya.

Yang ketiga, Sa’i yaitu lari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa. Sa’i berarti usaha sungguh-sungguh dan kerja keras. Ibadah ini merupakan rekontruksi bagaimana Siti Hajar yang berusaha dengan susah payah untuk mendapatkan air untuk anaknya yang masih bayi, sehingga ia berlari bolak balik dari bukit shafa ke bukit marwa. Shafa berarti kesucian dan ketegaran, dan marwa berarti idealisme manusia, sikap bermurah hati dan memaafkan orang lain. Hal itu memberikan pelajaran bahwa siapapun bisa menjadi terbaik, kalau ia sungguh-sungguh dan kerja keras. Dan dalam melakukan perbuatannya dengan niat suci dan tegar dalam menghadapi tantangan, serta bermurah hati menebar kasih sayang dan mau memaafkan orang lain. Tidak mementingkan diri sendiri, merasa benar sendiri dan lain-lain. Sa’i juga memberikan pelajaran agar kita selalu optimis dalam memandang masa depan, dan tidak mudah putus asa. Karena dibalik kesulitan, kesusahan, dan penderitaan itu pasti akan ada kemudahan. 

 “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,   Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

         Yang keempat, wukuf di Arafah dan inilah puncak ibadah haji, wukuf berarti berhenti, sedang Arafah berarti mengenal dengan pasti, mengenal dan menyadari jati dirinya. Sebelum wukuf Jamaah haji menginap di Mina untuk berdzikir dan merenungkan jati dirinya dari mana berasal, dan kemana akan kembali, sehingga menemukan ke arifan. Pada tahap ini jamaah haji diharapkan menemukan kearifan , menjadi manusia yang arif dan bijaksana. Dan setiap gerak langkahnya senantiasa didasari pengetahuan yang mendalam sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang merugikan orang lain.

         Wukuf mengajarkan kita untuk menghentikan pertikaian, perpecahan, pertengkaran yang merusak sendi-sendi kehidupan serta mengajak manusia untuk mengenal diri dan lingkungannya dengan berbuat arif dan bijaksana.

         Selanjudnya rangkaian ibadah haji dilanjudkan dimusdzalifah atau negeri kesadaran. Sadar akan musuh utama manusia, yakni syaiton laknatullah alaih yang selalu mengintai, membisiki dan menggoda manusia untuk melanggar perintah Allah Swt. Kemudian bergerak ke Mina, ditempat inilah jamaah haji melontar jumrah, ibadah yang menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim melempar syaiton yang terus menerus menggodanya untuk melanggar perintah Allah Swt. Melempar jumrah mengajarkan kita agar membuang jauh-jauh sifat syaitoniyah dari dalam diri kita, seperti sifat; hasad, iri, dengki, bakil, riya, tamak, rakus, serakah, egois, sombong, zalim dan lain sebagainya. Dengan demikian insya Allah kita akan menjadi manusia yang paripurna.

         Demikianlah, rangkaian hikmah dan pelajaran dari ibadah haji dan qurban. Semoga kita semua mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya mari kita berdoa dan mohon ampun pada Allah Swt, seraya memohon Rahmat-Nya. Amin ya rabbal ‘alamin.

 

Cread by: Agus Tri Sundani

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker