Pemikiran Islam

“ Ketika Kacang Lupa Kulitnya”

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon mangga dan anak lelaki yang senang bermain di bawah pohon mangga itu setiap hari. Ia senang memanjat, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Mereka saling mencintai. Waktu terus berlalu. Anak lelaki tumbuh besar. Ketika pohon mangga mengajak main, si anak menolak dan berkata: _”aku ingin sekali memiliki mainan dan tapi aku tak punya uang untuk membelinya”._ Pohon mangga itu menyahut; _”akupun tak punya uang tetapi ambillah buahku dan jual. Uangnya kau belikan mainan kegemaranmu”_. Si anak lelaki itu sangat senang, ia lalu memetik semua buah mangga dan pergi dengan suka cita, lalu menghilang lama. Pohon mangga menjadi sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi, pohon mangga sangat senang melihatnya dan mengajaknya bermain lagi. Si anak kembali menolak dan berkata: _”aku membutuhkan rumah untuk tempat tinggal, maukah kau menolongku?”_. *_” Akupun tak punya rumah, kau boleh tebang semua dahan ranting ku untuk membangun rumahmu”,_* kata pohon mangga, kemudian anak lelaki itu menebang dahan dan ranting pohon mangga itu dan pergi dengan gembira. Tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon mangga itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas,  anak lelaki itu datang lagi, pohon mangga sangat senang dan mengajak bermain, tapi di anak lelaki berkata: _”aku sudah tua dan ingin hidup tenang, aku ingin pergi berlayar, maukah kau memberiku sebuah kapal untuk pesiar?”_ , *_Maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong Batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau, pergilah berlayar dan bersenang-senanglah”_*. Kemudian anak lelaki itu memotong batang pohon mangga.

Akhirnya anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. _”Maaf anakku, aku sudah tidak berbuah lagi, juga tidak memiliki Batang dan dahan yang bisa kau panjat, yang tersisa hanyalah akar-akarnya yang sudah tua dan sekarat ini”_, kata pohon mangga itu sambil menitikkan air mata. Si anak berkata: _” aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang, aku hanya butuh tempat untuk istirahat”. Oh bagus sekali, tahukah kau akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan istirahat,  marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”_* sahut pohon mangga, anak lelaki itu berbaring di pelukan akar pohon. Pohon mangga sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air mata. Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon mangga itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya datang ketika perlu sesuatu atau dalam kesulitan.* Tak perduli apapun, orang tua kita akan selalu ada disana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Yang dilakukan oleh anak tersebut adalah sebuah kenyataan yang terjadi saat ini, berapa banyak kasus yang yang terjadi belakangan ini dilatar belakangi oleh konflik anak dan orang tua, terkadang kita lebih mengutamakan kepentingan kita daripada kepentingan orang tua kita, bahkan kita berani membantah dan membentak orang tua kita dikarenakan permintaan mereka yang banyak.

Ada sebuah kisah pada zaman Nabi saat itu ada seorang pemuda yang dengan muka jemberut menghampiri Nabi, pemuda itu bertanya kepada Nabi, Wahai Muhammad Rasulullah saya tidak habis pikir melihat ayah saya yang setiap hari meminta uang saya”, dengan senyum Nabi menjawab, “ sesungguhnya dirimu dan hartamu adalah milik kedua orang tuamu”, maka pulanglah berikan semua apa yang kau miliki. Fonomena saat ini adalah ketika kita sudah mampu menghidupi diri kita, mampu melakukan apapun dengan kesuksesan kita yang luar biasa, kita beranggapan semua itu adalah hasil dari jerih payah kita, hasil daría kerja keras kita tanpa campur tangan siapapun, saya bisa beli rumah pakai uang saya, beli mobil pakai uang saya. Hingga akhirnya hati kita semakin keras, watak kita semakin egois, sibuk dengan semua bisnis yang kita bangun, jauh dari orang tua hingga jauh dari Allah. Sampai pada suatu klimaks dimana tejadi konflik dengan orangtua kita disebabkan kita tidak mampu menuruti kemauan orangtua kita, sampai pada orangtua kita sakit hati atas perbuatan kita pada saat itulah kita termasuk orang yang ingkar.

Hal yang sama yang terjadi terhadap bangsa ini, kita bisa menoleh kembali kepada sejarah bahwa Islam lah yang paling berperan dalam kemerdekaan bangsa ini. Kenyataannya adalah seolah-olah masyarakat indonesia melupakan pengorbanan Islam dalam memersatukan NKRI ini, bahkan kita yang dituduh intoleran terhadap pancasila. Ini merupakan sebuah kebodohan yang terstruktur, masyarakat didoktrin melalui media-media yang mementingkan kepentingan kelompok dan suka memecah belah umat. Maka dari itu selaku penerus bangsa wajib bagi kita untuk menghargai dan melanjutkan perjuangan funding father yang menyelamatkan bangsa kita ini dari perpecahan dan penjajahan, mari kita menjaga sesama penganut agama, mari kita lawan oknum-oknum yang memecah belah umat berbangsa dan bernegara baik dari kalangan orang islam maupun dari agama-agama lain.

 

MuttaqinNasution, S.Sos

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker