defaultKhutbah ID Fitri

Khutbah Idul Fitri 1440 H : Peta Jalan Perjuangan Khoiru Ummah Untuk Kemajuan Peradaban

Khutbah Idul Fitri 1440 H

Peta Jalan Perjuangan Khoiru Ummah Untuk Kemajuan Peradaban

Oleh:

Muh. Waluyo Lc., M.A.

(Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

*Disampaikan pada khutbah Idul Fitri di PWM Nusa Tenggara Timur

Hadirin Kaum Muslimin, Jamaah Sholat Idul Fitri, Rahimakumullah

Hari ini kita hadir di sini setelah menuntaskan puasa selama satu bulan. Semoga Madrasah Ramadhan (sekolah Ramadan) ini telah melahirkan kita menjadi manusia manusia terbaik (Khoiru Ummah). Manusia manusia yang selama puasa, taubatnya telah menyingkap tabir antara dirinya dengan langit, yang munajat-munajatnya telah mencurahkan rahmat Allah ke dalam dirinya, yang tilawah dan i’tikafnya telah membebaskannya dari ancaman api neraka, yang puasa dan zakat fitrahnya telah meyadarkanya untuk memutus sekat sosial kemanusiaan.

Semoga Madrasah Ramadhan (sekolah Ramadan) ini telah melahirkan kita kembali menjadi manusia manusia terbaik (Khoiru Ummah); yang orientasi hidupnya meraih ridha Allah jelas tertancap dalam sanubarinya, yang peta jalannya menuju surga jelas terbayang dalam benaknya, yang tekadnya beramal tak kan dapat dihalangi oleh rintangan sebesar apapun.

 

 

Artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

 

 

Hari ini kita hadir di sini, bersimpuh bersama, di hadapan Allah SWT, sebagai alumni Madrasah Ramadhan (sekolah Ramadan), dan siap untuk berikrar bersama, dengan penuh

kesadaran, dan kemantapan hati, bahwa kita telah selesai dengan diri sendiri, bahwa kita telah membersihkan semua debu yang menempel dalam pikiran dan jiwa kita, bahwa kita telah membetulkan kembali kompas yang menuntun jalan hidup kita, bahwa kita telah menyiapkan kendaraan fisik kita, untuk memikul beban dan amanah perjuangan.

Umat Muslim setelah Ramadhan adalah manusia-manusia terbaik (khoiru ummah) yang telah terbebaskan dan tercerahkan, yang siap memikul tanggung jawab sejarah, yang menyatu dengan cinta bersama saudara-saudaranya sesama ummat, demi memikul amanah kebangkitan.

 

 

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)

 

Jamaah Sholat Idul Fitri Arsyadakumullah

Ketika kita bersimpuh dengan khidmat saat ini, ternyata ada saudara-suadara kita yang masih kurang beruntung. Wajah dunia Islam yang carut marut, penuh darah dan air mata, baik di Pelestina, Suriah dan tempat lainnya. Saya bahkan tidak tahu apakah kita yang hadir di sini punya hak untuk tertawa di hari lebaran ini, sementara saudara-saudara kita di belahan bumi lain bersimbah darah dan air mata?

Orang-orang miskin dan tidak berpendidikan menjadi PR besar di hampir semua negara Islam? Para pengemis, anak jalanan masih menghiasi jalan-jalan raya di seluruh kota besar dunia Islam. Saya bahkan tidak mengetahui apakah kita punya alasan untuk bergembira hari ini sementara saudara-saudara kita di belahan bumi lain tidak punya sesuatu yang bisa mereka makan dan bisa mereka pakai di hari lebaran ini? Itulah umat kita. Itulah dunia Islam kita. Kebodohan, kemiskinan dan perang adalah kosa kata yang memenuhi wajah kita. Seakan-akan misi agama ini membawa rahmat tak pernah hadir di tengah umat kita.

 

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Dibalik itu semua kita harus tetap optimis, bahwa pertolongan Allah pasti terjadi. Peradaban yang sekarang menguasai dunia dengan system globalnya pasti ada akhirnya. Mereka yang selama ini menyedot kekayaan bangsa-bangsa lain dan menciptakan ketimpangan ekonomi sosial yang mengerikan secara global pasti ada masanya. Kezaliman itu akan ada pada puncaknya dan kemudian Allah mulai memutar arah jarum sejarah.

 

 

Artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kamiperintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Israa’:16)

Dan tanda-tanda kemundurun dan runtuhnya kedholiman sudah mulai tampak. Krisis ekonomi mulai melilit mereka, membangkrutkan negara dan perusahaan-perusahaan besar. Kini krisis itu telah menciptakan konflik politik di kalangan elit mereka yang sangat mendalam dan juga konflik politik antar negara adidaya. Konflik elit politik itu bahkan dapat menyeret mereka ke dalam perpecahan dan perang saudara.

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Di hadapan kita kini, ada dua fenomena sejarah. Pertama: Ada umat Islam yang sakit, dililit kebodohan, kemiskinan, dan peperangan, tapi berusaha bangkit namun tertatih-tatih dan terseok-seok. Kedua: Ada peradaban besar yang sedang mencengkram bangsa-bangsa lain terutama umat islam dan namun mulai tampak tertatih-tatih. Ada umat yang bangkit melakukan perlawanan namun berdarah-darah. Ada peradaban yang sedang berusaha mempertahankan kedigdayaannya dan juga berdarah-darah. Kita seperti menyaksikan dua tangisan yang kontras. Ada tangis kelahiran, ada tangis kematian. Setiap bayi yang lahir selalu disertai air mata. Setiap orang yang mati juga dihantar dengan air mata.

 

 

Artinya: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” (QS. Ali Imran: 140)

 

 

Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Pada suatu titik dalam sejarah dua fenomena itu kelak akan bertemu. Di saat pertemuan itu Allah memenuhi janji-Nya.

 

 

Artinya: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (QS. Al-Qashas: 5)

Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Annur: 55)

Tapi janji Allah itu hanya akan terwujud dengan kerja manusia, kerja keras kita. Janji Allah itu membutuhkan pahlawan-pahlawan agung. Pahlawan-pahlawan yang batas pandangannya adalah langit, yang batas mimpinya adalah surga, yang semangatnya mengalahkan kelelahannya, yang kecerdasannya mengalahkan tantangannya dan memahami realitas zamannya secara mendalam, serta bekerja dengan peta jalan yang jelas.

 

 

Artinya: “Semoga Allah merahmati seseorang yang memahami zamannya, maka menjadi luruslah jalannya.” (atsar dari ulama salaf)

 

 

Jamaah Sholat Idul Fitri yang berbahagia

Peta jalan perjuangan yang jelas adalah tercermin pada teori kontruktivisme (constructivisme theory) yang dapat diwujudkan melaui tiga langkah kongkrit:

 

Pertama: Kompetisi (Fastabiqul Khoirat)

Kompetisi, konflik dan kerjasama antar anak manusia sering terjadi secara tumpang tindih. Dalam kehidupan sehari-hari, anak cucu Adam ini dapat dan terlihat hidup bersama secara harmonis, tetapi pada saat yang sama tidak menutup kemungkinan bahwa kedua belah pihak sedang terlibat dalam suatu persaingan atau bahkan konflik baik yang bersifat ideologi, politik, maupun ekonomi.

Sebagai Khoiru Ummah yang memikul amanah perubahan sudah seharusnya menjadikan kompetisi sebagai prioritas disetiap kerja nyatanya dan menghindari langkah yang berpotensi melahirkan konflik. Kompetisi merupakan bentuk yang paling dasar dan universal dari interaksi sosial. Interaksi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, sering kali berasal dari bentuk ini. Kompetisi yang terjadi dapat meliputi bidang kehidupan yang mencakup banyak hal, misalnya dalam bidang-bidang ekonomi, politik, militer, agama dan lain-lain. Berlomba lomba dalam kebaikan menurut Islam:

 

 

Artinya: “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang- orang yang segera memperolehnya.” (al Mukminun: 61)

 

Kedua: Kerjasama dan Tolong Menolong (Syirkah wa Ta’awun)Artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [al-Mâidah:2]

Nabi menganjurkan kepada sahabat dan pengikutnya supaya menjaga kesatuan dan persatuan. Ikatan keimanan lebih mengikat dan lebih kuat daripada ikatan Pertalian darah. Keimanan menjadi simbol yang paling kuat untuk mengikat tali persaudaraan. Perjuangan ini membutuhkan manusia-manusia terbaik (khoiru Ummah); yang dapat menyatukan lidi-lidi yang berserakan menjadi sapu, mengurai kerumitan masalah menjadi kerangka kerja jamaah (bersama) yang terang benderang, yang mengubah organisasi menjadi arus yang mengalirkan energi dan potensi umat kepada muara peradaban guna merengkuh kejayaan.

Khoiru Ummah juga memiliki nilai-nilai solidaritas yang tinggi sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW menganjurkan terhadap pentingnya melaksanakan persaudaraan dengan sesama non Muslim, pada hal-hal yang bersifat sosial dan kemasyarakatan, bukan pada masalah aqidah. Sehinga ajaran berbuat baik ini tidak hanya pada komunitas muslim, tetapi juga komunitas di luar muslim. Salah satu titik kulminasi yang menggambarkan keberhasilan Rasulullah SAW sebagai pemimpin khoiru ummah dalam menggapai kejayaan adalah lahirnya Piagam Madinah dan ini merupakan sebuah fakta sejarah bahwa konstitusi kebangsaan dan kemasyarakatan yang tertulis pertama di dunia justru lahir di Semenanjung Arab yaitu Piagam Madinah.

 

Ketiga: Kemandirian

Kemandirian adalah ciri khas khoiru ummah karena para pejuang peradaban harus sudah selasai dengan dirinya sendiri. Kemandirian bukan berarti menutup diri terhadap berbagai kemungkinan kerjasama yang saling menguntungkan. Konsep kemandirian menjadi faktor sangat penting dalam pembangunan peradaban.

Kemandirian bangsa, organisasi, maupun kemandirian pribadi dan keluarga dapat membuat mereka disegani. Kemandirian dalam bidang pendidikan akan membabaskan dari penjajahan intlektual, kemandirian dalam sektor kesehatan akan melahirkan kepercayaan diri dan menghilangkan rasa was-was, kemandirian dalam bidang ekonomi akan membuat lawan segan dan lenyapnya tekanan-tekanan diberbagai bidang baik politik maupun sosial kemasyarakatan.

Artinya: “Karena kesenangan orang – orang Quraisy. (yaitu) kesenangan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik Rumah ini ( Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Al Quraisy: 1-4).

Surat Quraisy menjadi inspirasi untuk kemandirian suatu negara. Negara akan berhasil dan disegani, begitu juga Umat ini akan memimpin peradaban dunia jika bisa menguasai ekonomi, sebagaimana kaum Quraisy yang dihormati karena perdagangan yang mereka lakukan.

Menurut Ibnu Katsir: yang dimaksud dengan Ilaf adalah tradisi mereka dalam melakukan perjalanan di musim dingin ke negeri Yaman dan di musim panas ke negeri Syam untuk tujuan berniaga dan lain-lainnya. Kemudian mereka kembali ke negerinya dalam keadaan aman tanpa ada gangguan di perjalanan mereka. Demikian itu karena mereka dihormati dan disegani oleh orang lain, mengingat mereka adalah penduduk kota suci Allah dan memiliki kemandirian ekonomi. Maka siapa yang mengenal mereka, pasti menghormati mereka.

Dari surat ini pula dapat dipahami bahwa, ada 2 syarat kemajuan suatu negara (sebuah peradaban), yaitu: kemandirian dalam bidang ekonomi dan juga kestabilan politik (keamanan), yang semuanya harus dilandasi dengan keimanan kepada sang Kholiq.

Perjuangan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dan politik bagi khoiru ummah adalah jalan terjal dan pendakian yang melelahkan, yang sejak periode Makkah telah dikabarkan oleh Allah sang pencipta:

Artinya: “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu; (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (Al Balad: 12-16)

 

Jamaah Sholat Idul Fitri yang berbahagia

Untuk Menapaki tiga peta jalan Perjuangan di atas (Kompetisi, Ta’awun dan Kemandirian) membutuhkan manusia manusia terbaik yang datang dengan tekad seorang pahlawan untuk mengubah tangis kebangkitan ini menjadi mimpi peradaban yang menggelorakan, menjadi cinta yang mempersaudarakan dan menyatukan langkah, menjadi energi yang melahirkan kerja keras yang tak kenal lelah.

Peta jalan perjuangan itu membutuhkan manusia-manusia terbaik; yang memiliki keyakinan Nabi Nuh menghadapi ejekan orang-orang terhadap dirinya saat ia menyiapkan perahu yang akan menyelamatkan umat manusia. Peta jalan perjuangan memerlukan manusia-manusia terbaik; yang dapat membawa ruh masjid ke pasar pasar, ke jalan jalan, ke sekolah-sekolah, dan ke dalam kantor kantor pemerintahan. Peta jalan perjuangan memerlukan manusia-manusia terbaik; yang dapat menyatukan apa yang tidak dapat disatukan oleh peradaban ini. Yaitu; masjid, pasar dan negara. Mereka bukan manusia- manusia yang terbelah, yang selalu memisahkan masjid dengan pasar, atau masjid dengan negara, yang memisahkan antara ketaatan kepada Tuhan dengan cinta kepada tanah air. Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menjadikan kita sebagai manusia-manusia terbaik itu. Semoga Allah menjadikan kita sebagai sebab kebangkitan dan kejayaan umat ini. Maka marilah kita berdoa dengan doa Nabi Ibrahim:

 

 

Artinya: (Ibrahim berdo’a): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh keni’matan.” (QS. Assyu’ara: 83-85).

 

FILE PDF DOWNLOAD

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker