defaultPemikiran Islam

LANGKAH KEDUA : “Memperluas Faham Agama”

(يَسِّرُوا ولا تعسرواوبشروا ولا تنفروا. (رواه البخاري و مسلم

“Mudahkanlah, dan jangan mempersulit, serta gembirakanlah dan jangan kamu membikin orang lari.”

(إن الدين يسر ولن يشادّ الدين أحد إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستععينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة. (رواه البخاري عن أبي هريرة

“Sesungguhnya agama itu ringan, dan tiada seseorang yang memberat-beratkan agama, melainkan dia dikalahkan oleh agama. Maka hendaklah kamu sekalian menjalankan agama itu dengan lurus, berdekat dekat dan bergembiralah. Bermohonlah pertolongan pada waktu pagi dan sore dan sebagian dari waktu malam.”

            Menilik dua buah hadist tersebut,teranglah bahwa agama itu ringan. Dan keringanan agama Islam itu, sebab:

  1. Hukum-hukum islam itu dapat berubah-ubah dengan mengingat keadaan orang.
  2. Agama Islam tiada mengingat faham.
  3. Hukum-hukum islam dapat berubah-ubah dengan mengingat keadaan orang.

            Untuk menjelaskan keterangan pasal itu, disini perlu kami beri sekedar contoh-contohnya.

  1. Agama Islam mewajibkan sholat dengan berdiri, tetapi bagi orang yang tak kuasa berdiri, diperkenankan ia dengan duduk, bahkan kalau duduk saja ia tak dapat bolehlah ia sembahyang denganberbaring.
  2. Agama mewajibkan berwudhu bagi orang yang akan bersembahyang, tetapi diwaktu tak ada air, atau sedang berhalangan memakai air karena sakit, bolehlah bertayamum.
  3. Agama mewajibkan sholat jum’at, tetapi diwaktu ada halangan, seperti sakit atau sedang turun hujan yang amat lebat, bolehlah ia tidak pergi jum’at.
  4. Agama mewajibkan puasa, tetapi bagi orang yang sedang sakit atau bepergian, bolehlah ia tidak puasa, hanya harus mengganti (qadha) pada hari yang lain.
  5. Agama mewajibkan pergi haji, tetapi bagi orang yang tidak puasa atau sedang tidak aman perjalanannya boleh ia tidak menjalankan haji.
  6. Dan lain-lain…!

Agama tiada mengikat Faham

Kalau kita kembali kepada pokok-pokok Agama Islam, ialah Al-Qur’an dan Hadist Nabi, kita akan menjumpai beberapa kalimat-kalimat, diantaranya ada yang “mujmal” dan diantaranya ada pula yang “musytak”, artinya kalimat yang boleh difaham dengan macam-macam faham, dan kalimat yang mengandung dua arti, seperti kalimat “Laamastumunnisaa”. “Laamisa” dapat diartikan persentuhan biasa, dan boleh juga diartikan bersetubuh menurut arti kinayah.

            Perluasan faham didalam agama itu, harus dengan syarat-syarat dan bahan-bahan yang telah ditetapkan didalam agama. Sekali-kali tiada boleh orang memaham agama menurut hawa nafsu, kehendak hati sendiri.

            Menurut keterangan ulama-ulama, perluasan faham yang dengan menurut syarat-syaratnya itu, suatu pemberian anugerah dari pada Allah. Oleh sebab itu kita kaum “Muhammadiyah” harus mencari anugerah tersebut, dan harus kita jalankan dengan yang seksama.

            Hendaklah sama diingat, bahwa yang harus kita perluaskan itu “faham-agama”, bukan agama, karena agama itu sudah sempurna, tiada boleh diperluas  dan tiada boleh dipersempitkan.

            Kalau kita selidiki kepada orang yang menjalankan perintah agama dengan kesukaran dan kesempitan itu, tentulah akan terdapat bahwa segala kesukaran dan kesempitan itu tiada dari perintah agama, tetapi timbul dari dirinya sendiri, yang disebabkan daripada sempitnya faham, sehingga ia tiada suka menerima anugerah Allah Ta’ala tersebut diatas.

Supaya jelas, disini kami misalkan:

  1. Agama melarang orang memakan bangkai, dan semua binatang yang mati tiada disembelih dengan nama Allah (ini pun bangkai hukumnya).

Bagi orang yang tiada sempit, perintah ini diterima dengan ringan. Umpama akan membeli daging. Kalau orang yang menjual itu bukan orang kafir dan biasa hewan itu disembelih, cukuplah daging itu dimakan dengan tiada beragu-ragu. Tetapi buat orang yang dasarnya memang sempit(dipersempit dirinya sendiri), belumlah berani  makan sebelum menyelidiki, dengan beberapa pertanyaan. Disembelihkah hewan itu? Dengan menyebutkan nama Allah? Datang dari mana? Dengan membeli atau mencuri? Dan lain-lain dari segela macam hal sehingga akhirnya ia tidak jadi makan, takut karena syak yang ditimbulkan oleh kesempitan dirinya sendiri itu.

Jika perintah agama itu kita terima dengan kesempatan seperti diatas, teruslah kita tidak bisa hidup. Umpama: kita merasa lapar, kebetulan ada orang berjualan nasi dan sate kambing. Kita belum dapat makan sebelum menyelidiki dengan beberapa pertanyaan lebih dahulu. Daging apakah sate itu? Hewannya datang dari mana? Adakah dengan disembelih? Siapa yang menyembelih? Orang islamkah yang menyembelih? Bagaimana cara menyembelih? Dan Dengan apa? Adakah kambing ini 100% turunan kambing, tiada kecampuran turunan babi? Bagaimana cara waktu jual belinya kambing itu? Dan … lain sebagainya.

Dengan jawaban dari penjual sate itu belum tentu belum memuaskan hatinya, banyak yang belum dapat menghilangkan syak ragu-ragunya, seperti pertanyaan “adakah kambing itu seratus persen turunin kambing?” ini baru penyelidikannya kepada sate, belum nasinya, belum lauk pauknya, belum bumubu-bumbunya, belum cara memasaknya, belum airnya itu atau najis, belum … lain-lainnya.

  1. Hal pakaian

Hadits :

(من تشبه بقوم فهو منهم . (( رواه أبي داود عن أبي عمر

            “Barangsiapa yang menyerupai kaum, maka dia termasuk golongan kaum itu”

            Meskipun Hadist ini dho’if dan lemah, tetapi bagi orang yang sempit faham, lalu tiada mau memakai dasi, karena … menyerupai orang bukan Islam.

            Kalau perkara pakaian itu kita masuk-masukkan, tentulah kita tidak dapat berpakaian, karena “jas” pun dipakai juga oleh orang yang tiada Islam, demikian pula celana, ikat pinggang, sepatu dan lain-lainnya, padahal perkara pakaian itu agama tidak memberi bentuk yang pasti, terserah kesukaan orang yang akan memakai, asal dapat menutup aurat. Di dalam Agama, perkara pakaian itu hanya diberi batas, bagi orang laki-laki tidak boleh memakai sutera, dan tidak boleh memakai pakaian perempuan (yang tertentu bagi perempuan), begitu pula sebaliknya, orang perempuan tidak boleh berpakaian laki-laki, inilah batasan di dalam Agama. Sedang perkara yang lain-lain seperti model potongan kain, blaco atau lena, terserah kesukaan yang akan memakainya.

Di atas telah kami terangkan, bahwa agama tidak mengikat faham, supaya jangan sampai mendatangkan kekeliruan faham, maka perlulah kami terangkan bagian-bagian agama yang boleh diperluaskan.

Agama itu boleh diiringkan menjadi dua bagian:

  1. Bagian “Pokok” 2. Bagian “Furu”. Bagian pertama (pokok), ialah yang berhubungan dengan kepercayaan I’tiqad. Bagian ini kita harus taslim (menerima saja) kepada adanya nas-nas yang tertentu, bagian kedua (furu’) ialah yang berhubungandengan ibadah, muamalah, hudud (perbatasan) dan lain-lain. Dalam bagian ini, kita dibolehkan memperluas faham dengan menggunakan “Qiyas” dan lain-lainnya.

Kami beri contoh perluasan faham dalam bagian yang kedua

Contoh perkara ath’imah (makanan)

قل لا أجد في ما اوحي الي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أودما مسفوحا أو لحم خنزير فإنه رجس أو فسقا أهل لغير الله به الأية

((الأنعم 145))

“Katakanlah (olehmu Muhammad), aku tiada menjumpai di dalam wahyu yang telah diberikan kepadaku sesuatu makanan yang diharamkan atas diri pemakan, kecuali apabila keadaan makanan itu bngkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena barang-barang tadi, ialah kotoran; dan hewan yang disembelih tiada dengan nama Allah…”

(نهى رسول الله عن أكل كل ذى ناب من السباع وعن كل ذى مخلب من الطير. (رواه مسلم عن عباس

“Rasulullah telah mencegah memakan semua yang mempunyai gigi taring dari binatang buas dan dari semua yang mempunyai cengkraman dari beruang.”

Dari ayat dan hadist itu, imam malik berpendirian: “semua makanan itu halal, kecuali empat macam, ialah bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan hewan yang disembelih tidak dngan nama Allah. Adapun hadist yang melarang memakan binatang buas yang mempunyai gigi taring, dan beruang yang mempunyai cengkeram, larangan itu tidak jatuh haram.

Imam Syafi’I berpendapat lain lagi: “binatang buas yang mempunyai gigi taring, dan beruang yang mempunyai cengkeram, itu haram juga karena ada hadist shahih yang menegaskan (melarangnya).”

رحمة الأمة فى اختلاف الأمة

Contoh kedua terkutib dari kitab “Rokhmatal Ummah fi ikhtilafi ummat”

Para imam-imam berselisih pendapat didalam debu yang sah untuk tayamum. Pendapat Imam Syafi’I dan Hambali, “tanah yang suci atau pasir yang ada debunya”. Pendapat Imam Hanafi, “Bumi dan semua bagiannya.” Jadi sah juga tayamum dengan batu, meskipun tidak ada debunya. Pendapat Imam Maliki seperti Imam Hanafi, bahkan menambah: “semua barang yang melekt dengan bumi, seperti pohon dan lain-lain, itupun sah juga untuk tayamum.”

Demikian pula para imam-imam itu berlainan pendapat di dalam takbirnya shalat ied (yang selain takbiratul ikhram).

Pendapat Imam hanafi, “Diraka’at keduapun tiga kali juga”. Pendapat Imam Maliki dan Imam Hambali. “Pada raka’at pertama enam kali dan diraka’at kedua lima kali.” Pendapat Imam Syafi’I di raka’at pertama tujuh kali dan pada raka’at kedua lima kali”.

Cukuplah kiranya dengan contoh yang sekedar ini, dan betapa luas serta lebar panjangnya, kami persilahkan melihat di dalam kitab “Rohmatul Ummah”, “Bidayatul Mujtahid” dan kitab fekih menurut empat madzhab yang dikarang oleh kumpulan ulama-ulama Al-Azhar dan lain-lain.

Untuk penutrup langkah yang kedua ini, kami berseru kepada Pemimpin-pemimpin, Penganjur dan Mubaligh Muhammadiyah umumnya, hendaklah selalu diingat memegang teguh langkah ini, dengan mempelajari dan memahami agama  dengan berluas-luas (luas faham), akan tetapi harus dengan menurut syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh agama. Berikanlah buah faham itu kepaada kaum kaum Muhammadiyah lainnya, agar mereka pun dapat menjalankan agama tiada dengan kesempitan, dan dapat pula merasakan ni’mat Allah Ta’ala.

Untuk ketertiban, agar jangan sampai mendatangkan perselisihan di dalam kalangan kita, maka sebelum buah faham itu diberikan kepada umum. Lebih dahulu supaya dipermusyawarahkan di dalam Lajnah atau Majlis Tarjih, dan di dalam permusyawaratan itu, hendaklah langkah ini menjadi dasar.

Baca juga : Gerakan kristenisasi gaya baru di indonesia

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker