MuamalahPemikiran Islam

Masih Terbelenggu Palu Aritkah Kita?

The First Comunism

Bismillaahiirrahmaaniirrahiim

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q.S. Yusuf 12:111).

Gerakkan Awal Komunis

Awal adanya gerakkan komunis di Indonesia pertama kali adalah atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada tahun 1914. Dia mendirikan partai komunis di tanah air (Indonesia) dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau Persatuan Sosialis Demokrat Hindia Belanda. Pada dasarnya ISDV dibentuk oleh 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis).

ISDV ini walau pun keberadaannya di Hindia Belanda (Indonesia), tetapi mayoritas anggotanya berasal dari Belanda dan hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi (Indonesia). Makanya dari awal pendirian partai komunis atau ISDV ini, tidak pernah menuntut kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sangat Radikal

Namun demikian, partai komunis ini dengan cepat berkembang dan menjadi partai yang sangat radikal dan anti kapitalis. Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV meyakini bahwa Revolusi Oktober seperti yang terjadi di Uni Soviet (sekarang Rusia) harus diikuti Indonesia.

Partai komunis di bawah kepemimpinan  Henk Sneevliet ini pun berhasil merangkul para tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda (Indonesia) sebagai anggota ISDV. Maka dibentuklah “Pengawal Merah” dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang anggota. Begitu radikalnya gerakkan partai komunis ini, sehingga pemerintahan kolonial Belanda pun mengambil tindakkan tegas dengan menutup dan menangkapi para anggotanya. Termasuk Sneevliet yang dipulangkan ke negerinya, Belanda.

Hidup Kembali

Walau pun para pimpinan ISDV ditangkapi, namun kegiatan mereka masih tetap hidup meski pun melalui pergerakan bawah tanah

(rahasia). Hal itu terbukti dengan terbitnya “Soeara rakyat” pada tahun 1919 dari organisasi tersebut. ISDV hidup kembali dengan masuknya beberapa anggota Serikat Islam yang berbau komunis. Organisasi ini pun berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang pribumi (Indonesia). Pada tahun tersebut pula keseluruhan anggota ISDV hanya 25 orang asli Belanda, selebihnya asli pribumi.

Banyaknya anggota Sarekat Islam yang diketuai oleh Haji Oemar Said Cokroaminoto memiliki keanggotaan rangkap, membuat Sarekat Islam terpecah menjadi dua. Para tokoh Sarekat Islam yang menentang keberadaan komunis, masuk dalam kelompok SI Putih dan yang mendukung komunis masuk dalam kelompok SI Merah. Adanya dua kubu yang berseberangan dalam tubuh Serikat Islam, membuat organisasi ini limbung dan ditinggalkan pendukungnya. Hal ini tentu saja membuat pemerintah Belanda senang, karena mereka mulai khawatir dengan pergerakkan Serikat Islam ini.

Terlibat Dalam Pemberontakkan

Begitu radikalnya paham komunis ini, sehingga dalam sejarahnya telah beberapa kali terlibat dalam pemberontakkan dan memakan banyak korban. Sejak terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tercatat sudah dua kali komunis melakukan pemberontakkan.

Pada tahun 1948, Negara Republik Indonesia yang baru berdiri dan sedang sibuk menghadapi agresi tentara Belanda yang didukung tentara sekutu, dibokong secara pengecut oleh komunis yang juga memiliki persenjataan perang yang lengkap.

Beruntung pemberontakkan ini dapat dipadamkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman, dengan memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan pemberontakan PKI.

Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. Dalam operasi ini Muso berhasil ditembak mati sedangkan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Sebagai Partai Terlarang

Pada tahun 1965, komunis kembali lagi berulah dengan melakukan penculikkan dan pembunuhan terhadap para jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menentang keberadaan mereka. Mayor Jenderal Soeharto yang pada waktu itu menjabat sebagai Pangkostrad TNI, berhasil memadamkan gerakan komunis yang dikenal dengan Gerakan 30 September. Dan menetapkan Partai Komunis Indonesia sebagai partai terlarang dan haram untuk dikembangkan di Indonesia.

Melihat jejak sejarah perjalanan komunis di Indonesia, ternyata komunis tidak saja merekrut para anggotanya dari kalangan rakyat jelata yang sengsara, tetapi mereka juga mampu merekrut para tokoh

agama Islam sebelum perang kemerdekaan. Tetapi semua itu akibat propaganda komunis yang menyatukan dengan paham keagamaan di tanah air. 

Menyandang Gelar Haji

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, menuliskan tentang perjalanan hidup seseorang yang telah menyandang gelar haji, tetapi hidupnya sebagian besar dihabiskan untuk mendukung perkembangan komunisme di Indonesia.

Haji M. Misbach adalah orang yang sangat mendukung paham komunisme di tanah air dan untuk mengembangkan paham komunis ini, dia pun menerbitkan majalah bulanan Medan Muslimin pada tahun 1914. Tentang isinya, lebih banyak menyerang tokoh-tokoh Islam yang tidak sejalan dengannya dan mengajak kaum muslimin untuk menerima serta mendukung ajaran komunis yang disatukan dengan ajaran Islam.

ketika masih aktif dalam Sarekat Islam, pemikiran Haji M. Misbach dengan Haji Oemar Said Cokroaminoto selalu bertentangan dalam memperjuangkan umat Islam di tanah air.

Haji M. Misbach berpendapat, bahwa Islam sebagai ajaran mulia yang mencintai perdamaian dunia. Dan perdamaian ini hanya bisa ditegakkan dengan membasmi kedustaan, kejahatan, penghisapan dan penindasan. Ada pun cara yang ditempuh hanya satu, yaitu dengan “revolusi”.

Sedang pemikiran HOS. Cokroaminoto dengan tegas menentang Marxisme yang dikembangkan oleh Karl Marx. Menurutnya, sekali pun paham sosialisme akan memperbaiki taraf kehidupan manusia, tetapi pada dasarnya filsafatnya sudah sesat.

Masuk Partai Komunis

Kemudian Haji M. Misbach bergabung dengan dr. Ciptomangunkoesoemo dan menjadi anggota National Indische Partij (NIP). Tetapi pada kelanjutannya, ia merasakan NIP ini kurang keras dan akhirnya beralih ke Partij Komunis Indie (PKI). Di sini dia baru merasa menemukan partai yang sejalan dengan pikirannya (1920).

Salah seorang pengikut Haji M. Misbach yang bernama A. Dasoekie, dalam open bare-bare vergadering (rapat terbuka) PKI dan Sarekat Rakyat di Solo (15 Juni 1925), begitu memuji-muji pemikiran Karl Marx.

Karl Marx ini dianggapnya sebagai penolong umat Islam dan umat Islam wajib mengucapkan terima kasih, karena telah membantu menemukan permasalahan yang merintangi kemajuan umat Islam. Bahkan untuk menanamkan rasa kecintaan umat Islam terhadap Karl Marx, A. Dasoekie dengan beraninya menggunakan hadis yang diambil dari Kitab Jami’ush Shagir: “Innallaha layu’ayyidul Islama bi rijalin mahum min ahlihi (Tuhan Allah akan meneguhkan agama Islam, lantaran dari orang yang bukan Islam).

Menurutnya, sekali pun Karl Marx itu orang kafir, tetapi dia yang akan menuntun umat Islam mencapai kejayaan (Medan Muslimin, 05 Juni 1925 M, Tahun XI, no. 11).

Menghasut Umat Islam

Pandangan A. Dasoekie sebagai pengasuh Medan Muslimin, seperti di atas tidaklah berbeda dengan pendapat Haji M. Misbach, baik ketika di Solo mau pun dalam masa pembuangan di Manokwari Irian Jaya (sekarang Papua).

Dari tempat pembuangan ini Haji M. Misbach menulis Islamisme dan Komunisme yang isinya menghasut umat Islam untuk menerima komunis. Dipujinya Karl Marx sebagai pembela rakyat miskin dan dicelanya Kapitalisme sebagai biang dari kehancuran nilai-nilai kemanusiaan, termasuk agama dirusak oleh kapitalisme. Oleh karena itu kapitalisme perlu dilawan dengan historische materialisme.

Haji M. Misbach berkesimpulan bahwa seorang komunis yang tidak menerima Islam sebagai agama, menunjukkan bahwa orang tersebut bukan komunis sejati. Begitu pula sebaliknya, orang yang mengaku Islam tetapi tidak setuju adanya komunis, dengan berani dia mengatakan, bahwa orang itu bukan Islam sejati atau belum mengerti benar tentang agama Islam. Dan dengan lantang pula menuduh Muhammadiyah dan Serikat Islam Cokro itu dipimpin oleh penganut Islam yang palsu.

Sangat disayangkan, Haji M. Misbach sampai akhir hayatnya yang meninggal pada tanggal 25 Mei 1926 M, di Manokwari, masih tetap pada pendirian komunismenya. Dia tidak pernah menuliskan di Medan Muslimin ajaran Karl Marx dan Frederich Engels tentang agama: Religion is the opium of the people (Agama adalah candu bagi rakyat). Malah Haji M. Misbach dan Haroen Rosyid menjadikan Medan Muslimin sebagai majalah bulanan yang menyuarakan ajaran komunis.

Pengaruh Geo-Politik

Tingkah laku politik Haji M. Misbach dan kawan-kawannya seperti di atas, menunjukkan betapa besarnya pengaruh geo-politik informasi komunis di Indonesia dalam masa Gerakan Nasional. Lenin telah meletakkan perhatiannya sejak tahun 1908 untuk menjadikan negara-negara di Asia menjadi negara komunis di bawah kepemimpinannya. Dan keyakinan ini tetap dipertahankan hingga lima tahun menjelang ajalnya. G. Sinovjev dalam Die Weltpartei des Leninismus, memuat pernyataan Lenin: “Apa yang terjadi di Barat memang sangat penting, tetapi apa yang terjadi di Timur lebih penting, karena mereka memberikan arti terbukanya jalan berrevolusi”.

Belenggu Propaganda

Dari pesan atau testamen politik Lenin ini dapat dipahami, mengapa beberapa tokoh Islam tidak dapat memahami arti bantuan komunis terhadap perjuangan mereka. Belenggu propaganda palu arit membuat mereka mengalami krisis pemahaman dan krisis dalam mengoperasionalkan ajaran Alquran dan Sunnah dalam memerdekakan tanah airnya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Abu Malik – Banten.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker