Pemikiran Islam

Menegaskan Kembali Eksistensi Bahasa Arab Sebagai Bahasa Wahyu dan Peradaban

Bahasa Arab (اللغة العربية) adalah salah satu bahasa Semitik Tengah, yang termasuk dalam rumpun bahasa Semitik dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semitik. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama, yang mana sebagian besar tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Hingga saat ini bahasa Arab merupakan bahasa resmi tidak kurang dari 25 negara di dunia dan salahsatu bahasa internasional yang digunakan secara resmi oleh Persyarikatan Bangsa-Bangsa.

Selain sebagai bahasa yang secara aktif digunakan dalam komunikasi internasional, bahasa Arab merupakan bahasa ilmiah yang telah lama menarik perhatian para sarjana dan ilmuan di dunia. Seorang Profesor linguistik dari University of London, Hilary Wise, menegaskan, “As the language of The Koran the holy book of Islam, it is taught as a second language in Muslim states throughout the world.” Wajarlah jika bahasa Arab memikat intelektualitas para sarjana untuk mengkajinya secara serius, termasuk dari kalangan non muslim. Sekedar contoh, Harvard University, sebuah perguruan tinggi bergengsi kelas dunia yang didirikan oleh tokoh-tokoh dan ilmuan Protestan, juga Georgetown University, sebuah universitas swasta Katolik memiliki pusat studi Arab yang merupakan Center for Contemporary Arab Studies (Azhar Arsyad, 2010).

Secara teologis dan historis umat Islam memahami bahasa Arab sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari Islam. Kenyataan seperti ini terutama didasarkan pada penggunaan bahasa Arab sebagai medium ekspresi bahasa wahyu Allah s.w.t. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang secara faktual-historis menjadi bukti kebenaran risalah ilahiyah yang dibawanya yaitu Al-Qur’anul Karim. Dalam hal ini bahasa Arab memiliki kedudukan lebih dari sekedar bahasa teknis penyampaian pesan-pesan ketuhanan karena kemukjizatannya dari aspek sastra dan bahasa yang tak tertandingi sepanjang masa.

Tingginya muatan nilai serta ekspresi puitis yang khas dan unik mempunyai kekuatan metafisis yang unik pula pada para pendengarnya yang sekaligus memberikan pengaruh yang luar biasa secara lahir dan batin, karenanya ketika bahasa mediumnya dipindah dari bahasa Arab ke bahasa lain manapun, keunikan metafisis tersebut akan hilang. Berdasarkan hal ini, para sarjana, baik muslim maupun non-muslim, berpendapat bahwa Al-Qur’an tidak dapat diterjemahkan secara harfiyah. Muhammad Marmaduke Pickthall, seorang sarjana muslim Inggris ahli sastra Inggris menyebut karya terjemahan puitis Al-Qur’an yang ditulisnya sebagai “The Meaning of the Glorius Koran“ bukan “The Koran” itu sendiri. Percetakan Al-Qur’an milik Kerajaan Arab Saudi di Madinah memberi judul “Tarjamatu Ma’ani al-Qur’an al-Karim”(Terjemah Makna Al-Qur’an) untuk Al-Qur’an versi bahasa Indonesia yang diterbitkannya.

Demikian pula, A.J. Berry, seorang sarjana non muslim, dalam bukunya “The Koran Interpreted”memberikan kesaksian sebagai berikut : “…I urge the view that an eternal composition, such the Koran is, cannot be well understood if is submitted to the test only temporal criticism…the logic of revelation is not the logic of schoolmen. There is no “before” or “after” in the prophetic message, when the massage is true; ever lasting truth is not held within the confones of time and space, but every moment revelas itself wholly and completely…The mystic’s experience, attested as it is by a cloud of witnesses, surely provides the key to the mysterious inconsequence of the Koranic rhetoric. All truth was present simultaneously within the prophet’s enrapted soul; all truth, however fragmented, revealed itself in his inspired utterance. The reader of the Muslim scriptures must strive to attain the same all-ebracing apprehension. The sudden fluctuations of theme and mood will then no longer present such difficulties as have bewildered critics ambitious to measure the ocean of the prophet eloquence with the thimble of pedestrian analysis. Each Sura will no be seen to be a unity within itself, and the whole Koran will be regocnized as a single revealation, self-consistent in the highest degrees…”. Pendek kata, apresiasi terhadap Al-Qur’an tidak cukup secara kognitif dan rasional semata, namun perlu dengan apresisasi spiritual yang memancar dari keunggulan ekspresi linguistik yang menggunakan medium bahasa Arab (Nurcholis Madjid, 1992).

Relasi yang sedemikian kuat antara bahasa Arab sebagai bahasa kemanusiaan di satu sisi, serta sebagai medium ekspresi wahyu Allah s.w.t. (Al-Qur’an & Sunnah) di sisi lainnya, dinyatakan oleh Karl Brockelmann, guru besar Sastra dan Bahasa Arab di Universitas Leiden, sebagai faktor utama ekspansi bahasa Arab secara spektakuler yang tak dimiliki oleh bahasa-bahasa lainnya di dunia. Sebagai bahasa ritual keseharian umat Islam, bahasa Arab unggul di atas semua bahasa dunia. George F Kneller, dalam bukunya “Science as a Human Endeavor” menulis : “Bala tentara Islam…tidak berbekalkan apa-apa secara kultural selain dari Kitab Suci dan Sunnah Nabi. Tapi karena inner-dynamic-nya, maka ajaran Islam itu telah menjadi landasan pandangan hidup yang dinamis yang kelak…memberi manfaat untuk seluruh umat manusia.” (George F Kneller, 1978). Wajarlah seorang  khalifah Umar  Ibn Khaththab r.a. menasehati kita : اِحْرِصُــوْا عَلىَ تـــَعَـلُّمِ الُّلغَةِ اْلعَــرَبِيَّةِ فَإِنّــــهَا جُـــــــــزْءٌ مِنْ دِيْنِـكُمْ” “ (Tamaklah mempelajari bahasa Arab karena ia merupakan bagian dari agama kalian). Spirit yang sedemikian mulia telah berhasil melahirkan tokoh-tokoh ulama besar dari kalangan sahabat seperti;  Abu Hurayrah, Abu Dharr al-Ghiffari, Salman al-Farisi, ‘Abdullah ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Al-Zuhri dll, r.a. Kemudian generasi berikutnya; Qadi Surayh (w. 80/ 699), Muhammad ibn al-Hanafiyyah (w.81/700), Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz ( w.102/720) Wahb ibn Munabbih (w.110,114/719,723), Hasan al-Basri (w.110/728), Ghaylan al-Dimashqi (w.123/740), Abu Hanifah (w.150/767), Malik ibn Anas (w.179/796), Abu Yusuf (w.182/799), al-Shafi’i  (w.204/819), Imam Bukhari (194-256 H/810-870 M), Imam Muslim (204-261 H/820-875M), Al-Nasa’I (215-303 H/830-915M), Ibnu Majah, Imam Turmudzi (209-279 H/824-892M), Imam al-Thabari (224-310 H/839-923 M), Al-Qurthubi (600-671 H/1204-1273 M), Ibnu Katsir (700-774 H) dan lain-lain.

Keutamaan bahasa Arab tidaklah terbatas pada aspek spiritual belaka sebagaimana telah dijelaskan. Tidak sampai seratus tahun dari kelahiran Islam di Jazirah Arabia, bahasa Arab telah mengalami internasionalisasi sedemikian rupa seiring dengan ekspansi dan perkembangan Islam ke beberapa wilayah dan negara yang sebelumnya berada di bawah otoritas (peradaban) Persia dan Romawi. Dalam rentang waktu yang tidak terlampau panjang bahasa Arab telah menampakkan kejayaannya sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan kebudayaan (J. Pedersen, 1996). George Sarton dalam bukunya, Introduction to the History of Science, menuliskan :”Arabic was the international language of science to a degree which has never been equaled by a nother language except Greek, and has never been repeated since. It was the language not of one people, one nation, one faith, but of many peoples, many nations, many faiths.”(Dihyah, 2011). Philip K Hitti, dalam bukunya, History of The Arab, menyatakan bahwa, umat Islam  di Spanyol telah memprakarsai gerakan intelektual yang membuat Spanyol-Islam dari abad 9 sampai 11 menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam. Kemajuan dalam bidang seni, sastra, ilmu agama, sains, filsafat, tata kota dan lain-lain telah mempesona orang-orang Kristen yang akhirnya mereka terdorong untuk meniru gaya hidup orang Islam. Karena jumlah mereka cukup banyak dan membentuk kelas sosial tersendiri maka akhirnya orang-orang peniru itu diberi julukan Mozarab (Musta’rib).

Ketika Barat mengalami the dark ages bahasa Arab tampil sebagai bahasa ilmiah dan bahasa komunikasi internasional pada masa the golden ages of Islam pada rentang waktu tahun 650 sampai tahun 1250. Sejarah mencatat, ketika Baghdad dan Andalusia menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan, bangsa Eropa yang menjadi penduduk asli Andalusia menggunakan bahasa Arab dan adat-istiadat Arab dalam kehidupan sehari-hari. Raja-raja Spanyol nonmuslim seperti Peter I, raja Aragon, hanya mengenal huruf Arab. Alfonso IV mencetak mata uang dengan memakai huruf Arab. Di Sicilia, Raja Normandia, Roger I, menjadikan istananya sebagai tempat pertemuan para filsuf, dokter-dokter, dan ahli Islam lainnya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang ditimba dari kebudayaan yang berbahasa Arab. Roger II dalam pelbagai hal banyak dipengaruhi kebudayaan Islam. Pakaian kebesaran dikenakannya adalah pakaian Arab; gerejanya dihiasi dengan ukiran dan tulisan-tulisan Arab. Peradaban Islam dan Arab pada masa itu bukan hanya berpengaruh bagi bangsa Eropa yang berada di bawah atau di bekas kekuasaan Islam, tetapi juga bagi bangsa Eropa yang lain seperti Perancis, Inggris, Jerman dan Italia. Pemuka-pemuka Kristen seperti Gerbert d’Aurillax (yang kemudian menjadi Paus dengan nama Sylvester II (999-1003) belajar di Andalusia; Adebarld belajar di Andalusia dan Sicilia. Adebarld kemudian menjadi salah satu penerjemah handal buku-buku Arab ke dalam bahasa Latin (Siti Rohmah Soekarba,tt.)

Kejayaan bahasa Arab sebagai medium ekspresi sains di masa keemasan Islam dapat dibaca kembali pada beberapa ilmuwan legendaris dari Cordoba. Diantaranya ialah; ; AbbasIbnFirnas (810-887 M), pakar mekanik pesawat, planetarium, kristal buatan, dikenal sebagai orang pertama yang terbang. Ia juga dikenal sebagai manusia pertama yang mencoba penerbangan pada tahun 875 M, 10 abad sebelum dunia dirgantara Barat mengenalnya; Abul Qasim al-Zahrawi (936-1013 M) dikenal sebagai Abulcasis dalam peradaban Barat. Selain menciptakan peralatan bedah sendiri, ia menulis sebuah buku “Al-Tasrif”, ensiklopedi kedokteran terbesar dan diterjemahkan ke bahasa Latin serta menjadi rujukan para dokter di dunia Barat; Al-Jazari (1136-1206 M) seorang ilmuwan legendaris yang menemukan peralatan teknologi yang sangat monumental di zamannya. Selain dikenal oleh dunia teknik modern sebagai ‘perintis robot’, al-Jazari tercatat sebagai sarjana pertama yang menciptakan computer analog.

Selain nama-nama terbaca di atas, kita dapatkan pula seorang Ibnu Sahl (940-1000M) yang menemukan hukum pembiasan cahaya pada tahun 984 M. Ia adalah seorang ilmuwan yang menguasai tiga ilmu penting, yaitu optic, matematika dan fisika. Ibnu Haitsam (965-1039 M) yang lebih dikenal oleh dunia modern sebagai ‘Bapak Ilmu Optik Modern’ ternyata banyak sekali dipengaruhi oleh ilmuwan muslim sebelumnya, Ibnu Sahl. Pada tahun 845 M, Al-Muqoddasi (Hierosolomite) menulis buku Ahsan al-Taqasim fi Ma’rifati al-‘Aqalim yang dikenal sebagai karya geografi yang sangat monumental; Tsabit ibnu Qurra’ (Lahir 836 M) didapuk sebagai pendiri ilmu Keseimbangan karena buku yang ditulisnya Kitab fi’l-Qarastun(Buku Keseimbangan Balok). Inilah karya yang sangat monumental dalam bidang Ilmu Mekanik.

Berikutnya ialah; Abd al-Malik Ibn Quraib al-Asmai (740-828 M), pakar hewan, tumbuh-tumbuhan, peternakan; Muhammad Bin Musa al-Khwarizmi (Algorizm) (770-840 M), pakar matematika, astronomi, geografi, aljabar, algoritma; Abu ‘Uthman ‘Amr ibn Bakr al-Basri al-Jahiz (776-868 M), pakar ilmu hewan, Nahwu Sorof, ritorika, lexicografi; Yaqub Ibn Ishaq al-Kindi (Alkindus) (800-873 M), pakar filsafat, fisika, optik, kedokteran, matematika, metalurgi;  Jabir Ibn Haiyan/Geber (w. 803 M);  Ali Ibn Rabban al-Tabari(838-870 M), pakar kedokteran, matematika, kaligrafi, sastra;  Abu Abdullah al-Battani/Albategnius (858-929 M), pakar astronomi, mathematika, trigonometri; Muhammad Ibn Zakariya al-Razi/Rhazes (864-930 M), pakar kedokteran, optalmologi, cacar, kimia, astronomi;  Abu al-Nasr al-Farabi/al-Pharabius (870-950 M), pakar Sosiologi, logika, filsafat, ilmu politik dan musik; tak ketinggalan pula sosiolog muslim tersohor, Ibnu Khaldun.

Sejumlah nama besar dari kalangan ulama dan ilmuan yang sebagiannya telah kami  paparkan di atas merupakan bukti otentik dan tak terbantahkan bahwa di masa keterbelakangan ilmu pengetahuan manusia dan serta sarana kehidupan  yang sangat sederhana dan serba-terbatas pada masa silam, umat Islam dengan bahasa Arab yang sarat dengan muatan spiritual dan inner-dynamic-nyatelah mampu menjadi saksi sejarah dan saksi peradaban luhur di muka bumi ini. Sebuah peradaban utama yang karakteristiknya dapat kita rumuskan sebagai berikut; Pertama, peradaban yang berpondasikan pandangan hidup yang tauhidik (asas wahdaniyah) yang inspiratif agar hidup kita tidak disorientasi dengan berbagai wajah dan tipologi paganisme di setiap masa dan tempat; Kedua, peradaban kita menjadikan tempat pertama bagi prinsip-prinsip moral dalam setiap sistem dan berbagai bidang kegiatannya; Ketiga,peradaban kita berpegang teguh pada ilmu serta apresiatif dan mengangkat tinggi harkat dan martabat para ilmuwan termasuk para penuntut ilmu; Keempat, peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kesamaan antar-manusia serta kompatibel dengan aspek kemanusiaan pragmatis sepanjang masa secara komprehensif dan integral (insâniyah-‘âlamiyah- Syumuliah); Kelima, peradaban yang meletakkan secara seimbang dan proporsional antara kepentingan individu dan social (al-tawâzun bayna al-fard wa al-jamâah); Keenam, peradaban yang mengkombinasikan secara demes antara perkara-perkara statis-konservatif dan kemajuan zaman (tsabât wa al-tathawwur).

Itulah gambaran singkat apa yang telah dicapai oleh umat Islam terdahulu yang tentunya dapat dijadikan sebagai cermin peradaban kita di hari ini dan esok yang lebih baik. Sekecil apapun kontribusi yang kita dedikasikan di jalan pembangunan peradaban utama ini, insya Allah, sangat bermanfaat dan akan dicatat oleh Allah s.w.t. dalam timbangan kebaikan-kebaikan kita. Wallahu A’lami bi-al-shawab.

imania.web.id

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker