AkhlaqAl-IslamAqidahIbadahKemuhammadiyahanMuamalahPemikiran Islam

“PANCASILA ITU BUKAN AGAMA” (I)

Bagian I

PANCA artinya lima. Sila berarti dasar. Maka Pancasila ialah: suatu dasar yang lima jumlahnya. Pancasila adalah dasar negara kita Republik Indonesia sejak negara kita Republik Indonesia sejak negara kita merdeka pada tahun 1945. Pancasila ini dimuat dalam Muqadimah Undang Undang Dasar 1945 yang pertama, yang ketika itu masih bersifat darurat. Tetapi akhirnya Undang Undang Dasar 1945 itu tetap menjadi Undang Undang Dasar yang tetap, yang kita niatkan untuk tidak diubah.

Pancasila itu berbunyi sebagai berikut.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila, selain sebagai dasar negara kita, Republik Indonesia, juga sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.

Pancasila itu bukan agama.

Oleh Pemerintah, Pancasila tidak akan dijadikan agama, karena seluruh bangsa Indonesia sudah memeluk agamanya masing-masing.

Pasal 29 Undang Undang Dasar menyebutkan bahwa Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan negara melindungi seluruh rakyatnya untuk memeluk agama menurut keyakinan masing-masing dan melaksanakan ibadah

menurut kepercayaannya masing-masing. Dengan dasar Pancasila rakyat menghormati dan menghargai agama menurut kepercayaannya masing-masing.

Sampai tahun 1990 – menurut keterangan Pemerintah – rakyat Indonesia yang memeluk agama Islam berjumlah hampir 90 persen, atau lebih kurang 150 juta jiwa

Ketuhanan Yang Maha Esa

Sesungguhnya menurut agama Islam, Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Allah Yang Maha Esa itu artinya: dzat, nama dan karyanya adalah satu. Allah yang menciptakan segala sesuatu yang wujud ini. Bumi, langit, matahari, bulan, bintang, seluruh alam dan segala isinya. Termasuk kita umat manusia, semua adalah makhluk ciptaan Allah.

Allah yang mencipta, Allah pula yang menjaga dan memelihara. Sebaliknya Allah pula yang akan merusak segala sesuatu yang ada di alam ini. Allah yang memberi hidup kepada segala sesuatu yang hidup. Allah pula yang akan mematikan semua yang mati. Seluruhnya.

Allah tempat tujuan segala permintaan. Allah yang menjadi tujuan dan pusatnya segala kejadian. Allah tidak berputera dan tidak diputerakan. Allah tidak ada yang menyamai dan menandingi.

Perkataan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, yang dimaksudkan oleh Pancasila ialah, agar dengan keyakinan terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa itu seluruh bangsa Indonesia yang memeluk agama Islam – Kristen – Katolik – Budha dan Hindu-bahkan yang berpegang pada kepercayaan apa saja – harus saling menghormati, saling menghargai satu sama lainnya.

Dengan dasar sila Ketuhanan Yang Maha Esa diharapkan bangsa Indonesia tidak saling bertengkar, berselisih, saling mengejek satu kepada yang lain karena perbedaan agama yang dianut.

Dengan dasar sila Ketuhanan Yang Maha Esa, siapapun di antara bangsa Indonesia harus mempunyai keyakinan bahwa hidup ini tidak cukup hanya mementingkan keduniaan. Tetapi harus seimbang antara jasmani dan ruhani. Lahir dan batin. Dunia dan akherat.

Demikianlah yang dimaksudkan oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila atau dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab’ dimaksudkan agar bangsa Indonesia mempunyai keyakinan dan memegang teguh serta menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Manusia itu satu sama lain sederajat. Tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain, meskipun bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku dan beraneka ragam bahasa.

Bagi bangsa Indonesia, rasa kemanusiaan harus dapat menumbuhkan jiwa gotong royong. Tolong menolong satu dengan yang lain. Tenggang rasa, dan sebagainya.

Bagi bangsa Indonesia, rasa kemanusiaan harus dapat mencegah dari sifat-sifat ingin menang sendiri. Ingin berkuasa sendiri. Juga harus dapat menjauhkan dari sifat sombong, angkuh, mementingkan diri sendiri, siapa lu siapa gua.

Rasa kemanusiaan dalam Pancasila harus dapat menumbuhkan budi pekerti luhur. Meninggalkan sikap merendahkan orang lain.

Semuanya itu sesuai dengan tuntunan agama Islam, yang menuntunkan kepada semua manusia, bahwa:

1. Semua manusia adalah anak keturunan Nabi Adam. Sedang Nabi Adam sendiri diciptakan oleh Allah dari tanah, dari debu atau lumpur (tanah liat) Maka tidak berarti bahwa bangsa Arab lebih mulia dari pada bangsa lain. Ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia ialah dari taqwanya. Dari baktinya. Dari ketergantungan dan peng hambaannya kepada Allah.

2. Perbedaan bahasa, warna kulit, tempat kelahiran, tanah air, semuanya tidak menunjukkan kemuliaan yang satu lebih tinggi dari yang lain.

3. Tiap-tiap manusia, antara yang satu dengan yang lain, mempunyai kelebihan dan mempunyai kekurangan.

4. Manusia harus lebih memiliki rasa persatuan antara yang satu dengan yang lain.

Bersambung Part II

Sumber :  Pesan dan Warisan Pak A.R. Diterbitkan Oleh : PT BP Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 1995

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker