“Akan kupanggilkan  dari ayat-ayat-Ku (tanda-tanda kekuasaan-Ku) orang yang menyombongkan diri tanpa alasan yang haq di muka bumi,  dan sekali pun mereka melihat  semua ayat-ayat itu, mereka tidak juga percaya. Dan sekali pun mereka melihat jalan kebenaran,  mereka tidak juga menempuhnya.  Tapi jika mereka melihat kesesatan, akan mereka tempuh dengan  menganggapnya sebagai jalan kebenaran. Sebabnya adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan lalai terhadapnya.” (    Q.S.Al-a`raaf, 7:146).

 

            Di antara penyakit yang ada, maka penyakit di dalam hati (bukan penyakit hati/lever) merupakan penyakit yang paling parah, berat serta paling merugikan manusia. Bagaimana pun juga, penyakit tubuh selain penyakit hati, tidaklah akan mendatangkan mudarat atau kerugian  untuk seseorang melainkan  hanya akan mendatangkan kerusakan dan kerugian selama yang bersangkutan masih hidup. Apabila  seseorang terkena penyakit, maka tubuhnya lah yang menderita , tubuhnya lah yang menjadi sasaran penyakit, namun penyakit tersebut akan lenyap bila tubuhnya telah mati dan tidak ada kelanjutannya pada dunia yang lain, alam baka. Pada penyakit-penyakit hati, mengingat bahwa penyakit hati itu tidak menimbulkan rasa sakit serta tidak dapat terdeteksi oleh panca indera, namun penyakit tersebut  dapat menimbulkan kerugian /kemudaratan terbesar serta paling berbahaya, karena penyakit hati itu pasti menimbulkan  kerusakan pada agamanya. Sedang agama adalah modal kebahagiannya di dunia, tempat tinggalnya yang sekarang dan di akhirat, tempat tinggalnya nanti yang kekal dan abadi.

            Mengingat kemudaratan yang di timbulkan penyakit hait sedemikiana besar  serta sangat berbahaya, sudah semestinya kita mengerahkan  segenap tenaga dan pikiran berusaha segera menyembuhkannya selagi masih ada di dunia ini. Namun karena tidak dapat terdeteksi oleh panca indera dan tidak terasa sakit, maka sulitlah penyakit itu di ketahui dan di temukan.  Maka tidak heran kalau kita  menjadi kurang perhatian sehingga usaha kita mengobatinya amat minim dan lemah sekali, apa lagi untuk menyembuhkan !! benarlah apa yang di katakana oleh Iman Al-ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya Ulumuddin: “penyakit hati itu laksana penyakit sopak( belang) pada wajah seseorang yang tidak memiliki kaca cermin, jika ia di beritahu orang lain pun, mungkin ia tidak akan mempercayainya”

Akibat dari penyakit hati

            Banyak ancaman, azab dan hukuman di timpakan kepada seseorang akibat dari penyakit hati, kelak di akhirat. Namun ancaman tersebut tidak mudah di terima oleh mereka yang sudah parah dan rusak bashirohnya atau mereka yang lalai agamanya.  Banyak dari mereka yang lalai, memandang penyakit hati dapat di obati. Namun mereka menunda  pengobatannya menunggu nanti kalau sudah tua atau kalau sudah pensiun. Banyak pula mereka yang lalai dan bahkan memandang panjang angan-angan sebagai bagian kebaikannya di dunia, mereka mengira hasil korupsi, hasil rampokan atau hasil perjudian yang mereka sumbangkan untuk amal, dapat menebus dosa mereka. Bukannya mereka cepat-cepat bertobat dan mengembalikan  semua harta yang di dapat dari hasil kebathilan  atau kejahatan tersebut kepada yang memilikinya  semula.

Hanyalah untuk Allah

            Bahkan banyak pula yang bersifat riya (perasaan ingin di puji manusia) dalam melaksanakan ibadah, seperti yang banyak terjadi di negeri kita ini, padahal ibadah hanyalah untuk Allah  SWT dan bukan bagian manusia . banyak pula yang angkuh kepada sesama hamba Allah SWT, dengan semena-mena mengumbar caci-maki. Begitu banyak pula mereka yang mendendam dan membalas dendam begitu ada kesempatan. Dan jangan di tanya lagi tentang iri hati, dengki, sombong, takabur, sum`ah, lupa akan mati dan yang paling celaka adalah kebimbangan dalam agama serta lain-lain penyakit hati yang masih banyak jenisnya.  Bagi mereka yang masih di liputi dan mengidap penyakit hati serta berbuat kejahatan yang malahan mengira bahwa mereka telah berbuat kebaikan , ada baiknya memperhatikan firman Allah  SWT: “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu mengira bahwa kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman  dan melakukan amal soleh, yaitu sama dengan hidupnya dan matinya?alangkah  buruknya anggapan mereka,” (Q.S.Al-Jatsiyah, 45:21).

Dapat dideteksi 

            Sesunguhnya, tanda-tanda bahwa kita mengidap penyakit hati yang parah dapat di deteksi dengan introspeksi sebagai berikut :

  1. Malas mengerjakan berbagai macam ketaatan, seperti shalat, puasa dan ibadah yang lain.
  2. Merasa segan dan berat hati berbuat kebaikan , seperti menyantunianak yatim, memberi sedekah, menolong saudara dalam kesusahan, ikut shalat jenazah, dan lain-lain kebaikan.
  3. Sangat cinta kehidupan dunia dan mengumbar syahwat, menikmati zina, menikmati harta haram hasil korupsi dan judi, hasil menodong/meminta secara halus maupun kasar dan lainnya,
  4. Lupa akan kematian , menuntut ilmu hitam ilmu sihir, menyuakai klenikisme, menyukai nasihat dukun, memakai susuk pengasihan, operasi plastik untuk tampil sexy dan tetap muda, tato dan lain-lain perbuatan menipu orang.
  5. sangat cinta diri sendiri, seperti sangat ingin menjadi pemimpin sedang dirinya tidak mempunyai llmu. Suka menonjolkan diri dan tidak mau mengalah . suka memberi barangnya yang paling jelek kepada orang yang meminta (barang bekas). Sangat suka memuja diri sendiri dan membangkit-bangkitkan jasa dan pemberiannya pada orang lain.
  6. Tidak memiliki rasa malu, seperti suka mencampuri urusan orang lain, mengejek, memaki, mencela orang lain, memperlihatkan kekuasaannya, memperlihat aurat dan lain-lainnya
  7. Tidak mempunyai kasih sayang, seperti suka menganiaya orang, kejam kepada keluarganya (menipu keluarganya), membunuh binatang tanpa perlu, membunuh tanaman tanpa perlu, memfitnah orang untuk mencapai tujuan, menghambat dan mempersulit urusan, bakhil (kikir) dan lain-lainnya.
  8. Tidak menghargai waktu, seperti membuang-buang waktu, melamun,menghayal, menggunjing, bercanda keterlaluan, nongkrong dan ngobrol tanpa perlu, merasa mempunyai banyak waktu luang dan lain-lain
  9. Tidak menjunjung tinggi prinsip tauhid seperti suka menganggap sama agama islam dengan agama lain, menjelek-jelekkan sunnah Nabi SAW, menafsirkan dan mengartikan ayat alquran sesuai kemauan dan kepentingannya sendiri, bimbang hatinya apabila islam sedang bahaya, bimbang hatinya karena ternyata jarang kaum muslimin yang kaya raya.

            Sungguh masih banyak penyakit hati yang akan membinasakan  yang dapat kita saksikan dan amati pada mereka yang berpaling dan mendustakan  jalan Allah SWT. Padahal kalau kita mau berpikir, sangat aniaya kita ini kepada yang telah memberi hidup, karena dari firman-Nya jelas sekali: “Tidak aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembahku.”(QS.Ad-Dzariaat, 51:56). Satu saja penyakit hati itu hinggap padan kita, dapat di pastikan bahwa lama kelamaan kita akan terperosok ke dalam jurang kemaksiatan , maksiat kepada Allah SWT. Untuk itu kita harus selalu berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, agar apabila kita terlanjur berbuat kejahatan, kebaikan yang telah kita perbuat semoga dapat menutupi kejelekan kita itu. Hal itu sesuai dengan sabda nabi SAW: “bertaqwalah  kepada Allah di mana pun berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan  sehingga menghapus akibatnya,  dan bergaul lah sesama manusia dengan akhlak yang baik”.(H.R.Tirmizi-dari Abu Dzar.)

            Betapa banyak manusia yang telah bekerja keras membanting tulang guna menghadapi masa pensiun yang hanya beberapa tahun, namun lupa mempersiapkan bekal demi masa depan yang abadi, yang tak terhingga lamanya setelah kematian.

 

Sumber: Uswatun Hasanah 2017