AkhlaqAqidahIbadahPemikiran IslamTadabur

Perkara-Perkara yang Merusak Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

(Tauhidullah dalam Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah)

Perkara-Perkara yang Merusak Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

Dalam rangka memahami sifat Allah atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berkaitan dengan asmaul husna, ternyata terjadi kesalahan fatal yang dapat merusak penamaan atas nama-nama dan sifat-sifat Allah. Berikut jenis-jenis kerusakan yang dapat terjadi manakala orang tidak berhati-hati, yaitu:

Pertama: Tahrif (Mengubah)

Yang dimaksud dengan tahrif adalah mengubah lafazh aI-Asma ‘ul Husna dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi atau makna-maknanya.

Tahrif ini dibagi menjadi dua:

  1. Tahrif secara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh.

Misalnya, lafadz istawa (bersemayam) dirubah oleh kaum Jahmiyah dengan istaula (menguasai) dalam firman Allah:

 الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. ” (QS. Thaha: 5)

Hal semacam itu dilakukan juga terhadap ayat-ayat semacam itu, yang terdapat dalam Al-Qur’an, misalnya al-Furqaan: 59; as-Sajadah: 4; al-Hadid: 4; ar-Ra’d: 2; Yunus: 3; dan al-A’raaf: 54.

  1. Tahrif secara merubah makna

Artinya, tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya, tetapi melakukan penambahan terhadap maknanya. Contohnya adalah perkataan ahli bid’ah yang menafsirkan ghadhab (marah), dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam); rahmah (kasih sayang) dengan iradatul in’am (keinginan untuk memberi nikmat); dan al-Yadu (tangan) dengan an-ni’mah (nikmat).

Kedua: Ta’thil (Menolak)

Yang dimaksud dengan ta’thil yaitu menolak penetapan nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam dalil, baik secara keseluruhan maupun sebagian.

Contoh menolak secara keseluruhan adalah sikap sekte Jahmiyah, yang tidak mau menetapkan nama maupun sifat untuk Allah. Mereka menganggap bahwa siapa yang menetapkan nama dan sifat untuk Allah berarti dia musyrik.

Contoh menolak sebagian adalah sikap yang dilakukan sekte Asy’ariyah atau Asyaa’irah, yang membatasi sifat Allah hanya bebeberapa sifat saja dan menolak sifat lainnya. Atau menetapkan sebagian nama Allah dan menolak nama lainnya.

Ketiga: Takyif (Menggambarkan)

Yang dimaksud dengan takyif yaitu menggambarkan bagaimana hakikat sifat dan nama yang dimiliki Allah. Misalnya, tangan Allah digambarkan bentuknya bulat, panjangnya sekian, ada ruasnya, dan lain-lain.

Kita hanya wajib mengimani nama dan sifat Allah apa adanya, sebaliknya kita dilarang untuk menggambarkannya. Karena hal ini tidak mungkin dilakukan makhluk. Untuk mengetahui bentuk dan hakikat sebuah sifat, hanya bisa diketahui dengan tiga hal:

  1. Melihat zat tesebut secara langsung. Hal ini tidak mungkin dilakukan, karena manusia di dunia tidak ada yang pernah melihat Allah SWT.
  2. Ada sesuatu yang semisal zat tersebut, sehingga bisa dibandingkan. Ini juga tidak mungkin dilakukan untuk dzat Allah, karena tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah. Maha Suci Allah dari segala hal semacam ini.
  3. Ada berita yang akurat (khabar shadiq) dan informasi tentang dzat dan sifat Allah, baik dari Al-Qur’an maupun hadits. Karena itu, manusia yang paling tahu tentan Allah adalah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun demikian, beliau tidak pernah menggambarkan bentuk dan hakikat sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keempat: TamsiI/Tasybih

Yang dimaksud dengan tamsil atau  tasybih ialah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya atau menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta’ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi’Iiyah-Nya.

Tamsil ini dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Menyempakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya, orang-orang Nasrani yang menyerupakan al-Masih putera Maryam dengan Allah SWT dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.
  2. Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya, orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk dan memiliki tangan sebagaimana tangannya makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. [AI-Kawasyif Al-Jaliyah an Ma’ani Al-Wasithiyah, hal. 86]

Firman Allah dalam surat Ash-Shafat ayat 180 yang berbunyi:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Maha Suci Rabbmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah berkata: “Ada tasybih jenis ketiga, yaitu menyerupakan Sang Pencipta dengan ma’dumat (sesuatu yang tidak ada), tidak sempurna dan benda-benda mati. Inilah tasybih yang dilakukan oleh penganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak berbicara dengan Nabi Musa; Allah tidak mempunyai sifat al-Kalam (Berbicara); Allah tidak bisa dilihat (pada waktu di surga); Allah tidak bertempat di atas ‘Arsy dan Iain-lain.” (al-Aqidah at-Tadmiriyah 1/24)

Pandangan semacam ini sama dengan menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau benda-benda mati. Maha Suci Allah dari sifat-sifat kekurangan. Dalam hal ini Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖوَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11).

Sumber: Berkala Tuntunan Islam, edisi: 11/2013

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker