Akhlaq

Pesan Mahabbah untuk Para Pejuang di Bumi Wahyu

oleh : Fathurrahman Kamal, Lc, M.S.I
(Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

Penantian panjang itu berakhir dengan tasbih dan tahmid. Bagi saya pribadi, ini kenikmatan tiada tara. Tidak kurang dari delapan belas tahun yang lalu saya meninggalkan Kota Kenabian, setelah sebelumnya selama empat tahun (1995-1999), Allah Ta’ala amanahkan kenikmatanNya atas diri yang teramat lemah ini; hidup bertetangga dengan Rasulullah ‘alaihissalam sekaligus menimba ilmu dari sumur hikmah dan kebijaksanaan para Ulama mulia di bumi hijrah ini.

Hari mulia ini, Jum’at 22 Rabi’ul Akhir 1438 H/20 Januari 2017, peristiwa sejarah itu terukir di Tanah Suci yang Tercerahkan “Al-Madinah Al-Munawwarah”. Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di Kerajaan Arab Saudi resmi dikukuhkan secara langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bapak Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.

Sebagai hamba Allah yang pernah mengemban amanah sebagai penanggungjawab organisasi kemahasiswaan di Universitas Islam Madinah pada masa itu, KBMI (Keluarga Besar Mahasiswa Indonesia) 1998-1999, bersama Ustadz Ahmad Hanafi, M.A., saya menyampaikan beberapa pesan mahabbah kepada adik-adik yang hari ini dikukuhkan untuk menerima amanah sebagai pimpinan dan pengurus PCIM di Jazirah:

Pertama, luruskanlah niat. Ada banyak perkara remeh temeh berubah menjadi begitu tinggi, dan mulia di hadapan Allah bersebab niat. Pun pula sebaliknya, berbagai urusan spektakuler, sarat sorotan dan spektakuler, seketika menjadi hampa bak debu dan pasir berhamburan. Tak bernilai samasekali. “Innamal a’malu bin niyaat”.

Kedua, kesyukuran yang tak boleh henti atas karunia Allah Ta’ala hidup bertetangga dengan Rasulullah ‘alaihissalam sebagai penuntut ilmu, meneruskan tradisi Ashabus Shuffah yang tak lelah membersamai sekaligus menimba ilmu dan hikmah dari Baginda yang mulia ‘alaihissalam. Sungguh terpautnya dua nikmat ini tak mudah diraih, kecuali bagi mereka yang dipilihNya. Inilah saat terindah untuk menekuni ilmu, yang pada saatnya nanti akan menyirnakan dahaga umat di tanah air. Hidupkan hari-hari kalian dengan mulazamah kepada para Ulama di Harom Nabawi, gali mendalam telaga hikmah mereka sembari mematri adab yang kokoh dalam qolbu, akal, dan jasad.

Ketiga, sebagaimana wejangan para Salam bahwa “al-ardlu laa tuqaddisu al-rijal”, Tanah Suci tak selalu bermakna kesucian para penghuninya. Harus cerdas membedakan mana ajaran dan nilai-nilai dasar Islam yang autentik (tsawabit), dan mana pula bagian yang merupakan konstruksi budaya lokal (mutaghayyirat), yang tentu tidaklah mengikat kita secara syar’i untuk mengikutinya. Perspektif ini penting sekali di era kehidupan tak berbatas, jika tak cermat, sangat riskan “mengacaukan” cara pandang kita terhadap banyak perkara dalam kehidupan kita, bangsa, dan terkhusus lagi umat kita.

Keempat, sadarlah bahwa tujuan tafaqquh fiddin yang kini sahabat nikmati di Bumi Hijrah Nabawiyah ialah untuk kembali kepada umat di negeri kita tercinta Indonesia guna menyempurnakan “indzarul qawm” yang diamanahkan Allah Ta’ala dalam QS. At-Tawbah : 122 -“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya [ke medan perang]. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” Dalam konteks ini, ingatlah selalu keteladanan Hudzaifah Ibnul Yaman r.a. yang diajarkan oleh Nabi ‘alaihissalam tentang makna “melek realitas” umat yang didakwahinya. Di sini, wawasan lokal keindonesiaan, struktur budaya dan kultur masyarakat, kebhinekaan, kondisi terkini kemanusiaan pada skala geografis, dan berbagai permasalahan kompleks yang mengitarinya mutlak tak boleh luput dari cara pandang sahabat sekalian. Republik kita lahir dari rahim dan curahan darah para Syuhada’ dan Ulama. Perjuangan mereka tak kenal kata henti, sebabnya jangan lalai mengetahui tentang negeri kita. Ingatlah selalu, kalian pergi untuk kembali. Ya. Kembali kepada umat di Republik. Derita mereka, adalah derita kita.

Kelima, Persyarikatan Muhammadiyah menanti kontribusi perjuangan sahabat. Ketika sayap Dakwah dan Tajdid telah dikepakkan, pantang lagi menoleh ke belakang terlampau lama. Tataplah ke depan sambil beristi’nah kepada Allah untuk memberikan kemajuan-kemajuan operasional kepada umat dan bangsa kita. Kedua sayap ini sangat membutuhkan sahabat. Sadarlah, masa depan Persyarikatan dan umat kita pada umumnya, sebagiannya diletakkan oleh Allah Ta’ala di atas pundak sahabat. Muhammadiyah telah berijtihad untu k membumikan Islam yang bercirikan kemajuan-kemajuan, bahkan Indonesia dicitakan sebagai bumi dimana kita bisa mempersaksikan dan membuktikan peradaban utama yang tak lain dari karakter Islam yang sesungguhnya.

Cintailah Persyarikatan. Sayangilah umat. Tebarkan rahmat untuk semesta. Kita perlu merapatkan barisan jasad, dan tak kalah pentingnya lagi memperkokoh tarpautnya ruh-ruh kita, “al-arwahu junudun mujannadah”, sabda Sang Nabi ‘alaihissalam. Rekatkan ukhuwah, indahkan kepedulian sesama.

Selamat berjuang, semoga Allah Ta’ala memberkahi dan selalu membersamai sahabat!. Aamiin.

Al-Harom Al-Makki, Jum’at 27 Januari 2017

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker