defaultKhutbah ID Fitri

Spirit Ramadhan 1440 H : Ujian Keimanan dan Pentingnya Pengorbanan Untuk Agama

KHOTBAH IDUL FITHRI

1  SYAWAL 1440 H

Disampaikan di:

Hari Rabu, 5 Juni 2019

SPIRIT RAMADHAN 1440 H: UJIAN KEIMANAN

DAN PENTINGNYA PENGORBANAN UNTUK AGAMA

Oleh: Drs.Kamiran Qomar*

(Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

إنّ الحمد لله , نحمده و نستعيـنه ونستغـفره ونعـوذُ باالله من شرو ر أنفسنـا و من سيّـئـا ت ا عمالنـا من يهده لله فلا مضلَّ  له و من يضلل فلا ها دي له. واشهد ان لا إله إلاّ الله وحده لا شريـك له وا شهد أنّ محمّدا عبده ورسو له.

ياأَيّها الّذيـن ءامنوا اتّـقوا الله حقّ تقـاته ولا تموتنّ إِلاّ وأَنـتم مسلمـون. ياأَيّها النّاس اتّـقوا ربّكم الّذي خلَقـكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبثّ منهما رجالا كثيـرا ونساء واتّـقوا الله الّذي تساءلون به والأ رحام إِنّ الله كان علَيـكم رقيـبا. ياأَيّها الّذيـن ءامنوا اتّـقوا الله وقولوا قولا سديـدا. يصلح لكم أَعمالكم ويغفر لـكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فـقد فاز فوزا عظيما.

أمّا بعد، فإنّ أصدق الحديـث كتـابا الله ، وخير الهدي هـدي محمّـد صلّى الله عليه و سلـّم و شّر الأمو ر محد ثـاتها وكلّ محد ثـة بدعة  و كلّ بدْعـة ضلا لـة  و كلّ ضلا لة في النّـار. اللَّهمَّ صلّ على محمّد وعلى آ له وصحبِه و من تبعهم بـإحـسان إلى يو م الدّ يــن.

الله اكبر… الله اكبر… ولله لحمد

Wahai jama’ah sekalian yang dirahmati oleh Allah… yang kita semua telah ridha Allah sebagai Rabb bagi kita, Islam sebagai jalan hidup kita dan Muhammad kekasih Allah sebagai Nabi, Rasul dan panutan kita. Ketahuilah..! Sesungguhnya segala puji dan syukur hanyalah hak Allah semata. Dzat yang telah berkehendak mengutus para Rasul-Nya untuk menyampaikan kebenaran, sekalipun kebenaran itu kadang terasa pahit dalam pandangan manusia. Melalui para utusan-Nya, Allah telah membekali mereka dengan cahaya yang memancar, mengajak kepada setiap kaumnya dengan membawa suatu bukti yang jelas, menunjukkan jalan terarah disertai dengan kitab pedoman yang membimbing. Oleh karena telah diterangkannya perintah yang terperinci, argumen yang meyakinkan dan ajakan yang meluruskan nan menjanjikan, maka barangsiapa yang mengambil sistem hidup, pandangan hidup, aturan hidup ataupun pedoman hidup selain Islam, pastilah dirinya akan mendapati kesusahan, tiang penopang hidupnya akan patah, nasibnya akan jatuh parah, kesudahannya adalah suatu kepedihan yang panjang dan hukuman yang teramat menyedihkan.

Wahai Engkau Ya Allah, Rabb Yang Maha Mengasihi dan Menyayangi hamba-Nya, Dzat yang akan membalasi sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan di dunia dan akan membalasi sekecil apapun kejahatan yang dilakukan manusia, kiranya dapat Engkau kirimkan Ya Allah… shalawat yang terbaik dan berkah yang berlipat ganda kepada baginda Rasulullah SAW, kepada keluarga dan sahabatnya, kepada para pengikut setia beliau; yang pijakan telapak kakinya takkan pernah bergeser dari jalan kebenaran dan akan terus senantiasa menyuarakan kebenaran, sekalipun orang-orang munafik tidak menyukainya akan tetapi mereka tetap istiqomah dalam keadaan seperti itu.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pada hari yang penuh barakah Idul Fithri 1 Syawal 1440 H, hari dimana kita semua terharu, sedih bercampur gembira dan diselimuti suasana suci. Semoga kita benar-benar kembali kepada kehidupan yang bersih dari dosa setelah ditempa dengan ibadah puasa. Inilah hari yang membahagiakan namun juga menyedihkan. Bahagia karena telah mendapatkan ifthar setelah satu bulan berpuasa, namun juga sedih karena harus berpisah dengan bulan ramadhan yang di dalamnya penuh dengan maghfirah dan barakah Allah. Maka sudah sepatutnya kita duduk bersimpuh, bertekuk lutut di hadapan Allah, seraya bersyukur mengagungkan asma-Nya dengan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid ke hadirat Allah ‘azza wa jalla.

Oleh karena itu, setelah berpuasa Ramadhan satu bulan penuh maka sudah semestinya kaum muslimin hendaknya menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah, yang ditandai dengan semakin tingginya tingkat ketundukan dan kepatuhan terhadap aturan-aturan Allah. Sebab, betapa banyak orang yang berpuasa Ramadhan namun puasanya itu tidak dapat meningkatkan derajatnya di hadapan Allah. Patut disayangkan, bila kita temui orang yang melaksanakan puasa Ramadhan namun puasanya belum mampu menjadi benteng baginya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar; sungguh menyedihkan bila melaksanakan puasa Ramadhan namun masih bersikukuh menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan; dan yang mengherankan, puasa Ramadhan dijalankan namun masih menolak jika hidup dan kehidupannya diatur dengan aturan Islam secara keseluruhan.

Fenomena ‘puasa’ tersebut terjadi karena pada hakekatnya mereka tidak memahami fungsi puasa sebagai ibadah untuk penyucian jiwa dan ‘taqarrub ilallah’, sebab ibadah puasa adalah perisai bagi orang beriman dan bukannya sekedar latihan menahan dahaga dan lapar. Oleh karena itu, sangatlah disesalkan pula ketika momentum 1 Syawal yang mestinya digunakan untuk berbenah diri, melanjutkan kehidupan dengan penuh spirit kesucian setelah satu bulan berpuasa, justru dijadikan sarana berbangga diri, riya’, pamer harta hingga adu kekayaan di hadapan sanak saudara. Maka dari itu patutlah direnungkan firman Allah:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbagga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keredhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid 57: 20)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Itulah kesenangan yang menipu. Menipu semua orang yang memperturutkan hawa nafsunya, mengelabui mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, hatta zur tumul maqaabir. Sampai tiba-tiba tak terasa dirinya masuk liang kubur dan di akhirat ia tak mendapatkan bagian apapun. Islam tidak melarang seseorang mempunyai kesenangan terhadap dunia, namun cinta kita kepada dunia haruslah kita letakkan dibawah cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan cinta berjuang untuk tegaknya agama Allah  di muka bumi. Tengoklah bagaimana kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, diantara mereka banyak terdapat orang-orang kaya harta. Namun, kehidupan mereka penuh kezuhudan, selalu dalam ketaatan, tak pernah hidup dalam kemewahan, glamour, dan bermegahan. Hidup dan kehidupannya pun didedikasikan semata-mata mencari keredhaan Allah SWT.

 

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Perjalanan hidup Khadijatul Kubro r.a tatkala mendampingi Rasulullah SAW dalam mengarungi samudera kehidupan sebagai utusan Allah patut kita jadikan suri tauladan. Seluruh harta kekayaan Khadijah diserahkan kepada suaminya, kepada Nabi SAW untuk memperjuangkan agama ini. Dua pertiga kekayaan kota Mekkah adalah milik Khadijah al Kubro, namun ketika Khadijah wafat hendak menghadap Allah Ta’ala,  tidak ada kain kafan yang digunakan untuk menutupi jasad Khadijah, bahkan  pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang telah usang nan kumuh dengan delapan puluh tiga tambalan, diantara ditambal dengan kulit kayu.

Maka dikisahkan, suatu hari Nabi SAW pulang dari suatu kerja dakwah. Ketika pulang masuk ke dalam rumah biasalah Khadijah menyambut berdiri di depan pintu, saat Khadijah hendak berdiri menyambut kehadiran sang Baginda maka Nabi SAW berkata, “Wahai Khadijah tetaplah kamu di tempatmu”. Ketika itu Khadijah tengah menyusukan Fatimah yang masih bayi.  Hadirin yang dimuliakan Allah SWT… Teramatlah besar pengorbanan Nabi dan Khadijah untuk agama ini, hingga bagaimana hari ini kita kenal Allah sebagai Rabb kita… hingga bagaimana hari ini kita kenal cara sholat, hingga hari ini kita kenal dengan cara beribadah kepada Allah yang sebenarnya…, Jama’ah yang dimuliakan Allah… oleh karenanya lah seluruh harta kekayaan mereka telah habis, bahkan ketika Fatimah menyusu ibundanya bukan air susu yang keluar, tetapi darah yang keluar dan masuk ke dalam mulut Fatimah r.a. Maka Nabi SAW segera mengambil Fatimah yang sudah terlelap di dekapan ibundanya dan meletakkannya ke tempat tidur mereka. Gantilah Nabi SAW berbaring di pangkuan Khadijah r.a.

Oleh karena Nabi SAW setelah begitu lelah jumpa manusia, dengan menghadapi pendustaan, penghinaan, caci maki dan fitnah manusia ketika itu nabi pun tertidur. Ketika itulah Khadijah dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi SAW. Tak terasa air mata Khadijatul Kubro menetes di pipi Nabi SAW. Nabi pun terjaga, “Wahai Khadijah kenapa engkau menangis?” Apakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad, dahulu engkau wanita bangsawan, engkau wanita yang dihormati dan dimuliakan, engkau wanita hartawan… tetapi hari ini engkau telah dihina orang, orang-orang banyak menjauhimu, seluruh harta kekayaanmu habis… Apakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad yaa Khadijah…??”,

Khadijah berkata, “Wahai suamiku… wahai Nabi Allah…bukan itu yang aku tangiskan, dahulu aku memiliki kemuliaan, kemualiaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, dahulu aku punya kebangsawanan…kebangsawanan itupun aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, Wahai Rasulullah… sekarang aku tak punya apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah.., sekiranya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit atau jembatan pun… maka engkau gali saja lubang kuburku.., engkau ambilah tulang belulangku wahai suamiku Rasulullah, susunlah tulang belulangku…Engkau jadikan sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu sehingga dapat jumpa manusia, ingatkan mereka akan kebesaran Allah, ingatkan mereka kepada yang haq, ajak mereka kepada Islam yaa Rasulullah…

 

Tuan-tuan yang dimuliakan Allah SWT

Seorang Nabi yang agung, seorang istri yang agung, suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini. Agama tersebar, hari ini kita kenal Allah, tidak dengan mudah jama’ah yang mulia, agama sampai dalam kehidupan kita, agama sampai ke kampung-kampung kita, agama masuk ke rumah-rumah kita, agama sampai ke dalam hati kita, bukan di dibawa oleh burung, bukan dibawa oleh angin, bukan dibawa oleh air sungai yang mengalir, bukan jama’ah yang mulia… tapi dibawa oleh pengorbanan Nabi dan sahabat, dibawa oleh istri-istri para sahabat, dibawa oleh pengorbanan yatim-yatim para sahabat…

Hari ini kita kadang-kadang senang amalkan agama di atas jasa dan penderitaan para Nabi, penderitaan Khadijatul Kubra, diatas penderitaan jeritan janda-janda dan yatim sahabat. Kalaulah hari ini kita tidak hargai pengorbanan mereka, apa yang harus kita jawab di hadapan Allah SWT. Apa yang akan kita jawab di hadapan nabi kalau kita jumpa Nabi, apa yang akan kita jawab kalaulah kita jumpa Abu Bakar yang telah menghabiskan seluruh kekayaan dan harta bendanya untuk agama, apa yang akan kita jawab wahai ibu-ibu yang mulia… kalau ibu-ibu jumpa dengan istri para sahabat yang telah mengorbankan suami-suami mereka syahid di jalan Allah. Apa yang akan kita jawab sekiranya kita jumpa dengan anak-anak yatim para sahabat, sedangkan mereka telah mengorbankan ayah-ayah mereka untuk memperjuangkan agama ini.

Agama ini sangat berhajat kepada pengorbanan jama’ah yang mulia..agama tidak akan tersebar semata-mata dengan tulisan, agamapun tidak akan tersebar dengan bercakap-cakap saja, agama tidak akan pernah wujud dalam kehidupan tanpa kita mengorbankan diri kita. Hidayah akan datang dalam diri kita melalui pengorbanan, agama akan tersebar, hidayah akan tersebar ke ujung-ujung dunia dengan pengorbanan jama’ah yang mulia.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Namun hari ini.. hari dimana penuh dengan gejala dan tanda akhir zaman, persaksian keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, syahadat kita, ke-Islaman kita dan tekad kita untuk berkorban terhadap agama ini betul-betul membutuhkan perwujudan, bukan sekedar berhenti sampai lisan dan tenggorokan. Allah seakan hendak menguji kita, apakah kita betul beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, atau kita hanya berdiam diri hingga kita larut dalam kesesatan dan kegelapan. Jama’ah yang mulia…,  kita ini serasa dilahirkan pada masa penuh penyimpangan dan tak bersyukur; dimana orang baik, sholeh, hanif, lurus dianggap jahat dan berbahaya, sementara orang lalim pun terus merajalela. Para pembela kehormatan Rasulullah dan penegak agama dikatakan sebagai kaum intoleran, wahabi, radikal, fundamentalis bahkan ekstremis. Akan tetapi pencaci maki Nabi, penghujat kalimat Allah dan perusak hukum-hukum agama mendapatkan tempat sebagai orang yang mulia dihadapan negara. Parahnya, media mainstream sangat kompak membuat opini sesat, merubah kebatilan menjadi sebuah kebenaran, dan kebenaran menjadi sebuah kebatilan.

Benar sabda Rasulullah SAW;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang diserahi urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)

Hari ini mungkin belum ada kekuatan dan ekspedisi militer negeri kuffar yang terang-terangan menyerang kaum muslimin di Indonesia. Akan tetapi, infiltrasi perlahan untuk merusak kedaulatan, dan penetrasi pemikiran menyimpang serta berbahaya seperti syi’ah, komunisme, faham relativisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme dan faham kebebasan tanpa batas seakan terus merangsek masuk hendak merobohkan pagar aqidah umat Islam. Hal ini sejalan dengan metode yang pernah diungkapkan seorang Bapak Misionaris yaitu Peter Venerable, di tengah berkecamuknya Perang Salib, Peter membuat pernyataan:. Aku akan menyerang kalian kaum muslimin, bukan sebagaimana sebagian dari kami  sering lakukan,. Kalau mereka menyerang dengan senjata, kami akan menyerang dengan kata-kata. Kalau mereka menyerang dengan kekuatan, kami akan menyerang dengan pikiran. Tidak dengan kebencian, namun dengan cinta…”.  Menurut Peter, Islam adalah sekte kafir terkutuk sekaligus berbahaya (execrable and noxious heresy), doktrin berbahaya (pestilential doctrine), ingkar (impious) dan sekte terlaknat (a damnable sect); dan Muhammad adalah orang jahat (an evil man).

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Mestinya peran ulama dan umara’ sangat diharapkan agar dapat menjadi perisai penangkal virus berbahaya ini. Namun parahnya, banyak di antara oknum tokoh Islam yang lihai berbicara tentang ajaran Islam dan mempesona pendengarnya, seolah-olah dia pembela Islam. Mereka tampil meyakinkan di depan masyarakat tentang ketulusan dan kebaikannya, padahal hatinya penuh dengan kedengkian, culas dan menentang Islam. Mereka merajut dusta, sehingga berbeda omongan dan fakta. Ada diantara mereka punya kesempatan dan otoritas di pemerintahan untuk meninggikan Islam, tapi tidak dilakukan. Kaum munafik pandai memoles diri dengan kata-kata. Di depan orang Islam nampak lebih Islami dari orang Islam lainnya. Sebaliknya di depan orang kafir, dia lebih berani memusuhi Islam daripada orang kafir. Mereka memuji kebaikan Islam, tapi pekerjaannya adalah membonsai Islam dan kaum muslimin dari dalam.

Sedihnya pula, disaat sinar nasehat, petuah, serta bersatunya ulama yang dinanti untuk menerangi dan mempersatukan umat ini, namun lenteranya justru jatuh retak, sorot cahayanya terpecah menjadi dua arah, bingkainya terkoyak akibat tak kuat menahan derasnya arus perebutan kekuasaan yang sedang berlangsung di negeri ini. Hingga sedih hati ini, mendengar istilah adanya ulama ‘kanan’ dan ulama ‘kiri’. Bukan hanya berakibat retaknya persatuan ulama, perhelatan akbar pergantian kepemimpinan lima tahunan pun menghasilkan cerita yang memilukan; saling caci antar anak bangsa hampir terjadi tiap hari, fitnah-fitnah keji tersiar tak terkendali, berita palsu (hoax) sangat masif tersebar di tengah masyarakat, hingga yang memprihatinkan…, tragedi kemanusiaan dengan korban jiwa malah terjadi saat pertengahan ramadhan. Malam syahdu yang mestinya dipenuhi dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an, justru menjadi ajang pertempuran, bentrokan berdarah antara aparat keamanan dan para demonstran yang mencari keadilan.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Ssesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda,

أَلَا إِنَّ  رَحَى الْإِسْلَامِ دَائِرَةٌ ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ ، أَلَا إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ ، فَلَا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ ، أَلَا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ  يَقْضُونَ لِأَنْفُسِهِمْ مَا لَا يَقْضُونَ لَكُمْ ، إِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ ” قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : ” كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرَ ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ “

Dari Mu’adz bin Jabal-, dia berkata; Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya roda pengilingan Islam terus berputar, maka hendaklah kalian berputar bersama kitab Allah kemanapun ia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’an akan berpisah dengan kekuasaan, maka janganlah kalian memisahkan diri dari Al-Qur’an. Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para penguasa yang memutuskan perkara untuk kepentingan diri mereka sendiri dan tidak memutuskannya untuk kepentingan kalian. Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membinasakan kalian. Namun jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami lakukan?” Beliau SAW menjawab, “Lakukanlah sebagaimana hal yang dilakukan oleh para pengikut setia nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu. Mati di atas ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani)

 

 

Untuk itulah kiranya, sangatlah pantas jika pada hari raya Fithri ini kita bermunajat kepada Allah SWT, agar sang Khaliq memberikan kedamaian dan ketentraman kepada bangsa kita, menjauhkan bangsa ini dari bala’ dan marabahaya, mengkaruniakan kepada kita pemimpin yang jujur dan adil, pemimpin yang mencintai rakyat dan dicintai oleh rakyatnya, pemimpin yang tidak menyelisihi petunjuk Allah dan sunnah Rasul-Nya didalam mengemban amanah bangsa ini, hingga terwujud Indonesia yang aman, tenteram, dalam ridha Allah SWT.

Do’a

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita berdo’a kepada Allah dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan jiwa, menjernihkan pikiran, semoga Allah berkenan membukakan pintu hidayah dan mengabulkan do’a hamba-Nya yang ikhlas.

 

اللَّهمّ صلّ على محمّد وعلى ا له وصحبه و من تبعهم بِإحسان إلَى يو م الدّ ين, اللّهمّ ا غفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين و لمؤمنات ا لا حياء منهم والا موا ت, انّك سميع قريب, ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين. اللّهمّّ انصر مجاهديـن فى كلّ مكان . ر بّنا آ تنا في الدّ نـيا حسنة وفي ا لآ خرة حسنةَ و قنا عـذاَب النّا ر.

 

File PDF DOWNLOAD

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker