Terorisme Dan Jihad Fi sabillah

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang melampaui batas”.(Q.S. Al-baqarah 2:190).

 Menurut Al-kalbiy, dari abu salih, ibnu Abbas, bahwa ayat ini di turunkan mengenai perdamaian hudaibiyah antara umat islam dan kaum kafirin musyrikin Makkah, yaitu, ketika Rasullah SAW dan para sahabat di haling-halangi untuk pergi mengunjugi baitullah (masjidil haram) Untuk umrah.

Di hudaibiyah (22 KM sebelah barat kota Makkah ) mereka di halang-halangi tidak masuk kota Makkah oleh kaum kafirin musyrikin. Setelah tertahan beberapa hari di sana, terjadilah kesepakatan untuk berdamai, tidak saling menyerang selama 10 tahun. Dan di tahun depannya, Nabi SAW dan umat islam boleh masuk kota Makkah untuk melakukan ibadah haji.

Tahun depannya (tahun ketujuh hijriyah) Rasullah SAW dan para sahabat pun kembali menuju Makkah untuk beribadah umrahnya yang tahun lalu tertunda. Umat islam khawatir jika kaum quraisy tidak menepati janji perdamaian, sehingga meraka menghalang-halangi masuk masjidil-haram dan memerangi.

Padahal umat islam tidak ingin berperang pada bulan haram, karena pada dasarnya memang di larang pada bulan-bulan itu. Karena hal itum, Allah SWT menurunkan ayat yang kita kutipkan sebagai muqaddimah di atas, yang menyuruh memerangi di jalan Allah terhadap orang-orang kafir yang memerangi umat islam.

Di dalam ayat lainnya (Al-hajj 22:23) , Allah mengijinkan berperang menghadapi orang yang memeranagi dan menganiaya. Ayat ini berkenaan dengan umat islam yang di sakiti oleh kaum musyrikin makkah. Kaum kafirin musyrikin itu selalu memukuli dan melukai umat isalm, karena hal itu , mereka menagadukannya ke rasullah SAW. Nabi SAW menjawab: “bearsabarlah, aku belum di perintahkan untuk berperang”. Keadaan berlaku sampai rasullah SAW hijrah ke Madinah.setelah itu, baru Allah menurunkan ayat tentanga izin melawan orang-oranga zalim/ memerangi umat islam. Jadi perang yang di izinkan Allah itu bersifat defensif (mempertahankan diri ), bukan ofensif (menyerang dahulu).

Jihad `Aamm Dan Jihad Khaash

Banyak orang mengartikan jihad dengan perang. Sebagai jihad fi sabilillah di artikan sebagai berperang di jalan Allah. Padahal, padahal pengertian jihad itu lebih luas dari sekedar qotal(perang). Memang, perang itu termasuk bagian dari jihad itu dan perang dapat di lakukan jika syarat-syarat kebolehannya di terpenuhi. Di antaranya perang itu bukan agresif, mempertahankan yanga haq (kebenaran agama Allah).

Begitu luasnya pengertian jihad, maka Almarhum Prof. DR.T.M. Hasbi Ash-shiddieqy dalam bukunya yang terbit pada tahun 1954, yaitu ilmu pertahan negara dan militer dalam islam, menyatakan bahwa ada jihad `Aamm, adalah mengerahkan saegala kesanggupan untuk menolong agama dan negara dengan berbagai macam jalan. Sedangakan jihad khaash adalah perang, menentang musuh dan mempertahankan diri dengan senjata. Selanjutnya beliau menerangkan bahwa , umat islam harus selalu berjihad di manapun dan kapanpun. Jika jihad khaash tidak ada, jihad `Aamm tetap ada sepanjang masa. Bahkna di kala melancarkan jihad khaash, jihad `aamm tetap di lakukan juga.

Yang Di ridhai Allah

Begitu luasnya ruang lingkup jihad `aamm, semua hal yang di ridhai Allah dalm rangka meninggikan agama-Nya (islam). Al-maragi dalam tafsirnya, ketika membicarakan masalah sabilillah(jalan Allah) menyatakan : “yang dimaksud dengan( sabilillah )ialah berperang dan persiapanny untuk jihad”. Dan di riwayatkan oleh Ahmad bahwa beliau ( Nabi SAW) menjadikan haji termasuk sabilillah. Dan masuk pengertian sabilillah itu semua arah menuju kebaikan (seperti) mengkafani orang yang meninggal, memakmurkan masjid dan sebagainya.

Selanjutnya, Al-maragi menerangkan : pada hakekatnya yang di maksud dengan sabilillah  ialah kemaslahatan umum bagi kaum muslimin dengannya dapat di tegakkan agama dan negara(bukan sekedar urusan perorangan) seperti urusan keamanan haji, menyediakan keperluan air dan makanan dan menyediakan sarana kesehatan bagi para jama`ah haji.

Prof. Drs. H. Asjmuni Abdurahman dalam manhaj Tarjih Muhammadiyah (hal.82) menyatakan bahwa kemungkinan dari bahan tafsir Al-maragi inilah muktamar Tarjih muhammdiyah di Yogyakarta(1954 akhir atau awal)merumuskan pengertian sabilillah.

Terorisme, Apakah itu

Menurut pengertian bahasa, terror berarti extreme fear, ketakutan yang bersangatan, sangat takut,sedangkan terorisme adalah use of violence for political purposes, menggunakan kekerasan untuk tujuan-tujuan politik.

Banyak analisis sepakat , bahwa terorisme memiliki cara yang khas, yaitu menggunakan kekerasan secara sistematis untuk mencapai tujuan politik. Metodenya adalah pemboman, pembajakan, pembunuhan, penganiayaan, penyandraan atau singkatnya: aksi kekerasan bersenjata. Kita sepakat bahwa kekerasan yang dilakukan zionis Israel baru-baru ini adalah kejahatan, pelanggaran HAM, mereka lah teroris sebenarnya. Maka kita mengutuk  perbuatan biadab zionis Israel.

Bertentangan

jika demikian  itu di sebut terorisme, jelas bertentangan dengan ajaran islam, islam mengajarkan rahmatan li`alamin (menebarkan kasih sayang bagi seluruh alam) karena itu pula , jika terpaksa berperang mempertahankan ketinggian islam ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan dalam perang itu. Yahya ibnu Sa`id menceritakan bahwa Abu Bakar ketika mengerahkan barisan ke syam, dalam mengantar keberangkatan pasukan, beliau berpesan kepada yazid ibnu abu sufyan, komandan barisan, sebagai berikut :”jangan kamu membunuh wanita, anak kecil, dan orang yang sudah sangat tua. Jangan kamu menebang pohon yanga sedang berbuah, jangan merusakkan perkampungan yanga ramai, jangan membunuh binatang, terkecuali untuk di makan saja, jangan menebang ohon kurma atau merusak buahnya, jangan berlaku curang dan jangan berkhianat”. 

Islamic terrorisme, Apa pula Itu

Kalau terrorismo bertentangan dengan islam, padahal ada istilah islamic terrorisme (terrorisme islam) dan islamic terrorist (tukang teror islam),mengapa istilah itu muncul?

Istilah islamic terrorism sudah muncul pada tahun 1995-an, ketika menyebut perisitiwa bom mobil yang meledakkan gedung Alfred murrah di Oklahoma city, markas anggota rahasia dan biro penyelidik federal amerika serikat (FBI). Begitu ledakan terjadi, pihak keamanan mulai melirik-lirik kesana kemari untuk mencari siapa pelaku terror tersebut. Suara lebih santer lebih menuduh kelompok (yang di sebutnya) ekstremis muslim ,terrorisme muslim.padahal FBI brehasil menangkap tersangka pengebom mobil itu adalah bernama Timothy mc veigh (28 tahun), ia adalah seorang veteran militer AS dalam perang teluk yang tidak setuju dengan pada kebijakan pemerintah federal yang telah menyerbu markas sekte branch davidan, yang di anggao sesat pada 19 April 1993.

Merupakan Balas Dendam

Dari berbagai kasus yang ada, serangan terrorisme itu merupakan balas dendam yang tidak seimbang oleh sekelompok kecil yang tertindas terhadap kebijakan kelompok besar(suatu negara maupun penguasa). Sebagaimana telah di kutip oleh syamsul M. romli (demologi islam,hal.40) menggambarkan hal ini dengan jelas : yaitu dialog antara penguasa besar, Alexander agung, dengan seorang bajak laut yang tertangkap :”mengapa kamu berani mengacau seluruh dunia,” ucap si pembajak kembali bertanya.”Karena aku hanya melakukannya dengan perahu kecil, aku di sebut maling. Kalian melakukanya dengan kapal besar di sebut kaisar.”sindir si pelaut.

Tataan Yang Tidak Adil

Kita memang mengetahui, bahwa islam mengajarkan kedamaian. Jika perang terpaksa di lakukan, harus memenuhi syarat-syarat tertentu dan tentunya bersifat defensisf (mempertahankan diri). Dalam kenyataanya, karena kezaliman kelompok besar sudah sangat keterlaluan, kelompok tertindas sudah tidak memiliki kekuatan untuk sekedar bertahan, membela dirinya serta memperlihatkan eksistensinya. Dan …”harus di pahami, aksi kekerasan merupakan upaya meraka (Hamas, jihad islam di palestina dengan intifadhahnya dan lain sebagianya pen.)mempertahankan diri(defensif) atau altertnatif untuk melanjutkan perjuangannya…” demikian Asep Syamsul M.Romli.

Sebagaimana kita ketahuai, amerika serikat dengan sekutu-sekutunya selalu intervensi di dalam negara-negara yang tidak mendukung kepentingannya. Di timur tengah , amerika serikata melindungi Israel yanga membombardir palestina habis-habisan. Sementara itu hampir tidak ada kekuatan dari negara manapun yang membela rakyat palestina secara nyata, kecuali sekedar pernyataan-pernyataan demonstrasi yang tidak di gubris AS. Negara iraq luluh lantak, presidennya di bunuh secara leluasa oleh tentara AS. Negara iran pun berusaha untuk di obok-obok. Saudí arabia relatif tenang, karena penguasanya sekutu AS. Adapun Indonesia, perlu analisa tersendiri yang akurat lagi secara mendalam. Toh , kita dapat merasakn keadaan kita juga.

Kesimpulannya terrorisme dapat berkurang secara drastis, jika tatanan dunia berlaku secara adil. Jika tidak terrorisme akan selalu membayangi. Wallahu a`lam bishsawab.

 

Sumber: Uswatun Hasanah 2017

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker