Muamalah

Ukhuwwah Islamiyah

Ada pun orang-orang yang kafir, sebagaian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.jika kamu(hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi ini dan kerusakan yang besar”(Q.S. Al-anfaal 8:73)

 

Perang salib yang terjadi sejak abad ke11 sampai dengan abadke 13 dalam delapan gelombang telah menyebabkan hubungan antara agama kristen dan islam terasa sulit untuk lepas dari perasaan bermusuhan. Kenyataan ini disebabkan oleh zending missinonaris yang terus bergerak mencari kelemahan umat islam dan animisme yang masih tertinggal dibelakang dengan perdaban yang mengacu pada ajaran nenek moyang.

Di satu sisi pemerkosaan terhadap kepercayaan yang lemah serta pembantaian terhadap pembangkangan yang minoritas akan terus di gelar di seluruh pelosok dunia sampai gendering kekuasaan itu mereka tabuh. Sehingga bukan mustahil bila suatu saat nanti kejayaan islam yang dipertaruhkan dengan darah dan air mata oleh Rasulullah SAW beserta para sahabat dalam beberapa generasi akan semakin memudar.

Kalau saja masih tersisa, maka saat  itu islam akan hanya tinggal buihnya terombang ambing kian kemari mengikuti irama ombak bergerak. Terkadang di hanyutkan ke tengah lautan, lalu di campakan ketepian dan akhirnya pupus dalam resapan pasir di jilat terik matahari yang garang memanggang.

Pada saat itu islam tidak dapat lagi menjadi pemeran yang menentukan alur cerita berdasarkan skenario cerita yang telah di tentukan melalui hadist dan kitabullah, melainkan hanya jadi penonton di rumah sendiri, kemudian membayar dengan harga yang sangat mahal. Dan manakala permainan itu usai, maka umat islam hanya menahan perasaan luka dan kecewa!

Melainkan Sayub-Sayub

Sungguh, tidak dapat kita bayangkan kalau saja kenyataan seperti itu benar-benar terjadi, karena demikian tentu tidak ada lagi suara takbir berkumandang di menara-menara masjid yanga megah, melainkan sayub-sayub terdengar dari perkampungan kecil dan terpencil, kemudian hilang dalam semilir angin yang berhembus. Tidak ada lagi langkah-langkah tegap umat islam yang berbondon-bondong menuju masjid dan mushalla, di gantikan dengan langkah-langah letih yang beringsut di tepi jalan berdebu seraya menundukkan kepala meminta di kasihani. Pada saat itu apalah arti kita. Atau, itukah saat akhir perputaran dunia?

Pendangkalan Agama

Terlalu pesimis kelihatanya tulisan yang di sajikan ini. Akan tetapi cobalah sesaat kita merenung dan membuka lembar sejarah, bahwa pendangkalan terhadap islam, baik dengan politik adudomba, maupun dengan penindasan terang-terangan tanpa berperikemanusian terus di gelar di berbagai belahan dunia.

Pencaplokan wilayah islam dengan semena-mena terus dilakukan seperti tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari umat islam itu sendiri. Meskipun sanksi PBB yang lebih tepat di artikan Perserikatan Bangsa Bule terus di gembar-gemborkan, bahkan mengutuk kebiadaban tersebut, namun semua itu tidak lebih dari sorak kemunafikan sebagai ikrar kemenangan mereka.

Di satu sisi, negara-negara yang memproklamirkan diri sebagai negara islam menjadi dakocan-dakocan yang lucu untuk di pertontonkan dalam sebuah arena adu tanding yang bodoh guna saling membantai sesamanya. Dan manakala pertandingan tersebut usai, mereka harus mambayar mahal dengan menguruk isi perut buminya untuk mendapatkan senjata dan rasa aman dari kelompok sang dalang yang merasa demikian super untuk menentukan peran dari penghuni dunia.

Kita lihat pula tragedi di negara-negara mayoritas muslim, di mana pendangkalan agama terus di gelar dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mempertontonkan produk-produk import yang kemilau dan gemerlap dengan misi menjauhkan umat islam dari ajarannya .sakalian menggantikannya dengan budaya hingar-bingar yang ternyata meninabobokkan, khususnya generasi muda yanga masih labil. Sehingga dalam dekade berikut, kita dapat memperkirakan, bahwa umat islam tidak lagi menjadikan agamanya sebagai pedoman hidupnya, tetapi sebagai tontonan yang bersifat seremonial. Terlebih lagi di negara yang muslimnya minoritas,acap kali mereka di buru laksana hewan untuk di bantai dan di pertontonkan kepada dunia seraya terbahak-bahak, Karena umat islam semakin pupus di negaranya. Dan sekali lagi, kalau saja ada sanksi dan perserikatan bangsa bule, maka semua itu hanya lipstik pemanis kemunafiqan.

Takbir Kebesaran

Dengan bercermin pada kondisi demikian, marilah kita iktibar dan mempertanyakan, khususnya di negara kita tercinta ini, sejak zaman penjajahan hingga orde awal orde baru terasa sekali jaringan kerja terhadap pendangkalan agama islam di gelar dengan sangat rapi dan terencana. Sehingga tidak lah mengherankan kalau di akhir orde baru, masyarakat kita adalah generasi batu(telah membatu) tanpa hati, sebagaimana yang telah di kemukakan oleh WS rendra dalam sajaknya pada awal orde baru dulu. Dan haruskah batu itu ada gunanya di jadikan alat untuk melampiaskan keinginan. Kitalah yang dapat menjawabnya, tanpa harus harus menyalahkan pihak lain yang memang demikian antusias untuk berkembang.

Di karenakan kita (umat islam) tidak ingin tersingkir dan pupus serta tidak harusnya berjalan di tepi jalan yang berdebu seraya minta di kasihani, maka takbir kebesaran islam harus senantiasa selalu di kumandangkan dengan lantang. Terlebih lagi hal itu harus terujud di era reformasi yang telah di diprakasai oleh mahasiswa indonesia, sebagai sebagai cerminan dari aspirasi rakyat yang mayoritas muslim.

Dan siapa yang berani merusaknya, maka dia akan berhadapan dengan arus kali yang mengikisnya hingga “batu-batu” hancur. Sampai akhir edaran waktu, ketika saat yang dijanjikan Allah itu datang, saat kita semua kembali keharibaan-Nya dengan mempertanggungjawabkan  amal serta perbuatan masing-masing.

Dipertahankan

Dengan demikian kerukunan umat harus merupakan prioritas untuk di pertahankan, karena kerukunan dan kebersamaan yang dilandasi dengan iman bagaikan luapan air bah yang tidak dapat dengan kekuatan bagaimanapun kokohnya. Sebab dia akan mampu meruntuhkan tirani kekuasaan yang di bentengi kekuatan lapis baja yang berlapis sekalipun.

Untuk itu, mari kita kesampingkan persoalan kecil yang tidak mendasar,dengan menghindari perbedaan dan memperoleh pepesan kosong yang hanya waktu dan tenaga dan jangan sampai terlena dengan ego pribadi dan kelompok. Ukhuwwah Islamiyah jadikan prioritas dalam menyatukan visi dan misi islam guna meraih keridhaan Allah SWT.

Bimbingan Ulama

Untuk itu, peran para pemimpin yang dalam putaran waktu berada di atas, haruslah menjadi lentera dalam mengayomi umat, serta senantiasa dapat berbagi rasa dengan para kaum dhuafa yang merupakan kewajiban mereka untuk di pedulikan. Para cerdik pandai dan para cendikiawan muslim hendaklah menjadi motor penggerak dalam menentukan kemana kemudi umat di arahkan. Selanjutnya diperlukan bimbingan ulama yang istiqomah (bukan ulama karbitan) menetralisir dan menjadi filter dari setiap kebijakan guna menentukan mana yang hak dan yang bathil.

Dengan demikian, derap jama`ah `islamiyah akan senatiasa satu irama, menuju masyarakat /umat yang di impikan, sehingga perpecahan antara kelompok yang hanya mengorbankan umat dengan sia-sia dari bumi pertiwi.

Akhirnya setiap individu biarlah bebas dengan keyakinan tanpa harus dirayu  dengan iming-iming duniawi. Biarlah beda ajaran dan keyakinan menjadi acuan bagi kita untuk mendapatkan kebenaran, tanpa harus saling menyalahkan dan menganaktirikan , sebagaimana firman Allah SWT dalam Al quran:”katakanlah: hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan (pula) penyembah tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah tuhan yang aku sembah, untukmu agamamu dan untukku agamaku “.(Q.S. Al-kaafirun 109:1-6).

Dengan demikian akan terciptalah keharmonisan dalam meniti kehidupan yang lebih baik. Semoga demikian Allah SWT meridhai usaha kita bersama dalam memperjuangkan masyarakat yang herogen ini menuju cita-cita perdamaian untuk semua.

 

Sumber: Uswatun Hasanah 2017

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker