AkhlaqAl-IslamAqidahIbadahKemuhammadiyahanPemikiran Islam

Fathurrahman Kamal : Jangan Sampai Putus Sanad ke-Indonesiaan

TABLIGH.ID YOGYAKARTA—Pesan penting tentang ‘sanad ke-Indonesiaan’ tidak boleh putus dari kader Muhammadiyah di Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kerajaan Arab Saudi tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal.

Pesan tentang ‘sanad ke-Indonesiaan’ muncul merupakan jawaban Fathur atas pertanyaan dari peserta mengenai isu Wahabi di Indonesia dalam forum Baitul Arqam PCIM Kerajaan Arab Saudi pada (25/3).

Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UMY ini menjelaskan bahwa, isu Wahabi lebih merupakan isu politik ketimbang persoalan akademik atau keilmuan.

“Tapi tak perlu ditutupi bahwa klaim tersebut menjadi semacam indikator “kegagalan” sebagian intelektual Jazirah dalam mengartikulasikan narasi humanistik para ulama terkemuka seperti Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahumāllāh,” ungkapnya.

Fathur menjelaskan, di sisi lain terdapat kegamangan dalam memilah mana aspek-aspek Islam yang autentik, dan mana yang lebih lekat kepada domain kultural lokal, atau Arabisme. Dalam konteks Jazirah Arab, menurutnya masih kurang respon produktif dan pro aktif intelektualnya tentang isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang dapat dijadikan narasi alternatif bagi pemangku kuasa negara.

“Tak kalah saya garis bawahi, masih kuatnya jebakan primordialisme kelompok, dan silang pendapat keagamaan parsial yang sulit saling empati, dan bertenggang-rasa, malah larut dalam konflik narasi yang tak kunjung berujung”. Tegas Fathur.

“Dalam konteks ini, saya sarankan kepada teman-teman yang sedang menuntut ilmu di Bumi Wahyu, agar senantiasa menyambung “sanad ke-Indonesiaan”, di samping terus tiada henti mencapai transmisi keilmuan setinggi-tingginya kepada para Ulama terkemuka, khususnya di Haramain,” imbuhnya.

Menurutnya, keterputusan ‘sanad ke-Indonesiaan’ beresiko pada gagal paham dalam membumikan pesan-pesan Islam universal dalam konteks lokal negeri sendiri. Fathur juga menjelaskan mengenai persoalan ini dengan mengutip perintah Nabi Muhammadiyah ‘alaihissalām yang menegaskan pesan pemahaman kultur Yaman dan budaya lokal masyarakat Ahli Kitab kepada sahabat mulia Mu’ādz bin Jabal radlyallāhu ‘anhu.

“Bahkan disertai arahan profetik agar selalu memudahkan, dan tidak menyulitkan; menggembirakan, dan tidak membuat berpaling. Inilah esensi dakwah: mencerahkan, menggerakkan, dan menggembirakan”. Tandasnya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker