Beritadefault

Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan

TABLIGH.ID, YOGYAKARTA — Rasulullah saw bersabda “Apa pun yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah, dan yang aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah sesuai kemampuan. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian banyak bertanya dan menyelisihi (tidak mematuhi) para nabi mereka” (HR. Muslim nomor 1337).

Dijelaskan oleh Syakir jamaluddin, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bahwasannya hadis tersebut menegaskan bahwa umat muslim haruslah menaati Rasulullah saw.

“Ketaatan kepada nabi itu di wujudkan dengan menjauhi larangan larangan nabi dan melaksanakan perintah perintahnya sesuai dengan kemampuan kita dan hadis ini sejiwa dengan firman Allah swt,” tutur Syakir dalam Kajian Kamis Pagi Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Kamis (6/1).

Syakir melanjutkan bahwa apa saja yang Rasulullah berikan ataupun contohkan merupakan pelajaran. Apabila apa yang disampaikan Rasul saw berupa materi maka kita wajib mengambilnya dan apabila yang dicontohkan Rasul saw perilaku maka kita mengikuti atau mencontohnya. Sedangkan apa saja yang Rasul saw larang maka kita harus menjauhinya.

“Nah larangan larangan dan perintah nabi shallallahu alaihi wasalam itu sudah dijelaskan dalam hadist nya, eksplisit, rinci dari hadist hadist ma’bul. Kalau misalnya Muhamamdiyah itu dari sunnah ma’bula, ma’bul itu yang diterima sebagai hujjah yang berupa hadist atau pun nasa,” terangnya.

Dalam setiap sabdanya, Rasul saw jga mendorong bahwa perintah apapun yang dilakukan harus sesuai dengan kemampuan pelakunya. Menurut Syakir, Rasul saw juga tidak menganjurkan untuk beperilaku di luar batas keampuan.

“Misal membahayakan tentu larangan boleh dilanggar dalam batas tertentu hingga hilang kedaruratannya demikian juga dalam berdakwah. Berdakwah itu wajib sebagaimana hadist hadist yang sudah kita pelajari pada pertemuan pertemuan sebelumnya wajib bagi setiap muslim namun harus deilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing ini pesan hadist nya,” jelas Syakir.

Hadis di atas senada dengan Surat At-Taghabun ayat 16 dan Al-Hasyr ayat 7 yang menyatakan bahwa setiap manusia wajib bertaqwa kepada Allah sesuai dengan kemampannya. Hal ini dikaitkan juga dengan cara bertaqwa kepada Allah yakni melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Ini juga sesuai dengan spirit ayat ‘la yukallifullahu nafsan illa wus aha’ allah tidak membebani seseorang pun diluar kemampuannya kecuali sesuai dengan kemampuannya. Al Baqarah 286 atau misalnya ayat ‘ wa maa ja’ala ‘alaikum fid diini min haraj’ Allah tidak memberi kesulitan kepada kamu dalam menjalankan agama. Surat ke 22 ayat 78. Jadi ini dalam berdakwah kita bisa gunakan ini juga ada hadist nabi saw ‘man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu bi yadihi’  barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya,” kata Syakir.

“Merubah itu dari kondisi mungkar menjadi makruh yaitu hadist sebelumnya biar dengan tangannya kalau tidak sanggup ya dengan lisannya mungkin kalau dengan tangan kita belum punya keberanian karena penguasa mungkin otoriter terlalu kuat bahaya kalau misanya kita menyampaikan secara terang terangan dia tidak mau terima kritik tau tau masuk penjara itu bisa diturunkan bi yadhi dengan billisanihi dengan tangannya tapi biadihi itu ‘falyughayyirhu’ dengan aksi nyata secara langsung tapi kalau misalnya tidak mampu ya turun bilisinahi dengan lisan atau tulisan jadi tidak aksi nyata,” sambungnya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker