Al-IslamBeritaKhutbah Jumat

PENGELOLAAN AIR DALAM PANDANGAN ISLAM

KHUTBAH JUMAT

Naskah Khutbah Jumat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ ؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Jama’ah sholat jum’at rahimakumullah…

Syukur Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini, kita dipertemukan oleh Allah SWT dalam majelis yang dimuliakan, sebagai bagian dari perwujudan rasa syukur kita atas karunia yang telah diberikan Allah SWT. Semoga kita termasuk di dalam golongan orang-orang yang syukur nikmat dan dibarokahi oleh Allah SWT. Amin.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umat Islam yang istiqomah di jalan Allah, dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya.

Jama’ah sholat jum’at yang dicintai Allah…

Pada kesempatan jum’at kali ini, mari sedikit kita kaji persoalan yang penting untuk kita cermati sebagai bagian dari evaluasi terhadap perilaku kita sehari-hari yang bersangkutan dengan persoalan air. Air adalah salah satu unsur yang sangat penting bagi kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, dan lain-lain. Seiring berjalannya waktu, ketersediaan air yang ada di bumi kita ini semakin terbatas. Perlu kita ketahui bersama, bahwa menurut penelitian William Houston dan Robin Griffiths, ketersediaan air yang kita miliki dari sejak 4 milyar tahun yang lalu sampai hari ini bersifat tetap. Terdiri dari 97,5 % adalah air laut yang tidak bisa kita konsumsi. Sedangkan 2,5 % adalah air segar dan 1 % adalah air yang bisa digunakan untuk air minum. Sisanya 2 % adalah es kutub atau glasier. (Data dari The UN World Water Development Report 4).

Allah SWT menjelaskan tentang arti pentingnya air bagi kehidupan :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ .يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ.

“Dia-lah, yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.(QS An Nahl : 10-11)

Dari penjelasan ayat di atas, jelas bahwa Allah SWT menciptakan air dengan segala kemanfaatan bagi kehidupan di muka bumi. Tetapi seiring berjalannya zaman, kebutuhan air yang luar biasa besar, tidak diimbangi dengan ilmu agama yang cukup. Sehingga manusia lebih bersifat serakah menggunakan air sebebas-bebasnya, tanpa memperhatikan dampak jangka panjang bagi kehidupan anak cucu kita kelak. Sebagaimana dalam kalimat terakhir, Allah mengatakan  إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” Maka sekiranya kita masih bisa berfikir jernih, mari kita bersama-sama memikirkan dan berbuat kongkrit untuk bisa mengelola sumber daya air dengan sebaik-baiknya dan bermanfaat bagi semua pihak.

Jama’ah kaum muslimin rahimakumullah…

Dalam kacamata Islam, permasalahan yang menyangkut tentang air bisa diatasi dengan jalan menyiapkan pengelolaan yang tepat (al ḥaukamah ar rasyidah). Pedoman pengelolaan air dalam pandangan Islam bersumber dari Al Qur’an dan Hadis yang kemudian harus diimplementasikan dalam wujud gerakan bersama program pengelolaan air, sehingga tidak sekedar berhenti pada dataran konsep dan ajaran saja. Ada dua hal pedoman pengelolaan air ini, pertama: Nilai dasar pengelolaan air; kedua: Prinsip universal pengelolaan air. (Sumber: Fikih Air, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah).

Pertama mengenai nilai dasar pengelolaan air yang digali dari Al Qur’an dan Hadis adalah pemahaman tauhid, sebagai pondasi dasar sebuah keimanan dan pijakan amal kebaikan dalam Islam. Sehingga melindungi sumber daya air menjadi bagian dari kesadaran dan kewajiban dalam pengamalan agama.

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al An’am : 162)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzaariyat : 56)

Berikutnya adalah nilai syukur atas nikmat yang Allah berikan berupa air, sehingga manfaat. Rasa syukur harus diimbangi dengan perbuatan kongkrit untuk ikut mengelola air sehingga sampai kepada anak cucu kita nanti.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim : 7)

Selanjutnya adalah nilai adil, bahwasanya air itu menjadi hak setiap orang untuk menikmatinya. Sebagaimana di dalam undang-undang dasar 1945 pasal 33 ayat 3 disebutkan bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Dalam undang-undang tersebut jelas dinyatakan untuk kemakmuran rakyat, yang berarti adil untuk semua pihak. Tetapi sekarang pada kenyataannya, sumber daya air dikuasai oleh perusahaan swasta dan perseorangan demi kepentingan dan keuntungan bisnisnya masing-masing.

Nilai dasar dalam pengelolaan air selanjutnya adalah nilai keseimbangan. Bahwa antara manusia dengan air ada keterikatan dan saling bergantung, maka seharusnya manusia bisa menjaga keseimbangan tersebut.

Allah SWT berfirman di dalam Qur’an surat Ar Rahman : 7-9 :

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ. أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ. وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia ciptakan keseimbangan, supaya kamu jangan melampaui batas tentang keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”

Nilai dasar selanjutnya adalah kepedulian (Al Inayah). Menggunakan dan mengelola air harus diiringi dengan sikap peduli kepada orang lain, sikap peduli kepada masa depan, sikap peduli kepada generasi berikutnya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasululllah Muhammad SAW bersabda : “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih. Yakni seseorang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir, tetapi ia tidak membaginya kepada musafir yang membutuhkannya….” (HR Muslim)

Dalam hadis yang lain, Rasulullah menganjurkan untuk mendermakan air, bahkan Imam Al Bukhari meletakkan hadis Nabi berikut ke dalam Bab ‘Wakaf”. Itu berarti kita juga harus bisa mewakafkan air bagi orang lain. Sebagaimana sabda “Nabi Muhammad SAW: Barangsiapa yang mau menggali sumur Ruma, maka ia akan mendapatkan surga. Kemudian Usman yang menggalinya.” (HR Bukhari). Sumur Ruma adalah sumur yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi di Madinah. Mereka menutupnya sehingga kaum muslimin tidak bisa menggunakannya.

Jama’ah kaum muslimin Rahimakumullah…

Selanjutnya yang kedua tentang pinsip universal pengelolaan air, adalah suatu qoidah yang dipakai sebagai tolak ukur untuk menyusun regulasi dan membuat program riil dalam pengelolaan air. Di antaranya mengenai keterlibatan publik dalam pengambilan kebijakan maupun dalam pelaksanaan kebijakan tentang pengelolaan air. Adapula tentang skala prioritas yang harus dilaksanakan oleh semua pihak mengenai pemanfaatan air. Kemudian konservasi air, sehingga sumber-sumber mata air yang sekian banyak tidak tertutup oleh ulah sebagian manusia.

Rasulullah SAW bersabda : Takutilah tiga perkara yang menimbulkan laknat: buang air besar di sumber air, di tengah jalan, dan di tempat orang berteduh.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibn Abbas r.a. bahwa al-Sha’b ibn Jatsamah berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada daerah konservasi kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.” Dan ia (As-Sa’b) berkata: “Sungguh telah menetapkan Naqi’ sebagai daerah konservasi, begitu pula Umar menetapkan Saraf dan Rabazah sebagai daerah konservasi.” (HR Bukhari).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخَوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُواْ رَبَّنَا إِنَّكّ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نًافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ وَآَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Penulis : Ananto Isworo, S.Ag

(Founder Gerakan Shodaqoh Sampah, Sekretaris Ekseskutif Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker