Beritadefault

Benturan Ideologi dan Politik Menguat, Warga Muhammadiyah Dianjurkan Pahami MADM

TABLIGH.ID, YOGYAKARTA  – Masa sekarang dianggap sebagai era disrupsi. Atau masa ketika perubahan drastis teknologi membuat manusia kehilangan prinsip dan mudah terombang-ambing.

Melihat keadaan seperti ini, Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Miftahulhaq menilai penting bagi warga Persyarikatan untuk membaca dan memahami kembali Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM).

MADM ditulis atas perenungan Ki Bagus Hadikusumo setelah melihat 30 tahun perjalanan Muhammadiyah di tengah dinamika politik dan benturan ideologi yang kuat.

“Bahkan saat itu tahun 1945 terjadi semacam disrupsi pemahaman Keislaman atau mungkin karena serangan-serangan terhadap Keislaman sehingga masyarakat terutama umat Islam cenderung jauh dari ruh ber-Islam secara murni dari apa yang dipahami Muhammadiyah sehingga Ki Bagus merasa perlu untuk menyampaikan ide-ide, pokok-pokok dan pola perjuangan yang dipahami Muhammadiyah,” jelas Miftahulhaq.

“Melalui (MADM) ini Ki Bagus berharap agar para pendahulu di Muhammadiyah bisa terjaga dan selanjutnya bisa diteruskan oleh kita semua yang lebih muda saat ini,” imbuhnya.

Dalam pengajian KM3 Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Sabtu (9/10) Miftahulhaq menjelaskan bahwa MADM terbagi menjadi 7 pokok pikiran. Poin 1-6 bersifat landasan ideal dan operasional, sementara poin ketujuh berupa tujuan dan harapan yang diperjuangkan oleh Muhammadiyah.

Tujuh poin itu menurut Miftah disusun runut dan saling bertaut satu sama lain. Misalnya poin pertama tentang Tauhid akan mempengaruhi poin berikutnya tentang amal saleh di dalam masyarakat hingga poin terakhir soal terwujudnya masyarakat utama yang adil, makmur, dan diridhai Allah Swt.

Selain saling bertaut, MADM itu menurut Miftah juga merupakan ajaran yang dipahami oleh Ki Bagus Hadikusumo dari Kiai Haji Ahmad Dahlan.

“Prinsip pertama (Tauhid) itu sejatinya tidak lepas dari prinsip hidup Kiai Haji Ahmad Dahlan bahwa kehidupan ini hanya sementara dan kita dituntut untuk memberikan yang terbaik,” ucapnya.

“Terwujudnya masyarakat adil, damai, sejahtera, semua merasakan kebaikan, itulah yang diharapkan oleh Muhammadiyah. Jadi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya itu bukan berarti semuanya Islam, tapi bagaimana nilai-nilai ajaran Islam itu menjiwai seluruh kehidupan manusia, termasuk orang-orang di luar Islam mendapat manfaat dari keberadaan agama Islam,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker