“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang dzulkarnain. Katakanlah: aku akan bacakan kepadamu cerita  tentangnya. Sesungguhnya kami  telah memberi kekuasaan kepadanya  di (muka) Bumi, dan kami telah memberikan kepadanya  jalan (untuk mencapai) segala sesuatu ”.(Q.S.Al-kahfi 18: 83-84)

Kebanyakan manusia tidak pernah merasa lelah dan terus bergulat untuk meraih kekuasaan, karena kekuasaan itu adalah kekuasaan dunia yang menjanjikan kenikmatan, meskipun kenikmatan tersebut bersifat sementara. Akan tetapi hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus di pikirkan oleh sebagian pelakunya, meski perjuangan untuk meraih kekuasaan tersebut dengan berbagai pengorbanan yang tidaklah kecil, bahkan terkadang taruhan nyawa.

Karena ambisi demikian, maka hiruk-pikuk politik praktis yang terjadi diberabagai  belahan dunia, termasuk di tanah air kita ini, bagai tidak pernah reda.  Dimana para pelakunya berusaha mencari, mempertahankan dan memanfaatkan kekuasaan itu , bahkan siap mempertahankannya dengan berbagai cara. Hal itu di ungkapkan oleh james C.Scot dalam dalam salah satu buku karangannya:”Kehidupan masyarakat manusia tidak lain dari pada ajang pertarungan tak henti-henti yang terjadi, karena kaum yang berkuasa namun memiliki ideologi resistance cenderung menggelitik. Menggangagu dan melawan kaum penguasa mapan yang senantiasa pula menggalang, mencari legitimasi, memilihara dan senantiasa berusaha memperkuat kekuasaanya.karena apabila manusia terlanjur berkesempatan menikmati kekuasaan biasanya terperangkap dalam nafsu dan keharusan untuk terus berkuasa. Bahkan terbelenggu untuk terus-menerus merengkuhnya .”

Bersifat  Selintas

Andai saja kenikmatan duniawi itu tidak bersifat selintas, maka tentu kekuasaan tidak terlalu menggoda, sebaliknya dapat membosankan, bahkan membawa kejenuhan. Oleh karena itu, kearifan metafiasis  perlu merasuk ke dalam hati  setiap pemegang tampuk kekuasaan dengan pengendalian iman.

Sebab tatkala manusia berurusan dengan kekuasaan yang tidak terkendali, seringakali kearifan itu di abaikan guna perselingkuhan dengan kenikmatan duniawi yang serba sementara dan mengabaikan tanggung jawab nanti di hadapan peradilan tuhan yang maha besar.

Hal ini perlu menjadi bahan renungan kita dengan bercermin pada untaian sejarah, di mana kekuasaan yang otoriter dan lalim  akan senantiasa berakhir dengan malapetaka. Bukan saja bagi diri dan keluarganya akan tetapi rasanya itu pula oleh orang-orang yang tidak pernah berpikir, apalagi berbicara tentang kekuasaa.

Bagi sebagian besar masyarakat awam yang menyadari latar belakang serta kemampuannya, maupun kaum intelektual yang tidak terlalu ambisius, bukan sebuah persoalan bagi mereka siapa yang memegang kendali kekuasaan. Mereka hanya berharap asal saja mereka yang berkuasa itu mau menumpahkan kasih sayang melindungi semua kelompok besar kecil, tua muda, kaya miskin di negeri tercinta ini.

PETAKA KEKUASAAN

Perilaku inilah yang telah di ajarkan nabi SAW tentang tatanan sosial yang tidak di perintah oleh kemauan pribadi, akan tetapi kesepakatan bersama  yang mengacu pada prinsip yang di lembagakan dalam dokumen kesepakatan antara anggota masyarakat. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman

”maka disebababkan   rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafakanlah mereka,dan bermusyawarahlah dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-NYA”.(Q.S. Ali ‘imran 3:159).”Dan(bagi)orang-orang yang menerima (mematuhi ) seruan tuhan-NYA dan mendirikan sholat. Sedangkan urusan mereka (di putuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka”.(Q.S.Asy-Syuura 42:38)

Karena itu ketaatan kepada Rasullah SAW tidak terbatas pada saat beliau masih hidup, namun berlaku pada umat sesudahnya. Hal itu pula yang menjadi acuan Abu Bakar ra ketika beliau di angkat menjadi khalifah. Di dalam pidato pengukuhannya, dia maengatakan,  bahwa kekuasaan yang di jalankannya adalah kekuasaan yang di dukung oleh  rakyat, karena itu rakyat boleh mengoreksi  segala tindakannya.Bahkan pelaksanaan kekuasaan itu tergantung pada partisipasi rakyat. Apabila dalam pemerintahannya menyimpang dari ajaran Allah SWT dan rasul-NYA, maka rakyat tidak wajib taat kepadanya.

Pada akhirnya, ketika roda kekuasaan tengah berada dalam genggaman, pada tingkatan yang bagaimanapun dalam strata kehidupan bermasyarakat maupun  instansi, “Allah memberikan pemerintahan(kekuasaan) kepada siapa yang di kehendaki-Nya dan Allah maha luas pemberia-Nya  lagi maha mengetahui(Q.S.AL-baqarah 2:247).

Dengan merujuk kepada uraian di atas serta tegasnya  firman Allah SWT yang kita yakini kebenarannya itu, maka  kita berseru dan berharap kepada seluruh calon pemimpin. Khususnya kepada yang tengah merebutkan kursi tertinggi di negeri ini, tidak terkecuali seluruh komponen yang terlibat di dalam upaya memperjuangkan kakuasaan, baik yang ikut bagian tim sukses. Agar mereka tidak melupakan emosi dan arogansinya yang akan berakibat buruk pada keutuhan bangsa. Karena bukan hal yang mustahil bila perhelatan akbar telah usai, pihak akar rumput akan di lupakan dabn di abaikan. Dan ketika orang-orang kita perjuangkan di puncak kekuasaanya, kita akan tetap di sini, menunggu dengan penuh harap, sampai paesata demokrasi di gelar lagi lima tahun yang akan datang.

Dengan bercermin pada fakta-fakta sejarah yang kita alami, maka kita berharap, kekuasaan tidak menjadi malapetaka yang pada akhirnya menyeret kita dalam derita panjang yang lebih menyakitkan.  Selanjutnya dalam menghadapi pemilihan umum Capres/Cawapres  2019 yang  akan datang, marilah kita sama-sama memohon kehadirat Allah agar Allah SWT membimbing bangsa dan umat islam di negeri ini memilihkan pimpinan yang terbaik. Yaitu pimpinan yang taat dan cinta kepada umat. Yaitu umat yang sudah lama mendambakan terwujudnya masyarakat islam yang sebenarnya di dalam negara kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa ini (tercantum dalam fasal 29 ayat 1 dalam UUD 1945).

Selanjutnya marilah kita firman Allah berikut ini : Wahai  tuhan yang memilliki kerajaan, engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang –orang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki.  Di tangan engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu .”Q.S.Ali-imran 3:26)

Sumber: Uswatun Hasanah 2017