defaultKhutbah ID Fitri

Khotbah Idul Fitri 1440 H : Menumbuhkan Nilai-Nilai Dasar Islam

MENUMBUHKAN NILAI-NILAI DASAR ISLAM

Dr. H. Agung Danarta, M.Ag *)

Assalaamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, saudara-saudari, jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah. Alhamdulillahi robbil ‘alamin, puja dan puji kita panjatkan ke hadirat Allah ilahi robbi atas karunianya yang dilimpahkan kepada kita. Pada pagi hari yang indah ini kita semua telah menyelesaikan satu pelatihan yang komprehensif bagi jiwa kita. Selama satu bulan penuh kita telah berlatih untuk mengendalikan diri dan menahan nafsu. Mengendalikan diri untuk tidak makan dan minum; mengendalikan diri untuk tidak berkata kotor dan berbicara dusta; dan mengendalikan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Alhamdu lillah kita mampu dan berhasil. Dalam bulan Ramadhan ini juga kita telah dilatih untuk banyak melakukan amal kebajikan; shalat berjama’ah, tadarus al-Qur’an, qiyamur ramadhan (shalat tarawih), pengajian-pengajian (ba’da subuh, menjelang buka, sebelum / sesudah shalat tarawih), berinfak (memberi ta’jil buka puasa, jaburan, infak kegiatan ramadhan, santunan dhu’afa), dan amal-amal kebajikan lainnya. Alhamdulillah kita diringankan oleh Allah untuk melakukan itu semua.

Pelatihan Ramadhan dengan segenap aktifitasnya itu merupakan bekal bagi kita semua untuk menjalani hari-hari dalam sebelas bulan ke depan. Bukankah puasa ramadhan itu merupakan media latihan bagi orang islam untuk menjadi orang yang bertakwa?

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah.

Rasulullah saw bersabda:

“Aku tinggalkan untukmu dua perkara. Engkau tidak akan tersesat selama       engkau berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasulnya”. (HR Malik dari Abu Hurairah).

Alqur’an adalah kitab kumpulan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk menjadi petunjuk dan pedoman bagi ummat manusia sejak zaman nabi Muhammad saw sampai akhir zaman, bagi bangsa Arab dan juga untuk semua suku bangsa bukan Arab di seluruh dunia. Sunnah Rasul adalah praktek kongkrit Nabi Muhammad atas petunjuk al-Qur’an yang universal dalam kehidupan nyata dan penjelasan Nabi atas apa yang terkandung dalam al-Qur’an.

Al-Qur’an dan Sunnah Rasul adalah sumber ajaran Islam yang akan mengantarkan ummat manusia menuju kepada kemashlahatan hidup di dunia dan di akhirat. Dengan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul telah mengantarkan ummat Islam pada masa awal menjadi bangsa yang mampu menguasai peradaban dunia. Masyarakat Arab dibawah bimbingan Nabi, dalam waktu yang tidak lebih dari seperempat abad telah berubah dari masyarakat yang tidak pernah diperhitungkan dalam peradaban ummat manusia menjadi masyarakat yang memiliki tradisi dan nilai-nilai utama. Masyarakat yang memiliki semangat dan motivasi yang tinggi sehingga mampu menggeser pusat peradaban dunia pada saat itu, yaitu Bizantium di Barat dan Persia di Timur, berpindah ke dunia Islam dan pusat peradaban dunia tetap dalam pangkuan kaum muslimin lebih dari 6 abad. Suatu kisah sukses yang sangat mengagumkan dan spekakuler berkat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamd

Ketika berbagai kesuksesan dan kejayaan telah berada di tangan ummat Islam dalam waktu yang cukup lama, maka kemegahan itu telah melalaikan mereka. Kesenangan

duniawi dan kenikmatan ragawi telah meninabobokan mereka sehingga sedikit demi sedikit mulai meninggalkan ajaran wahyu sebagai pedoman hidup mereka. Maka terjadilah Qodarullah, zaman berganti dan roda kehidupan terus berputar. Kaum muslimin yang semula menjadi penguasa peradaban digdaya dan adiluhur, sedikit demi sedikit mulai terpuruk mengalami kemunduran dan kalah bersaing dengan peradaban barat yang pada akhirnya menguasai dan menjajah sebagian besar dari negara-negara muslim yang ada di dunia. Suatu ironi besar, peradaban Islam yang cemerlang telah bertekuk lutut di bawah peradaban Barat yang justru banyak belajar dari nilai nilai positif dari peradaban Islam.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd

Dalam kondisi ummat Islam yang terpuruk itulah timbul kembali semangat dan keyakinan bahwa ummat islam akan maju jika berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dan akan terpuruk bila meninggalkannya. Untuk membangkitkan motivasi ummat agar mau berpegang kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah maka digaungkanlah jargon “al-Ruju’ ila al- Qur’an wa al-sunnah” (kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah). Jargon ini digaungkan ke seluruh dunia oleh gerakan modernisme Islam. Dalam batas batas tertentu gerakan modernisme Islam telah berhasil, minimal telah memerdekakan dan mengusir para penjajah dari negara negara berpenduduk muslim, tetapi gerakan ini belum berhasil dalam menciptakan khoiru ummah, suatu negeri yang berperadaban utama baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Bapak-bapak ibu ibu kaum muslimin rahimakumullah.

Penyebab lambannya penciptaan khoiru ummah tersebut salah satu penyebabnya adalah keliru dalam implementasi gerakan kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Gerakan “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah” telah melenceng menjadi gerakan tekstualis yang anti intelektual, pendekatan bayani dengan mengabaikan burhani dan ‘irfani. Pendekatan bayani yang bertumpu kepada pemahaman teks berdasar logika bahasa telah menjadi sangat dominan dengan mengabaikan pendekatan burhani yang bertumpu kepada penggunaan akal pikiran yang berfungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendekatan ‘irfani yang bertumpu pada dzauq / hati nurani yang berfungsi untuk mengembangkan spiritualitas batin.

Akibat lebih lanjutnya adalah merebaknya “claim truth” klaim kebenaran tunggal, yang benar adalah pendapat kelompoknya, pendapat orang lain dan kelompok lain adalah salah dan keliru. Pada titik ini maka orang akan mudah untuk mengkafirkan orang lain hanya karena beda paham dengan dirinya, dan mudah membid’ahkan suatu amalan karena dia tidak bisa memahami mana substansi dan mana metode. Intelektualisme ummat islam masa lalu terancam akan terkubur sia sia karena gerakan kembali keapad Al-Qur’an dan al-Sunnah dipahami dengan langsung merujuk dan mencari dalil dari al-Qur’an dan al-Sunnah tanpa perlu melihat bagaimana para ulama pada masa lalu telah mengkaji dan membahas masalah tersebut. Demikian juga intelektualisme masa kini dan masa depan terancam tidak bisa berkembang karena pendekatan yang dipakai sangat dominan bertumpu kepada pendekatan bayani saja dan mengabaikan pendekatan burhani dan ‘irfani.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamd

Adapun yang perlu kita bangkitkan dan gelorakan kembali dari semangat kembali kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah nilai-nilai dasar yang mampu menciptakan tradisi dinamis bagi ummat Islam sehingga bisa bergerak dan berpacu mengoptimalkan potensi diri untuk meraih kemajuan peradaban. Di antara nilai-nilai tersebut adalah:

  1. Etos mencari ilmu dan mentradisikan belajar

Dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman :

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).

Nabi Muhammad telah mewajibkan orang Islam untuk mencari ilmu

 

 

“Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap orang yang beragama Islam”. (Hadis Riwayat Ibn Majah dari Anas ibn Malik).

Sebelum mengajarkan ketentuan ketentuan syariat Islam, Allah telah lebih dulu mewajibkan kaum muslimin dan nabi Muhammad untuk membaca dan belajar. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw adalah perintah untuk membaca. Iqro’ bismi robbikalladzi kholaq. Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.

Semangat belajar dan membaca inilah yang menjadi landasan kokoh bagi kaum muslimin masa awal untuk membentuk peradaban maju. Dengan tradisi belajar ini telah mampu menyerap, mengadopsi dan menguasai peradaban maju yang telah lebih dulu dikembangkan oleh Yunani, Romawi, Persia, Cina dan India.

Dengan menciptakan tradisi belajar ini jugalah yang akan bisa menyebabkan kaum muslimin pada masa sekarang mampu menyerap, mengadopsi dan menguasai peradaban maju dunia pada saat ini.

 

  1. Mentradisikan yang baik dan menghilangkan kemunkara

Suatu kebaikan akan memiliki dayaguna yang optimal bila dikerjakan secara bersama sama, dan akan kecil pengaruhnya bila hanya dikerjakan perseorangan dan sporadis. Kebaikan yang banyak akan tidak berfungsi bila dikotori oleh kemunkaran meskipun sedikit. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Masyarakat khoiru ummah akan    bisa tercipta manakala tradisi yang berkembang dalam masyarakat tersebut menjadi gerakan yang selalu mengutamakan kebajikan dan mencegah terjadinya kemunkaran.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.    (Qs.3:110)

“Dan tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebajikan dan ketakwaan. Dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”. (QS. Al-Maidah, 5:2).

 

  1. Berlaku adil

 

 

Dan Berbuat adillah sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat adil. (QS. 49:9)

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al-Maidah, 5:8.

Adil adalah tidak berat sebelah, jujur, tidak berpihak, dan sama rata. Keadilan mengandung unsur kejujuran, kelurusan, keikhlasan yang tidak berat sebelah. Keadilan adalah sesuatu yang dirasakan seimbang dan pantas, sehingga semua orang yang mengalami merasa pantas. Salah satu ciri keadilan adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban. Adil artinya memberi tiap tiap orang apa yang berhak ia terima.

 

  1. Mengembangkan ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan

Dalam dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka yang terekam dalam dalam al-Qur,an surat al-Mudatsir/74: 38-44, penghuni surga bertanya kepada para penduduk penghuni neraka tentang apa yang menyebabkan mereka masuk ke neraka. Penghuni neraka menjawab bahwa penyebab mereka dimasukkan neraka adalah karena tidak melaksanakan shalat dan tidak memberi makan orang miskin. Memberi makan orang miskin kalau dimaknai secara simbolik artinya adalah memberi sesuatu baik berupa pekerjaan, ketrampilan, pendidikan dan lain sebagainya yang dengannya orang miskin tersebut bisa mendapat penghasilan dan bisa makan serta memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik akan lebih mampu untuk mengentaskan kemiskinan dalam jumlah yang banyak.

Dalam al-Qur’an surat al-Ma’un juga secara tegas dinyatakan bahwa termasuk orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak peduli terhadap pangan bagi orang miskin.

 

  1. Bersungguh sungguh di jalan Allah

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat: 15).

Sabilillah adalah jalan Allah. Jalan Allah adalah semua pekerjaan dan perbuatan baik yang dilaksanakan dengan tujuan untuk meraih keridhoan Allah. Apabila pekerjaan baik dengan tujuan meraih ridho Allah tersebut dilakukan secara bersungguh sungguh maka itulah makna jihad fi sabilillah. Dalam ayat ini secara tegas dinyatakan bahwa ciri orang yang beriman adalah bersungguh sungguh dalam mengerjakan setiap perbuatan dan pekerjaan yang baik, bahkan dengan mengerahkan segenap daya upaya, tenaga, pikiran, harta, benda bahkan nyawa sekalipun, untuk meraih keridhoan Allah. Dengan kata lain. Orang yang beriman akan selalu bersungguh sungguh dalam melakukan pekerjaannya. Lima nilai substansial ini, disamping nilai nilai substansial lainnya mendesak untuk terus dibiasakan dan ditardisikan dalam kehidupan kaum muslimin sebagai upaya sesungguhnya dari jargon “al-Ruju’ ilal Qur’an wa al-Sunnah”.

Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Akhirnya, marilah kita tutup shalat dan khutbah ‘Ied kita hari ini dengan sama-sama berdoa:

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkai adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaikilah dunia kami untuk kami yang menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu. Berikanlah ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu. Anugerahkan kami keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Jangan engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami. Jangan Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

 

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

 

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkan kami dari azab neraka.

 

 

Wassalaamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. *) PP Muhammadiyah

Materi PDF DOWNLOAD

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker