Beritadefault

Kunci Kesuksesan Rasulullah Bersama Shahabiyah dalam Membangun Peradaban

TABLIGH.ID, BANTUL– Rasulullah SAW dalam berdakwah mendulang keberhasilan yang sangat gemilang. Salah satu buktinya adalah kita sendiri, kita dapat berislam sampai saat ini atas dasar risalah dan perjuangan Beliau SAW pada masa lampau. Dalam dakwah Rasulullah, banyak hal yang yang dapat dijadikan kunci dalam membaca zaman, sehingga kita dapat melanjutkan perjuangan Beliau dalam berdakwah. Pembahasan tentang keberhasilan Rasulullah bersama Shahabiyah dalam membangun peradaban Islam adalah perkara yang patut kita simak uraiannya.

Pada Jum’at (15/10), Majelis Tabligh PP ‘Aisyiyah dan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah menyelenggarakan Kajian Indahnya Cahaya Islam. Kajian ini mengangkat topik: Keteladanan Rasulullah Muhammad SAW bersama Shahabiyah dalam Membangun Peradaban. Materi kajian diberikan oleh Okrizal Eka Putra, Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Okrizal menerangkan kunci-kunci sukses tarbiyah Rasulullah. Yang pertama, dan mungkin tidak dilakukan para pejuang-pejuang sosial itu saat ini, adalah spiritualitas” Jelas Okrizal mengawali poin pertama dalam kunci sukses Rasulullah membangun peradaban. “Bahkan di Indonesia pun sendiri, ini yang kita hilang sekarang, para pejuang-pejuang kemanusiaan, pejuang sosial, mereka dengan teori-teori sosialnya berjuang, tapi tidak mempunyai spiritualitas.” Tambahnya. Maka, menurut Okrizal, ini yang dibangun di Muhammadiyah, bahwa perjuangan itu tidak boleh kering dari nilai-nilai spiritualitas.

Dari spiritualitas itu, Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia. “Rasulullah memiliki akhlaq terpuji. Bahkan orang-orang Quraisy saja mengakui bahwa Muhammad, bahkan sebelum menjadi nabi, adalah orang yang paling amanah.” Terlampau banyak penggalan kisah yang menceritakan kualitas akhlaq Rasulullah selama perjalanan hidupnya, bahkan sebelum menerima wahyu kenabian.

Kedua, Rasulullah adalah pribadi yang Tangguh dalam berdakwah. Okrizal memaparkan, “Saya punya teori shalih dan mushlih, artinya kalau orang shalih, dalam artian dia berbuat baik, maka orang akan suka.” Ia melanjutkan, “tapi kalau sudah mushlih, dalam arti, orang mendakwahkan kebaikan kepada orang lain, bilang: ini bid’ah, ini syirik, ini tidak boleh. Nah, itu banyak orang tidak suka.” Maka, menurut Okrizal, perjalanan dakwah itu bukan seperti berjalan di karpet merah, tapi penuh hujatan, penuh makian.

Dalam hal menyokong perjuangan dakwah Rasulullah, peran Khadijah sangat signifikan untuk menjaga semangat dan keteguhan dakwah beliau. Okrizal mencontohkan pada peristiwa turunnya wahyu pertama, dimana Khadijah memberikan semangat dan meyakinkan Rasulullah bahwa wahyu adalah sesuatu pertanda baik, karena suaminya itu adalah orang yang selalu berlaku baik, sering memberi orang miskin, selalu memenuhi janji, selalu menjaga silaturahmi, dan selalu memuliakan tamu.

Ketiga, Rasulullah berdakwah dengan keteladanan bukan sekadar kata-kata. “Kalau kita lihat pejuang-pejuang sekarang, itu repotnya, kita diajak hidup sederhana, (sedangkan) dia hidup berlimpah harta.” Okrizal menambahkan, “Kalau kita lihat, sunnah nabi yang penting kita contoh juga bahwa Rasulullah itu, beliau kaya raya dulu, kemudian menjadi muballigh, beliau miskin. Sekarang terbalik, miskin, lalu jadi muballigh, malah kaya raya.”

Keempat, tujuan perjuangan yang jelas. Dalam Muhammadiyah ini perjuangannya kan juga jelas, “memperjuangkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” Ujar Okrizal. “Maknanya, akidahnya lurus, bersih dari kesyirikan, dan ibadahnya juga lurus.” Tambahnya.

Kelima, Rasulullah mendahulukan kepentingan dan keselamatan umat. Okrizal mengatakan, “Rasulullah selalu memikirkan umatnya, Beliau sangat mencintai umatnya, yaitu kita.” Tambahnya, “Maka kalau kita tidak membalas cinta Rasulullah kepada umatnya itu, terlalu kebangetan.”

Terakhir, Rasulullah adalah pribadi yang memberi ruang untuk berpendapat pada para sahabat. Beliau membolehkan seorang sahabat Anshar untuk mengajukan idenya tentang strategi, saat perang badar, dan Rasulullah menerimanya. Begitu pula dalam hal pendelegasian tugas, beliau juga memberikan wewenang untuk para sahabat dalam berpendapat dan hal semacamnya.

Okrizal memberikan penutup dengan menegaskan bahwa kita perlu mengambil satu peranan penting dalam amar ma’ruf nahi munkar. Ia mengatakan, “Ambil satu saja peranan dalam perjuangan dakwah, melalui ‘Aisyiyah maupun Muhammadiyah, dan selamat berjuang.”

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker