defaultPemikiran Islam

“Memperdalam Masuknya Iman” 

Buku: 12 Tafsir Langkah Muhammadiyah

LANGKAH PERTAMA : 

“Memperdalam Masuknya Iman”

 

Muqoddimah

قال تعالى (( ياايها الذين امنوا انجاءكم فاسق بنباء فتبينوا ان تصيبوا قوماً بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين واعلموا ان فيكم رسول الله لو يطيعكم في كثير من الامر لعنتم ولكن الله حبب اليكم الايمان وزينه في قلوبكم . ((الحجرة :6-7

“Hai orang orang yang beriman ! apabila datang kepadamu seorang fasik dengan membawa kabar, maka selidikilah terlebih dahulu akan kebenaran kabar itu. Agar kamu sekalian jangan sampai menghukumi sesuatu kaum dengan kebodohan ; maka jadilah kamu sekalian kalau sampai demikian daripada orang-orang menyesal dan ketahuilah, bahwa diantara kamu sekalian itu adalah pesuruh Allah, yang umpama senantiasa menuruti kamu sekalian didalam perkara perkara, niscaya bertalah kamu seklaian. Akan tetapi Allah menciptakan iman kepadmu sekalian dan memperhias iman itu di dalam hati kamu sekalian.”

Sebabnya ayat itu turun, karena ada sesuatu kejadian : “pada suatu masa, ialah masa kaum muslimin mengeluarkan zakat, Rosululloh mnegutus seorang dari pada sahabatnya, bernama Walid bin ‘Uqbah ke desa bani Al-Mustholiq untuk menerima zakatnya penduduk desa itu. Tetapi sayang, bahwa (diri) Walid bin ‘Uqbah telah berdendam hati kepada penduduk desa itu, dendam yang telah tertanam sejak zaman jahiliyyah (sebelum ia masuk islam).

Kedatangan Walid di desa itu di songsong oleh segenap penduduk dengan upacara barisan kehormatan.akan tetapi oleh karena Walid sudah mempunyai benih ketakutan, maka jemputan itu disangkanya bahwa orang-orang itu akan membunuhnya. Sebab itu, dengan segera ia kembali melarikan diri, sebelum bertemu orang yang di tuju. Dan setelah tiba di madinah, ia pun menghaturkan kepada Rosululloh, bahwa dirinya terancam oleh penduduk-penduduk bani Al-mustholiq.

Setelah Rosululloh mendengarkan pengaduan itu, dengan seketika baginda bertitah supaya menyiapkan bala tentara untuk menundukkan desa tersebut. Akan tetapi sebelum bala tentara berangkat, timbulah di hati Rosululloh keragu raguan atas benar tidaknya pengaduan itu. Maka segera diutuslah Kholid bin Walid, untuk menyatakan kebenaran kabar pengaduan itu.

Dengan segera Khalid bin Walid berangkat ke desa Bani Al-mustholiq, dan sesampainya disana, ia diterima dengan gembira dan kehormatan, karena memang sesungguhnya kedatangan Rosululloh itu di nanti-nanti, sangat di harap-harapnya.

Menilik riwayat tersebut, teranglah bahwa iman itu syarat yang terpokok di dalam keselamatan dan kebahagian, karena iman itu adalah sesuatu pintu yang kokoh untuk menutuo rapat terjadinya fitnah yang seringkali mengalirkan bahaya kepada masyarakat, mendatangkan perpecah belahan, permusuhan dan lain-lainnya.

Oleh karena itu, perlulah iman itu di perdalam-dalamkan kepada segenap Anggota Muhammadiyah, terutama agar masyarakat Muhammadiyah dapat bahagia maka mengingat Allah tersebut dalam Surah Hujurat itu, dan mengingat kepentingan iman, telah diambil oleh Muhammadiyah untuk langkah pertamanya ialah :

MEMPERDALAM MASUKNYA IMAN 

Apakah iman itu, dan betapakah iman yang sebenar benarnya itu ?

Tersebut di dalam Hadits:

الايمان عقد بالقلب واقرار باللسان وعمل بالاركان . ((رواه ابن ماجه))

“Iman itu adalah kepercayaan di dalam hati, di ucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota.”

Menilik sabda Rosululloh diatas, teranglah iman yang shodiq (yang benar) itu tiada cukup hanya di dalam hati dan diucapkan dengan lisan saja, tetapi harus di buktikan dengan amal atau praktik, karena iman yang tidak dibuktikan dengan amal, sesungguhnya, dialah iman yang tidak berarti.

Bolehkah dikatakan percaya pada dokter, kalau orang itu tidak menurut kepada perintah dan nasihatnya ?

Bolehkah kita dikatakan percaya kepada allah, jika kita tidak menurut segala perintahnya dan tidak menjauhi segenap larangannya ?

Jawab dari kedua pertanyaan ini, tentulah “TIDAK”.

Untuk menambah jelasnya keterangan diatas, perlulah kami bentangkan suatu riwayat.

“pada suatu waktu, kaum kafirin Quraisy mengadakan suatu rapat untuk mengumumkan utusan yang telah mereka putuskan, ialah putusan “sikap terhadap Rosululloh”. Dalam rapat itu, seorang daripada mereka mengumumkan keputusan itu, yang begini ringkasnya : “Barangsiapa dapat membunuh Muhammad akan diberi hadiah 100 ekor Unta kalau tidak suka menerima unta boleh menerima uang kontan seharga 100 unta itu”.

Diantara hadirin dalam rapat itu, ada seorang yang menanggung kesukaran di dalam penghidupannya. Maka dengan segera dia meninggalkan rapat, dan pergi mencari Rosululloh hendak membunuhnya. Lebih dahulu ia datang ke rumah Rosululloh, tetapi tiada di jumpainya, ia hanyalah dapat melihat suatu papan yang tertulis diatasnya ayat dari Al-qur’an. Tulisan itu di peramat-amati benar, dan ia pun lalu menanyakan kepadaseorang perempuan yang ada di situ, di mana gerangan Muhammad pergi. Pertanyaan itu mendapat jawaban, bahwa Rosululloh ada di Daarul Arqom. Dengan tiada membuang tempo, iapun kesana.

Seketika orang itu tiba di Darul Arqom, maka orang-orang yang ada di situ sama lari bersembunyi, kecuali Baginda Nabi sendiri. Mengapa demikian? Sebab orang tersebut, ialah Umar bin Khottob, musuh Islam yang amat kuat dan berani, sangat bengis terhadap pengikut-pengikut Nabi.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Berkat hidayat Allah, kedatangan Umar tidak jadi hendak membunuh Rasulullah, tetapi malah melahirkan keinginannya hendak masuk Islam. Sesudah ia diterima, iapun lalu menanyakan sikap apa yang diambil oleh Muslimin terhadap Kafirin. Dijawabnya “dengan sembunyi”. S. Umar minta supaya sikap itu dirubah dan diganti dengan sikap “terang-terangan”, dan kalau sekiranya keberatan, supaya ia sendiri dikecualikan.

Setelah selesai itu, Umar lalu pergi kembali kerapat kaum Kafiriin, dan dengan tegak ia melahirkan Islamnya, dan meminta kepada rapat supaya putusan “Membunuh Muhammad” itu diganti dengan “Membunuh Umar”.

Dari pelajaran riwayat ini, dapatlah kita melihat, bagaimana ikhwal waktu ia.  (percaya kepada Jibt dan Thaghut)

dan betapa pula keadaannya sesudah  Sabda Rasulullah s.a.w. pula :

“Bukanlah iman itu dengan cita-cita, tetapi iman itu kepercayaan tetap di dalam hati dan dibuktikan dengan amal.”

Jalan untuk memperdalam masuknya Iman

Adapun jalan untuk memperdalam masuknya iman itu, kita harus mengambil dua macam jalan

  1. Menambah tebalnya Iman
  2. Menjaga supaya cahaya Iman itu senantiasa cemerlang

Akan menggunakan jalan a. (menambah tebalnya Iman) kita harus mengambil dua jalan lagi yaitu:

  1. Mau’idhah atau nasihat-naşihat dengan mendatangkan ayat-ayat atau hadist hadist yang mentiadakan iman dengan diringi ayat-ayat serta hadist-hadist yang mengadakan dan mengutamakan iman
  2. Mau’idhah mengambil riwayat-riwayat yang berhubungan dengan keimanan.

Sedang untuk menggunakan jalan b. (menjaga supaya cahaya iman itu senantiasa cemerlang), dengan mengambil jalan nasihat-nasihat yang dapat menimbulkan CHAUF (rasa takut) menjalankan ma’siyat.

Agar menjadi tuntunan dan menambah faedah kita ini. perlulah di sini kami sebutkan contoh-contohnya, hadist-hadist itu.

Mau’idhoh dengan

A. Ayat-ayat dan Hadist-hadist yang mentiadakan iman.

1 Tiada Mukmin salah seorang di antaramu sehingga keadaanku lebih disukainya melebihi kesukaannya kepada bapaknya dan anaknya dan semua manusia. “

  1. “Tiada Mukmin salah seorang di antaramu sehingga mencintai kepada saudaranya sebagai cintanya kepada dirinya sendiri”
  2.  “Tidak ada iman bagı orang yang tidak ada amanah (kelurusan) padanya “

 4 “Bukan orang Mukmin, orang yang suka mencela dan bukan Mukmin orang yang suka melaknat dan bukan Mukmin orang yang kotor mulutnya.”

5, “Bukan orang Mukmin, orang yang tidak membıkın aman tetangganya akan kejahatannya”

  1. “Bukanlah dari golongan kita orang yang tiada belas kasihan kepada orang yang kecil di antara kita, dan tidak menghargai orang yang besar diantara kita, dan tidak menyuruh akan kebajikan dan mencegah akan kemungkaran.”
  2. “Bukankah dari golongan kita orang yang berlaku curang”
  3. “Bukankah dari golonganku orang yang kedengkian dan orang yang suka mengumpat-ngumpat, dan orang yang suka menyelidiki celah orang lain, maka dia adalah aku dari golongannya”
  4.  “Bukanlah dari golongan kita orang yang menjalankan sunnah (perbuatan) yang bukan sunah kita.”
  5. “Tidak ada bagi orang Mukmin laki-laki dan Mukmin perempuan, apabila Allah dan rasulnya telah memutuskan sesuatu perkara akan mempunyai pemilih dari diri sendiri dan barang siapa menginginkan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah tersesat dengan kesesatan yang terang.”
  6. “Demi Tuhanmu! tiada Iman sehingga mereka meminta hukum kepadamu di dalam apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tiada mendapati pada diri diri mereka keberatan dari apa yang telah kamu putuskan itu, dan mereka sama menyerah dengan sesungguh-sungguhnya.

B. Ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengadakan Iman.

  1. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara dengan yang lain”
  2. “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu apabila disebut nama Allah merasa merasa takut hati-hati mereka, dan apabila dibaca atas mereka ayat-ayatNya menambah mereka kepada Iman. dan kepada Tuhan mereka bertawakal.”
  3. “orang mukmin laki-laki dan perempuan itu setengahnya atau sebagian menjadi kekasih setengahnya sebagian mereka menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran dan mereka sama menjalankan salat dan memberikan zakat dan mereka sama menurut kepada Allah dan pesuruhNya, mereka itu akan diberi Rahmat oleh Allah. Sungguh Allah itu yang Maha Mulia lagi Bijaksana.
  4. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu ialah mereka yang beriman kepada Allah dan pesuruhNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta benda mereka dan dengan diri mereka di dalam jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.
  5. “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah mereka yang beriman kepada Allah dan pesuruhNya, dan apabila mereka beserta Rasul di atas suatu perkara yang berkumpul, tiada akan pergi melainkan dengan izinNya sungguh mereka orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan pesuruhNya.
  6. “Janganlah kamu sekalian berkecil hati dan merasa susah, kamu itulah orang-orang yang mulia jikalau kamu sekalian itu orang yang beriman.
  7. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami, ialah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat kami mereka merobohkan diri dengan bersujud dan mereka mensucikan dengan memuji kepada Tuhannya, Dan tiada mereka takabur. mereka sama meninggalkan tempat tidur mereka sambil berdo’a kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan pengharapan dan dari apa yang kami rezekikan itu, mereka belanjakan.”
  8. “Satu-satunya orang Mukmin kepada orang Mukmin lainnya itu sebagai dinding (tembok), satu kepada lainnya kuat menguatkan.
  9. “Orang Mukmin itu manfaat, kalau engkau berjalan dengannya ia memberi manfaat kepadamu, jika engkau meminta musyawarah ia memberi manfaat kepadamu, kalau engkau bergaul dengannya ia pun memberi manfaat kepada mu semua perkaranya itu manfaat.”
  10. “Orang Mukmin itu ialah orang yang boleh dipercayai manusia di dalam harta dan diri mereka. Dan orang Muhajir itu orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa-dosa.”
  11. “Orang Mukmin itu saudara orang Mukmin, tidak akan meninggalkan memberi nasihat, meskipun bagaimana saja keadaannya.”
  12. “Orang Mukmin itu serba ringan dan halus budi pekertinya,sehingga disangka bodoh sebabnya.”
  13. “Haya (rasa malu menjalankan barang yang tidak baik) dan iman itu senantiasa bergandeng, tiada dapat pisah melainkan bersama-sama.”

Mau’idhah dengan mengambil riwayat

Riwayat itu adalah satu faktor yang utama dan penting di dalam pendidikan. Karena dia dapat memberikan atsar atau bekas yang besar di dalam hati. Oleh sebab itulah maka ayat-ayat Al-Qur’an mengandung mau’idhah dengan berwujud cerita. lebih dari separuh banyaknya.

Jika akan menambah ketebalan Iman, hendaklah kita mendatangkan riwayat-riwayat dari Al-Qur’an dan lain-lainnya yang baru yang berhubungan dengan keteguhan Iman seperti:

  1. Keteguhan Iman nabi Ibrahim alaihissalam waktu diancam akan dirajam oleh orang tuanya, dan waktu dia dimasukkan ke dalam api oleh raja Namrud serta kaum-kaumnya.
  2. Keteguhan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail waktu menerima perintah dari Allah supaya Nabi Ibrahim mengorbankan Nabi Ismail.
  3. keteguhan Iman Nabi Musa waktu menerima perintah dari Allah supaya ia kembali ke Mesir yang ketika itu Nabi Musa sendiri terancam bahaya maut dari Fir’aun.
  4. Keteguhan Iman Nabi Musa waktu dikejar-kejar oleh Firaun dengan bala tentaranya.
  5. Keteguhan Iman Thalud waktunya berhadapan dengan Raja Jalut yang gagah dan perkasa itu, sedang bala tentaranya sendiri banyak yang melarikan diri.
  6. keteguhan Iman nabi besar muhammad shallallahu alaihi wasallam waktu dianiaya, diboikot oleh orang kafir Mekah.
  7. keteguhan Iman Rasulullah sewaktu dijanjikan akan diberi harta benda dan kepangkatan yang tinggi oleh orang-orang kafir jika beliau suka meninggalkan agamanya
  8. Keteguhan Iman Ali jasir waktu disiksa sebab ia tiada mau disuruh murtad

9.keteguhan Iman Baginda nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan pengikut-pengikutnya waktu baiat Ridlwan

  1. keteguhan Iman nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan pengikut-pengikutnya di dalam waktu perang berhadapan dengan kafirin, dan lain sebagainya bagaimana cerita dan tarifnya yang cukup jelas lah dilihat dalam kitab tarikhul anbiya dan tarikhul Islam.

 menjaga supaya cahaya Iman senantiasa cemerlang

Tiap-tiap orang mukmin itu tentu mempunyai benih iman yang bercahaya di dalam hatinya. Cahaya iman itu semakin lama Adella semakin besar dan cemerlang, tetapi ada juga yang semakin lama semakin kecil dan padam.

Adapun perkara-perkara yang dapat menutup dan memadamkan iman itu, ialah perbuatan maksiat. orang yang menjalankan maksiat maka kemaksiatan  mengurangkan cahaya imannya.sehingga kalau ia telah suka dan senantiasa menjalankan maksiat maka cahaya imannya menjadi berkurang sedikit-sedikit sampai padam sama sekali (naudzubillahimindzalik).

untuk menjaga jangan sampai terjadi maksiat maka rasa (khauf) atau takut kepada Allah harus ditanam dan dikuatkan benar-benar dalam hati. Karena khauf itulah suatu dinding yang sangat teguh, yang dapat mencegah dari kemaksiatan.

Jalan untuk menguatkan khauf itu:

  1. Dengan mengambil ibarat-ibarat atau (percontohan-percontohan memberi nasihat meskipun bagaimana saja keadaannya) dari cerita-cerita yang menerangkan kejadiannya orang yang bermaksiat.
  2. Melemahkan hawa nafsu dan syaitan.

Perangilah perintah-perintah nafsu dosa syaitan, meskipun tampak kedua-duanya itu bernasihat”

Cukuplah rasanya keterangan yang sesingkat ini,dan marilah segera kita amalkan bersama dengan memohon pertolongan dari Allah, Tuhan yang Rohman dan Rohim.

Oleh : KH.M. Mansoer

 

Baca juga : Wawasan Fikih Dakwah 

https://m.facebook.com/public/Majelis-Tabligh-Muhammadiyah     IG:Majelistabligh

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker