AkhlaqAl-IslamBeritaKemuhammadiyahan

Ulama Selain Membimbing Masyarakat Juga Menjadi Seorang Pemimpin.

K.H. Ahmad Dahlan merupakan seorang ulama sekaligus sosok pemimpin. Beliau menggeser pandangangan tentang ulama yang sebelumnya hanya pembina umat menjadi sosok pemimpin. Beliau berpandangan bahwa tugas ulama selain membimbing masyarakat juga berperan menjadi seorang pemimpin. Dalam hal kepemimpinan, K.H. Ahmad Dahlan tertarik dengan ayat ke 124 surat Al-Baqarah :

وَاِذِ ابْتَلٰٓى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”

Dalam ayat diatas, Nabi Ibrahim a’laihissalam diuji dengan beberapa kalimat berupa perintah dan larangan. Setelah diberikan berupa kalimat, Allah SWT menyatakan bahwa Ibrahim AS berhasil melaksanakannya. Karena keberhasilan Ibrahim AS, Beliau dijadikan sebagai imam atau pemimpin bagi umat manusia. Beliau dipilih langsung oleh Allah SWT untuk menjadi seorang pemimpin. Ayat ini menyatakan akan pentingnya ujian bagi calon pemimpin sebelum diangkat menjadi seorang pemimpin. Ujian ini dilakukan untuk membuktikan apakah calon tersebut layak diangkat menjadi pemimpin serta mencari tahu bagaimana kualitas kepemimpinannya.

Terpilihnya Nabi Ibrahim Sebagai pemimpin menarik perhatian K.H. Ahmad Dahlan. Bukan hanya itu, beliau juga tertarik tentang Nabi Ibrahim yang menanyakan nasib anak cucunya kelak “dan (juga) anak cucuku?”. Dari ayat diatas beliau menyadari pentingnya kader atau pengkaderan. Pemimpin yang baik tidak hanya memikirkan untuk saat ini atau masa ini, melainkan ia juga harus memikirkan bagaimana nasib penerusnya di masa yang akan datang.

Pertanyaan Nabi Ibrahim dijawab oleh Allah SWT dengan “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim”. Zalim adalah seseorang yang hatinya gelap. Seseorang yang hatinya gelap akan berujung pada ucapannya yang gelap, pikirannya yang gelap, perasaanya gelap, tindakannya pun juga gelap. Allah menyatakan bahwa keturunan Nabi Ibrahim juga boleh menjadi pemimpin, akan tetapi tentu ada syaratnya yaitu harus lulus ujian seperti yang diujikan kepada Nabi Ibrahim.

Jika keturunan Nabi Ibrahim tidak lulus ujian, maka tidak layak menjadi pemimpin. Hal ini menjadi renungan bagi K.H. Ahmad Dahlan bahwa tidak semua orang bisa dijadikan kader di kalangan Muhammadiyah. Meskipun memiliki popularitas, pangkat, dan kekayaan sekalipun, jika tidak lulus ujian Allah SWT maka dia tidak layak menjadi kader pemimpin Muhammadiyah.

Tonton Selengkapnya : https://youtu.be/-mJoia_hHNA

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker